{"id":247,"date":"2013-11-25T04:42:00","date_gmt":"2013-11-25T04:42:00","guid":{"rendered":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=247"},"modified":"2013-11-25T04:42:00","modified_gmt":"2013-11-25T04:42:00","slug":"teh-bunga-tapak-dara-sebagai-minuman-alternatif-pencegah-kanker","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=247","title":{"rendered":"Teh Bunga Tapak Dara sebagai Minuman alternatif Pencegah Kanker"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: center;\">\n<b>Pembuatan Teh Bunga Tapak Dara sebagai Minuman alternatif Pencegah Kanker<\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: center;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: center;\">\nOleh : <\/div>\n<div style=\"text-align: center;\">\n<i>Arif Yoga Pratama, Ari Purnomo<\/i><\/div>\n<div style=\"text-align: center;\">\n<\/div>\n<p><b>Latar Belakang<\/b><\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<a href=\"http:\/\/jepretanhape.files.wordpress.com\/2009\/03\/bunga-tapak-dara-4096.jpg\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" border=\"0\" height=\"320\" src=\"http:\/\/jepretanhape.files.wordpress.com\/2009\/03\/bunga-tapak-dara-4096.jpg\" width=\"240\" \/><\/a><\/div>\n<p><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nIndonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas, mempunyai kurang lebih 35.000 pulau yang besar dan kecil dengan keanekaragaman jenis flora dan fauna yang sangat tinggi. Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 sampai dengan 150 famili tumbuh-tumbuhan, dan dari jumlah tersebut sebagian besar mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai tanaman industri, tanaman buah-buahan, tanaman rempahrempah dan tanaman obat-obatan (Nasution, 1992).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTapakdara (Catharanthus roseus) banyak dipelihara sebagai tanaman hias. Tapakdara sering dibedakan menurut jenis bunganya, yaitu putih dan merah. Tumbuhan semak tegak yang dapat mencapai ketinggian batang sampai 100 cm ini, sebenarnya merupakan tumbuhan liar yang biasa tumbuh subur di padang atau dipedesaan beriklim tropis. Ciri-ciri tumbuhan Tapakdara : memiliki batang yang berbentuk bulat dengan diameter berukuran kecil, berkayu, beruas dan bercabang serta berambut. Daunnya berbentuk bulat telur, berwarna hijau dan diklasifikasikan berdaun tunggal. Bunganya yang indah menyerupai terompet dengan permukaan berbulu halus. Tapakdara juga memiliki rumah biji yang berbentuk silindris menggantung pada batang. Penyebaran tumbuhan ini melalui biji.Tapak dara (Catharantus roseus (L) G. Don) merupakan jenis tanaman yang digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Tanaman tapak dara (Catharantus roseus (L) G. Don) mengandung alkaloid vinblastine, vincristine,leurosine, catharanthine, dan lochnerine yang berkhasiat sebagai antikanker(Hariana, 2006).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nLeukemia dalah penyakit kanker ganas yang menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow). Sumsum tulang atau bone marrow ini dalam tubuh manusia memproduksi tiga type sel darah diantaranya sel darah putih (berfungsi sebagai daya tahan tubuh melawan infeksi), sel darah merah (berfungsi membawa oxygen kedalam tubuh) dan platelet (bagian kecil sel darah yang membantu proses pembekuan darah).Pengobatan dan pencegahan secara medis terhadap penyakit kanker melalui pengangkatan tumor, kemoterapi atau radioterapi, diakui oleh para pakar sering ditemui kendala. Pasalnya, tak seberapa lama seusai pengobatan, kankernya bisa timbul kembali. Pakar penyakit kanker Walter H Lewis, dalam Medical Botany, menyebutkan, ada beberapa faktor yang berperan dalam tumbuhnya kanker. Antara lain gangguan hormonal (terutama estrogen pada wanita), luka berat, kegagalan dalam perawatan setelah kehamilan, penyakit peradangan tumor jaringan ikat(fibrocytis) dan gangguan virus pada kelenjar susu. Berkaitan dengan kejadian- kejadian seperti ini, sebagian penderita kanker mengubah cara pengobatan dengan tanaman (herb therapy) dengan bermacam-macam alasan. Cara pengobatan alternatif dengan tanaman ternyata banyak membantu para penderita, sehingga dilakukanlah upaya-upaya penelitian dalam bidang etnobotani maupun farmakologinya, terhadap beberapa tumbuhan yang digunakan. Berdasar ulasan tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian tanaman tapak dara sebagai obat leukemia. Salah satunya yaitu dengan pemanfaatan daun dan bunga tapak dara sebagai pembuatan teh yang kaya akan antioksidan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br \/>\n<b><i>Rumusan Masalah<\/i><\/b><br \/>\nAdapun yang menjadi pokok permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li>Bagaimana proses pembuatan teh daun dan bunga tapak dara  (Catharanthus roseus (L.) G. Don) ?<\/li>\n<li>Bagaimana kualitas teh daun dan bunga tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don) ditijau dari aktifitas antioksidan,kadar air, abu,dan phenol ?<\/li>\n<\/ol>\n<p><\/p>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo2; text-indent: -18.0pt;\">\n<!--[if !supportLists]--><b><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">1.<span style=\"font-family: 'Times New Roman'; font-size: 7pt; font-weight: normal; line-height: normal;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<br \/>\n<\/span><\/span><\/b><!--[endif]--><b><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Deskripsi<br \/>\nTeori<o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 63.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l4 level2 lfo5; text-indent: -14.15pt;\">\n<!--[if !supportLists]--><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">a.<span style=\"font-family: 'Times New Roman'; font-size: 7pt; line-height: normal;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><!--[endif]--><b><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Tapak Dara (<i>Catharanthus<br \/>\nroseus <\/i><i>(L.) G. Don<\/i><\/span><\/b><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">)<\/span><\/i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 63.8pt; text-indent: 36pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Tapak<br \/>\ndara banyak dipelihara sebagai tanaman hias. Tanaman ini merupakan tumbuhan<br \/>\nsemak tegak yang mencapai ketinggian antara 100 cm \u2013 120 cm dan juga merupakan<br \/>\ntumbuhan liar yang biasa tumbuh subur di padang atau di pedesaan beriklim<br \/>\ntropis. Batang tanaman tapak dara berbentuk bulat dengan diameter berukuran<br \/>\nkecil, berkayu, beruas, bercabang, serta berambut. Daunnya agak tebal dan<br \/>\nmengkilap, berbentuk bulat telur dan tersusun berhadapan, berwarna hijau tua,<br \/>\ndiklasifikasikan berdaun tunggal, jumlah daun banyak sehingga terkesan rimbun.<br \/>\nBunganya yang indah ada yang berwarna merah keunguan atau putih, mahkota<br \/>\nberjumlah lima, merupakan bunga majemuk yang keluar dari ujung tangkai maupun<br \/>\nketiak daun (Hariana, 2006) (Gambar 1).<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 53.85pt; text-indent: 36pt;\">\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 144.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-indent: 36.0pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">Nama umum<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<table align=\"left\" border=\"0\" cellpadding=\"0\" style=\"margin-left: 6.75pt; margin-right: 6.75pt; mso-cellspacing: 1.5pt; mso-table-anchor-horizontal: margin; mso-table-anchor-vertical: paragraph; mso-table-left: center; mso-table-lspace: 9.0pt; mso-table-rspace: 9.0pt; mso-table-top: 9.3pt; mso-yfti-tbllook: 1184;\">\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;\" valign=\"top\">\n<div style=\"line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-element-anchor-horizontal: margin; mso-element-anchor-vertical: paragraph; mso-element-frame-hspace: 9.0pt; mso-element-left: center; mso-element-top: 9.3pt; mso-element-wrap: around; mso-element: frame; mso-height-rule: exactly;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">Indonesia:<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<\/td>\n<td style=\"padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;\" valign=\"top\">\n<div style=\"line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-element-anchor-horizontal: margin; mso-element-anchor-vertical: paragraph; mso-element-frame-hspace: 9.0pt; mso-element-left: center; mso-element-top: 9.3pt; mso-element-wrap: around; mso-element: frame; mso-height-rule: exactly;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">Tapak dara, rutu-rutu, kembang<br \/>\n  serdadu<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;\" valign=\"top\">\n<div style=\"line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-element-anchor-horizontal: margin; mso-element-anchor-vertical: paragraph; mso-element-frame-hspace: 9.0pt; mso-element-left: center; mso-element-top: 9.3pt; mso-element-wrap: around; mso-element: frame; mso-height-rule: exactly;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">Inggris:<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<\/td>\n<td style=\"padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;\" valign=\"top\">\n<div style=\"line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-element-anchor-horizontal: margin; mso-element-anchor-vertical: paragraph; mso-element-frame-hspace: 9.0pt; mso-element-left: center; mso-element-top: 9.3pt; mso-element-wrap: around; mso-element: frame; mso-height-rule: exactly;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">Madagascar periwinkle, rose<br \/>\n  periwinkle<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;\" valign=\"top\">\n<div style=\"line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-element-anchor-horizontal: margin; mso-element-anchor-vertical: paragraph; mso-element-frame-hspace: 9.0pt; mso-element-left: center; mso-element-top: 9.3pt; mso-element-wrap: around; mso-element: frame; mso-height-rule: exactly;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">Melayu:<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<\/td>\n<td style=\"padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;\" valign=\"top\">\n<div style=\"line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-element-anchor-horizontal: margin; mso-element-anchor-vertical: paragraph; mso-element-frame-hspace: 9.0pt; mso-element-left: center; mso-element-top: 9.3pt; mso-element-wrap: around; mso-element: frame; mso-height-rule: exactly;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">kemunting cina<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;\" valign=\"top\">\n<div style=\"line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-element-anchor-horizontal: margin; mso-element-anchor-vertical: paragraph; mso-element-frame-hspace: 9.0pt; mso-element-left: center; mso-element-top: 9.3pt; mso-element-wrap: around; mso-element: frame; mso-height-rule: exactly;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">Vietnam:<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<\/td>\n<td style=\"padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;\" valign=\"top\">\n<div style=\"line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-element-anchor-horizontal: margin; mso-element-anchor-vertical: paragraph; mso-element-frame-hspace: 9.0pt; mso-element-left: center; mso-element-top: 9.3pt; mso-element-wrap: around; mso-element: frame; mso-height-rule: exactly;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">hoa hai dang<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;\" valign=\"top\">\n<div style=\"line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-element-anchor-horizontal: margin; mso-element-anchor-vertical: paragraph; mso-element-frame-hspace: 9.0pt; mso-element-left: center; mso-element-top: 9.3pt; mso-element-wrap: around; mso-element: frame; mso-height-rule: exactly;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">Pilipina:<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<\/td>\n<td style=\"padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;\" valign=\"top\">\n<div style=\"line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-element-anchor-horizontal: margin; mso-element-anchor-vertical: paragraph; mso-element-frame-hspace: 9.0pt; mso-element-left: center; mso-element-top: 9.3pt; mso-element-wrap: around; mso-element: frame; mso-height-rule: exactly;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">Tsitsirika<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;\" valign=\"top\">\n<div style=\"line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-element-anchor-horizontal: margin; mso-element-anchor-vertical: paragraph; mso-element-frame-hspace: 9.0pt; mso-element-left: center; mso-element-top: 9.3pt; mso-element-wrap: around; mso-element: frame; mso-height-rule: exactly;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">Cina:<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<\/td>\n<td style=\"padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;\" valign=\"top\">\n<div style=\"line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-element-anchor-horizontal: margin; mso-element-anchor-vertical: paragraph; mso-element-frame-hspace: 9.0pt; mso-element-left: center; mso-element-top: 9.3pt; mso-element-wrap: around; mso-element: frame; mso-height-rule: exactly;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">chang chun hua<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 36.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-indent: 36.0pt;\">\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<a href=\"http:\/\/jepretanhape.files.wordpress.com\/2009\/03\/bunga-tapak-dara-4096.jpg\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" border=\"0\" height=\"320\" src=\"http:\/\/jepretanhape.files.wordpress.com\/2009\/03\/bunga-tapak-dara-4096.jpg\" width=\"240\" \/><\/a><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">&nbsp;<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div align=\"center\" style=\"line-height: 150%; text-align: center;\">\n<span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-language: IN; mso-no-proof: yes;\"><!--[if gte vml 1]><v:shapetype coordsize=\"21600,21600\" o:spt=\"75\" o:preferrelative=\"t\"\n path=\"m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe\" filled=\"f\" stroked=\"f\">\n <v:stroke joinstyle=\"miter\"\/>\n <v:formulas>\n  <v:f eqn=\"if lineDrawn pixelLineWidth 0\"\/>\n  <v:f eqn=\"sum @0 1 0\"\/>\n  <v:f eqn=\"sum 0 0 @1\"\/>\n  <v:f eqn=\"prod @2 1 2\"\/>\n  <v:f eqn=\"prod @3 21600 pixelWidth\"\/>\n  <v:f eqn=\"prod @3 21600 pixelHeight\"\/>\n  <v:f eqn=\"sum @0 0 1\"\/>\n  <v:f eqn=\"prod @6 1 2\"\/>\n  <v:f eqn=\"prod @7 21600 pixelWidth\"\/>\n  <v:f eqn=\"sum @8 21600 0\"\/>\n  <v:f eqn=\"prod @7 21600 pixelHeight\"\/>\n  <v:f eqn=\"sum @10 21600 0\"\/>\n <\/v:formulas>\n <v:path o:extrusionok=\"f\" gradientshapeok=\"t\" o:connecttype=\"rect\"\/>\n <o:lock v:ext=\"edit\" aspectratio=\"t\"\/>\n<\/v:shapetype><v:shape id=\"Picture_x0020_1\" o:sp type=\"#_x0000_t75\"\n style='width:195.75pt;height:160.5pt;visibility:visible;mso-wrap-style:square'>\n <v:imagedata src=\"file:\/\/\/C:UsersCHEM40~1AppDataLocalTempmsohtmlclip1\u00001clip_image001.png\"\n  o:title=\"\"\/>\n<\/v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<b><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Gambar<br \/>\n1. <\/span><\/b><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Daun Tapak Doro<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; text-indent: 36.0pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">(sumber:http:\/\/jepretanhape.files.wordpress.com\/2009\/03\/bunga-tapak-dara-4096.jpg)<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Adapun<br \/>\nklasifikasi tanaman Tapak Doro, yaitu:<br \/>\nKingdom&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Plantae (Tumbuhan)<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 144.0pt; text-indent: -72.0pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Subkingdom&nbsp;&nbsp;&nbsp; :<br \/>\nTracheobionta (Tumbuhan&nbsp;&nbsp; berpembuluh)<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Super Divis&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Spermatophyta (Menghasilkan bij<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Divisi&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 108.0pt; mso-add-space: auto; text-indent: -36.0pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Kelas&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Magnoliopsida (berkeping dua \/<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 108.0pt; mso-add-space: auto; text-indent: 36.0pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">dikotil)<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 70.9pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Sub Kelas&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Asteridae<br \/>\n&nbsp;Ordo&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Gentianales<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Famili&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : <\/span><span lang=\"EN-US\"><a href=\"http:\/\/www.plantamor.com\/index.php?plantsearch=Apocynaceae\"><span style=\"color: windowtext; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; text-decoration: none; text-underline: none;\">Apocynaceae<\/span><\/a><\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/>\n<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Genus&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : <\/span><span lang=\"EN-US\"><a href=\"http:\/\/www.plantamor.com\/index.php?plantsearch=Catharanthus\"><span style=\"color: windowtext; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Catharanthus<\/span><\/a><\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/>\n&nbsp;Spesies&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : <i>Catharanthus<br \/>\nroseus<\/i> (L.) G. Don<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">&nbsp;(Gembong,<br \/>\n1994)<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;\">\n<span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Tapak<br \/>\ndara mengandung lebih dari 70 macam alkaloid. 2 jenis alkaloid yang ditemukan<br \/>\npada daunnya, <\/span><\/span><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">vinblastine<\/span><\/i><span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/>\ndan <\/span><\/span><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">vincristine<\/span><\/i><span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">,<br \/>\nmerupakan <\/span><\/span><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">anti kanker<\/span><\/i><span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/>\naktif yang dapat digunakan pada kemoterapi. Vinblastine digunakan untuk<br \/>\npenderita <\/span><\/span><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Hodgkin\u2019s disease<\/span><\/i><span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/>\ndan vincristine digunakan untuk anak-anak penderita <\/span><\/span><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">leukemia<\/span><\/i><span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">. Dengan digunakannya vincristine,<br \/>\nanak-anak penderita leukimia yang selamat meningkat dari 20 menjadi 80 persen.<br \/>\nVincristine, disamping dipakai dalam pengobatan leukemia, juga kanker payudara,<br \/>\ndan tumor ganas lainnya. Selain itu ada juga kandungan <\/span><\/span><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Vindesine<\/span><\/i><span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"> yang dipakai dalam pengobatan leukemia<br \/>\npada anak-anak, dan penderita tumor pigmen, dan <\/span><\/span><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Vinorelbine<\/span><\/i><span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"> yang seringkali digunakan sebagai bahan<br \/>\npengobatan untuk mencegah pembelahan kelenjar. Selain vinblastine (VLB) dan<br \/>\nvincristine (VCR), alkaloid anti kanker lainnya adalah leurosine (VLR),<br \/>\nvincadioline, leurosidine, catharanthine, dan lochnerine. Sementara alkaloid<br \/>\nberefek <\/span><\/span><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">hipoglikemik<\/span><\/i><span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/>\n(<\/span><\/span><i><span lang=\"EN-US\" style=\"font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">menurunkan<br \/>\nkadar gula darah<\/span><\/i><span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">)<br \/>\nadalah leurosine, catharanthine, lochnerine, tetrahydroalstonine, vindoline,<br \/>\ndan vindolinine. (h<\/span><\/span><span lang=\"EN-US\"><a href=\"ttp:\/\/kembangbungaku.blogspot.com\/2009\/03\/tapak-dara-catharanthus-r\"><span style=\"color: windowtext; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; text-decoration: none; text-underline: none;\">ttp:\/\/kembangbungaku.blogspot.com\/2009\/03\/tapak-dara-catharanthus-r<\/span><\/a><\/span><span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">oseus-l-g-don.html)<\/span><\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; text-indent: 36pt;\">\n<span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><br \/><\/span><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 49.65pt; text-indent: -18pt;\">\n<!--[if !supportLists]--><span lang=\"EN-US\">b.<span style=\"font-size: 7pt; line-height: normal;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<br \/>\n<\/span><\/span><!--[endif]--><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Antioksidan<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 31.65pt; text-indent: 36pt;\">\n<span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-bidi-theme-font: minor-bidi;\">Antioksidan adalah senyawa-senyawa yang mampu<br \/>\nmenghilangkan, membersihkan, menahan pembentukan ataupun memadukan efek spesies<br \/>\noksigen reaktif. Penggunaan senyawa antioksidan juga anti radikal saat ini<br \/>\nsemakin meluas seiring dengan semakin besarnya pemahaman masyarakat tentang<br \/>\nperanannya dalam menghambat penyakit degeneratif seperti penyakit jantung,<br \/>\narteriosclerosis, kanker, serta gejala penuaan. Masalah-masalah ini berkaitan<br \/>\ndengan kemampuan antioksidan untuk bekerja sebagai inhibitor (penghambat)<br \/>\nreaksi oksidasi oleh radikal bebas reaktif yang menjadi salah satu pencetus<br \/>\npenyakit-penyakit di atas (Tahir dkk, 2003).<\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-bidi-theme-font: minor-bidi;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 31.65pt; text-indent: 36pt;\">\n<span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-bidi-theme-font: minor-bidi;\">Tubuh manusia menghasilkan senyawa antioksidan, tetapi<br \/>\njumlahnya sering kali tidak cukup untuk menetralkan radikal bebas yang masuk ke<br \/>\ndalam tubuh (Sofia, 2006; Hernani dan Rahardjo, 2005). Sebagai contoh, tubuh<br \/>\nmanusia dapat menghasilkan <i>Glutathione<\/i>, salah satu antioksidan yang<br \/>\nsangat kuat, hanya tubuh memerlukan asupan vitamin C sebesar 1.000 mg untuk<br \/>\nmemicu tubuh menghasilkan <i>glutathione <\/i>ini. Kekurangan antioksidan dalam<br \/>\ntubuh membutuhkan asupan dari luar. Bila mulai menerapkan pola hidup sebagai<br \/>\nvegetarian akan sangat membantu dalam mengurangi resiko keracunan akibat<br \/>\nradikal bebas. Keseimbangan antara antioksidan dan radikal bebas menjadi kunci<br \/>\nutama pencegahan stress oksidatif dan penyakit-penyakit kronis yang dihasilkan<br \/>\n(Sofia, 2006).<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 49.65pt;\">\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 35.45pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo2; text-indent: -18.0pt;\">\n<!--[if !supportLists]--><b><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">2.<span style=\"font-family: 'Times New Roman'; font-size: 7pt; font-weight: normal; line-height: normal;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<br \/>\n<\/span><\/span><\/b><!--[endif]--><b><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Penelitian<br \/>\nyang Relevan<o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 35.45pt; text-indent: 36pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Penelitian yang&nbsp; telah dilakukan oleh Gunawan, Yohanda,<br \/>\nMoesdarsono Asep Gana Suganda&nbsp; tentang<br \/>\nStudi Perbandingan Kadar Vinblastin dan Vinkristin daun <i>Catharanthus roseus<br \/>\n<\/i>(L) G. Don. Berasal dari Tangerang dan Bandung. alkaloid <i>Catharanthus<br \/>\nroseus<\/i> diekstraksi dari serbuk daun <i>Catharanthus roseus<\/i> dengan<br \/>\npelarut etanol, kloroform, aseton, atau etilasetat dengan metode ekstraksi<br \/>\nsinambung dengan ekstraktor Soxhlet. Pemisahan alkaloid dengan metode<br \/>\nkromatografi lapis tipis dimana fase diam: silika gel G dan silika gel 60 F254.<br \/>\nFase gerak: benzena, kloroform, etil asetat, campuran etil asetat-etanol<br \/>\nabsolut (1:1), campuran etil asetat-etanol absolut (3:1), campuran<br \/>\nkloroform-metanol (7:3), dan campuran kloroform-metanol (9:1). Penampak noda:<br \/>\nsinar ultraviolet. Penetapan kadar alkaloid dengan metode<br \/>\nspektrofotodensitometer: noda kromatogram lapis tipis diukur dengan<br \/>\nspektrofotodensitometer Shimadzu CS-910. Kadar noda zat dihitung dengan kurva<br \/>\nkalibrasi (garis regresi). Penentuan kadar viblastin dan vinkristin dengan<br \/>\nmetode spektrofotodensitometri, dipakai lmax 260 nm (vinblastin) dan 300 nm<br \/>\n(vinkristin). Kadar vinblastin sampel Bandung (9,1 &nbsp;\u00b1 2,1 mg\/g) 6,59%<br \/>\nlebih besar daripada kadar vinblastin sampel Tangerang (8,5 &nbsp;\u00b1 2,5 mg\/g),<br \/>\nsedangkan kadar vinkristin sampel Bandung (8,7 1 &nbsp;\u00b1 2,2 mg\/g) 6,90% lebih<br \/>\nbesar daripada kadar vinkristin sampel Tangerang (8,1 &nbsp;\u00b1 2,6 mg\/g).<\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: IN;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;  &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">(<\/span><span lang=\"EN-US\"><a href=\"http:\/\/bahan-alam.fa.itb.ac.id\/detail.php?id=236\"><span style=\"color: windowtext; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; text-decoration: none; text-underline: none;\">http:\/\/bahan-alam.fa.itb.ac.id\/detail.php?id=236<\/span><\/a><\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">)<\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: IN;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 35.45pt; text-indent: 36pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Penelitian yang&nbsp; telah dilakukan oleh Dingse Pandiangan<br \/>\ntentang Pengaruh Prekursor Triptofan Terhadap Pertumbuhan dan Kandungan<br \/>\nKataratin Kultur Agregat Sel Tapak Dara (<i>Cataranthus roseus<\/i> (L) G.<br \/>\nDon) dalam Erlenmeyer dan Bioreaktor Airlift. Dalam tumbuhan ini terdapat <i>alkaloid<\/i><br \/>\nanti kanker seperti <i>vinblastin, vinkristin, katarantin, leurosidin<\/i> dan<br \/>\n<i>leurosin<\/i>. Semua senyawa anti kanker yang telah teridentifikasi dan<br \/>\nkemudian dikomersialkan kebanyakan berasal dari tumbuhan ini, terutama yang<br \/>\nberbunga putih,\u201d tutur Dingse. Kandungan <i>vinkristin<\/i> pada tapak dara<br \/>\nadalah sebanyak 3 gram\/ton tumbuhan kering, apalagi kandungan <i>vinblastin<\/i><br \/>\nyang lebih rendah lagi. Padahal senyawa ini sangat dibutuhkan sebagai anti<br \/>\nkanker, dan banyak permintaan tinggi untuk menyediakan senyawa ini setiap tahunnya,\u201d<br \/>\njelas Dingse.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 35.45pt; text-indent: 36pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Selain mengandung senyawa<br \/>\nantikanker, tapak dara secara tradisional sudah banyak digunakan untuk<br \/>\nmengobati hipertensi, diabetes, leukimia, pendarahan akibat penurunan jumlah<br \/>\ntrombosit,<i>chorionic epthelioma<\/i>, leukimia <i>limfositik<\/i> akut, leukimia<br \/>\n<i>monositik<\/i> akut, <i>limfosarkoma<\/i> dan <i>sarkoma sel retikulum<\/i>.<\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: IN;\"> <\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">(http:\/\/www.unpad.ac.id\/archives\/36960)<\/span><span style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: IN;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo2; text-indent: -18.0pt;\">\n<!--[if !supportLists]--><b><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">3.<span style=\"font-family: 'Times New Roman'; font-size: 7pt; font-weight: normal; line-height: normal;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<br \/>\n<\/span><\/span><\/b><!--[endif]--><b><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Kerangka<br \/>\nBerpikir<o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 54pt; text-indent: 36pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Leukemia (kanker darah) adalah<br \/>\njenis penyakit kanker yang menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh<br \/>\nsumsum tulang (bone marrow). Sumsum tulang atau bone marrow ini dalam tubuh<br \/>\nmanusia memproduksi tiga type sel darah diantaranya sel darah putih (berfungsi<br \/>\nsebagai daya tahan tubuh melawan infeksi), sel darah merah (berfungsi membawa<br \/>\noxygen kedalam tubuh) dan platelet (bagian kecil sel darah yang membantu proses<br \/>\npembekuan darah). <span>Leukemia umumnya muncul pada diri<br \/>\nseseorang sejak dimasa kecilnya, Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas<br \/>\npenyebabnya telah memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau<br \/>\nabnormal. Normalnya, sel darah putih me-reproduksi ulang bila tubuh<br \/>\nmemerlukannya atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Tubuh manusia akan<br \/>\nmemberikan tanda\/signal secara teratur kapankah sel darah diharapkan<br \/>\nbe-reproduksi kembali.<\/span> <span>Pada kasus <\/span><\/span><span lang=\"EN-US\"><a href=\"http:\/\/www.nurse-ocha.blogspot.com\/2006\/10\/leukaemia-treatment.html\" target=\"new\" rel=\"noopener\"><span style=\"color: windowtext; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; text-decoration: none; text-underline: none;\">leukemia<\/span><\/a><\/span><span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"> (kanker darah), sel darah putih tidak<br \/>\nmerespon kepada tanda\/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan<br \/>\ntidak terkontrol (abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan<br \/>\ndi dalam darah perifer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal<br \/>\nini bila berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sel lainnya, Seseorang<br \/>\ndengan kondisi seperti ini (Leukemia) akan menunjukkan beberapa gejala seperti;<br \/>\nmudah terkena penyakit infeksi, anemia dan perdarahan.<\/span><\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 54pt; text-indent: 36pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Tumbuh-tumbuhan<br \/>\ndi Indonesia terbukti mampu mencegah maupun mengobati kanker. Meski perlu<br \/>\npenelitian dan pengembangan lebih lanjut, sejumlah tanaman seperti kunyit<br \/>\nputih, daun dewa hingga benalu telah digunakan penderita kanker sebagai ikhtiar<br \/>\nmengobati penyakitnya.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-indent: 36pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">Tanaman<br \/>\nyang masih termasuk keluarga Apocynaceae atau kamboja-kambojaan ini mengandung<br \/>\ndua senyawa golongan alkaloid vinka yakni vinkristin dan vinblastin yang<br \/>\nberkhasiat menghambat perbanyakan dan penyebaran sel kanker.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-indent: 36pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">Vinkristin<br \/>\ndigunakan sebagai bahan pengobatan kanker bronkial, tumor ganas pada ginjal,<br \/>\nkanker payudara,<\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\"> leukemia<\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\"> dan berbagai jenis tumor ganas yang<br \/>\nawalnya menyerang urat saraf maupun otot. Tanaman yang di Sumatera disebut<br \/>\nrumput jalang itu juga mengandung alkaloid cabtharanthin yang diperkirakan<br \/>\ndapat mendesak dan melarutkan inti sel kanker.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 54pt; text-indent: 36pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">Oleh<br \/>\nkarena itu ,perlu dilakukam penelitian terhadap tanaman <\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">yang<br \/>\nberpotensi sebagai obat alami. Salah satunya diantara adalah pemanfaatan tapak<br \/>\ndara (<i>Catharanthus roseus <\/i><i>(L.) G.<br \/>\nDon).<\/i> Pemanfaatan daun dan kembang tapak dara sebagai obat leokemia karena tanaman<br \/>\nini murah dan mudah diperoleh. Kandungan kimia dari tanaman ini adalah<\/span><span lang=\"EN-US\"> <\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">senyawa <i>alkaloid<\/i> anti kanker<br \/>\nyang paling utama, yaitu <i>vinkristin<\/i> dan <i>vinblastin<\/i>.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 54pt; text-indent: 36pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Penelitian tantang pemanfaatan<br \/>\ntanaman tapak dara sebagai obat leukemia dilakukan dengan mengeringkan bunga<br \/>\ndan daunya untuk di jadikan teh celup. Untuk mengujian kandungan antioksidan<br \/>\ndalam teh tapak dara menggunakan metode spektofotometer yaitu teh diseduh dalam<br \/>\nair hangat. Air seduhan lalu di uji kandungannya.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 54pt; text-indent: 36pt;\">\n<\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; mso-list: l1 level1 lfo1; text-indent: -18.0pt;\">\n<!--[if !supportLists]--><b><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">A.<span style=\"font-family: 'Times New Roman'; font-size: 7pt; font-weight: normal; line-height: normal;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;<br \/>\n<\/span><\/span><\/b><!--[endif]--><b><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Metode<br \/>\nPenelitian<o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo3; text-indent: -18.0pt;\">\n<!--[if !supportLists]--><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">1.<span style=\"font-family: 'Times New Roman'; font-size: 7pt; line-height: normal;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><!--[endif]--><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Jenis<br \/>\npenelitian<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 54pt; text-indent: 36pt;\">\n<span lang=\"DE\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ansi-language: DE;\">Jenis<br \/>\nPenelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen yaitu&nbsp; pengenbangan yaitu mengembangkan suatu obat<br \/>\nalami untuk penyakit leukimia denga memanfaatkan bahan alam dari tanaman <\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">tapak<br \/>\ndara (<i>Catharanthus roseus <\/i><i>(L.) G.<br \/>\nDon)<\/i>.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo3; text-indent: -18.0pt;\">\n<!--[if !supportLists]--><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">2.<span style=\"font-family: 'Times New Roman'; font-size: 7pt; line-height: normal;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><!--[endif]--><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Subjek<br \/>\ndan Objek<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo4; text-indent: -18.0pt;\">\n<!--[if !supportLists]--><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">a.<span style=\"font-family: 'Times New Roman'; font-size: 7pt; line-height: normal;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><!--[endif]--><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Subjek<br \/>\nPenelitian<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 54pt; text-indent: 36pt;\">\n<span lang=\"DE\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ansi-language: DE;\">Subjek<br \/>\npenelitian adalah teh daun dan bunga <\/span><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">tapak dara (<i>Catharanthus<br \/>\nroseus <\/i><i>(L.) G. Don)<\/i>.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 54pt; text-indent: 36pt;\">\n<span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Objek<br \/>\npenelitian adalah berapa aktifitas antioksidan teh daun dan bunga tapak dara (<i>Catharanthus<br \/>\nroseus <\/i><i>(L.) G. Don)<\/i>.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo3; text-indent: -18.0pt;\">\n<!--[if !supportLists]--><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;\">3.<span style=\"font-family: 'Times New Roman'; font-size: 7pt; line-height: normal;\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/span><\/span><!--[endif]--><span lang=\"EN-US\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;\">Waktu<br \/>\ndan pelaksanaan<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<p><\/p>\n<div style=\"line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-indent: 36.0pt;\">\n<span lang=\"DE\" style=\"font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ansi-language: DE;\">Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA UNY selama&nbsp; bulan April sampai bulan-Juli 2012.<o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<p><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nDownload full Proposal<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nPic <a href=\"http:\/\/jepretanhape.wordpress.com\/2009\/03\/21\/bunga-tapak-dara-mini\/\">here<\/a><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pembuatan Teh Bunga Tapak Dara sebagai Minuman alternatif Pencegah Kanker Oleh : Arif Yoga Pratama, Ari Purnomo Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas, mempunyai kurang lebih 35.000 pulau yang besar dan kecil dengan keanekaragaman jenis flora dan fauna yang sangat tinggi. Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 sampai dengan 150 famili tumbuh-tumbuhan, dan dari jumlah tersebut sebagian besar mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai tanaman industri, tanaman buah-buahan, tanaman rempahrempah dan tanaman obat-obatan (Nasution, 1992). Tapakdara (Catharanthus roseus) banyak dipelihara sebagai tanaman hias. Tapakdara sering dibedakan menurut jenis bunganya, yaitu putih dan merah. Tumbuhan semak tegak yang dapat mencapai ketinggian batang sampai 100 cm ini, sebenarnya merupakan tumbuhan liar yang biasa tumbuh subur di padang atau dipedesaan beriklim tropis. Ciri-ciri tumbuhan Tapakdara : memiliki batang yang berbentuk bulat dengan diameter berukuran kecil, berkayu, beruas dan bercabang serta berambut. Daunnya berbentuk bulat telur, berwarna hijau dan diklasifikasikan berdaun tunggal. Bunganya yang indah menyerupai terompet dengan permukaan berbulu halus. Tapakdara juga memiliki rumah biji yang berbentuk silindris menggantung pada batang. Penyebaran tumbuhan ini melalui biji.Tapak dara (Catharantus roseus (L) G. Don) merupakan jenis tanaman yang digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Tanaman tapak dara (Catharantus roseus (L) G. Don) mengandung alkaloid vinblastine, vincristine,leurosine, catharanthine, dan lochnerine yang berkhasiat sebagai antikanker(Hariana, 2006). Leukemia dalah penyakit kanker ganas yang menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow). Sumsum tulang atau bone marrow ini dalam tubuh manusia memproduksi tiga type sel darah diantaranya sel darah putih (berfungsi sebagai daya tahan tubuh melawan infeksi), sel darah merah (berfungsi membawa oxygen kedalam tubuh) dan platelet (bagian kecil sel darah yang membantu proses pembekuan darah).Pengobatan dan pencegahan secara medis terhadap penyakit kanker melalui pengangkatan tumor, kemoterapi atau radioterapi, diakui oleh para pakar sering ditemui kendala. Pasalnya, tak seberapa lama seusai pengobatan, kankernya bisa timbul kembali. Pakar penyakit kanker Walter H Lewis, dalam Medical Botany, menyebutkan, ada beberapa faktor yang berperan dalam tumbuhnya kanker. Antara lain gangguan hormonal (terutama estrogen pada wanita), luka berat, kegagalan dalam perawatan setelah kehamilan, penyakit peradangan tumor jaringan ikat(fibrocytis) dan gangguan virus pada kelenjar susu. Berkaitan dengan kejadian- kejadian seperti ini, sebagian penderita kanker mengubah cara pengobatan dengan tanaman (herb therapy) dengan bermacam-macam alasan. Cara pengobatan alternatif dengan tanaman ternyata banyak membantu para penderita, sehingga dilakukanlah upaya-upaya penelitian dalam bidang etnobotani maupun farmakologinya, terhadap beberapa tumbuhan yang digunakan. Berdasar ulasan tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian tanaman tapak dara sebagai obat leukemia. Salah satunya yaitu dengan pemanfaatan daun dan bunga tapak dara sebagai pembuatan teh yang kaya akan antioksidan. Rumusan Masalah Adapun yang menjadi pokok permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimana proses pembuatan teh daun dan bunga tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don) ? Bagaimana kualitas teh daun dan bunga tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don) ditijau dari aktifitas antioksidan,kadar air, abu,dan phenol ? 1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Deskripsi Teori a.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tapak Dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don) Tapak dara banyak dipelihara sebagai tanaman hias. Tanaman ini merupakan tumbuhan semak tegak yang mencapai ketinggian antara 100 cm \u2013 120 cm dan juga merupakan tumbuhan liar yang biasa tumbuh subur di padang atau di pedesaan beriklim tropis. Batang tanaman tapak dara berbentuk bulat dengan diameter berukuran kecil, berkayu, beruas, bercabang, serta berambut. Daunnya agak tebal dan mengkilap, berbentuk bulat telur dan tersusun berhadapan, berwarna hijau tua, diklasifikasikan berdaun tunggal, jumlah daun banyak sehingga terkesan rimbun. Bunganya yang indah ada yang berwarna merah keunguan atau putih, mahkota berjumlah lima, merupakan bunga majemuk yang keluar dari ujung tangkai maupun ketiak daun (Hariana, 2006) (Gambar 1). Nama umum Indonesia: Tapak dara, rutu-rutu, kembang serdadu Inggris: Madagascar periwinkle, rose periwinkle Melayu: kemunting cina Vietnam: hoa hai dang Pilipina: Tsitsirika Cina: chang chun hua &nbsp; Gambar 1. Daun Tapak Doro (sumber:http:\/\/jepretanhape.files.wordpress.com\/2009\/03\/bunga-tapak-dara-4096.jpg) Adapun klasifikasi tanaman Tapak Doro, yaitu: Kingdom&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Plantae (Tumbuhan) Subkingdom&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Tracheobionta (Tumbuhan&nbsp;&nbsp; berpembuluh) Super Divis&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Spermatophyta (Menghasilkan bij Divisi&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Magnoliopsida (berkeping dua \/ dikotil) Sub Kelas&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Asteridae &nbsp;Ordo&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Gentianales Famili&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Apocynaceae Genus&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Catharanthus &nbsp;Spesies&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Catharanthus roseus (L.) G. Don &nbsp;(Gembong, 1994) Tapak dara mengandung lebih dari 70 macam alkaloid. 2 jenis alkaloid yang ditemukan pada daunnya, vinblastine dan vincristine, merupakan anti kanker aktif yang dapat digunakan pada kemoterapi. Vinblastine digunakan untuk penderita Hodgkin\u2019s disease dan vincristine digunakan untuk anak-anak penderita leukemia. Dengan digunakannya vincristine, anak-anak penderita leukimia yang selamat meningkat dari 20 menjadi 80 persen. Vincristine, disamping dipakai dalam pengobatan leukemia, juga kanker payudara, dan tumor ganas lainnya. Selain itu ada juga kandungan Vindesine yang dipakai dalam pengobatan leukemia pada anak-anak, dan penderita tumor pigmen, dan Vinorelbine yang seringkali digunakan sebagai bahan pengobatan untuk mencegah pembelahan kelenjar. Selain vinblastine (VLB) dan vincristine (VCR), alkaloid anti kanker lainnya adalah leurosine (VLR), vincadioline, leurosidine, catharanthine, dan lochnerine. Sementara alkaloid berefek hipoglikemik (menurunkan kadar gula darah) adalah leurosine, catharanthine, lochnerine, tetrahydroalstonine, vindoline, dan vindolinine. (http:\/\/kembangbungaku.blogspot.com\/2009\/03\/tapak-dara-catharanthus-roseus-l-g-don.html) b.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Antioksidan Antioksidan adalah senyawa-senyawa yang mampu menghilangkan, membersihkan, menahan pembentukan ataupun memadukan efek spesies oksigen reaktif. Penggunaan senyawa antioksidan juga anti radikal saat ini semakin meluas seiring dengan semakin besarnya pemahaman masyarakat tentang peranannya dalam menghambat penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, arteriosclerosis, kanker, serta gejala penuaan. Masalah-masalah ini berkaitan dengan kemampuan antioksidan untuk bekerja sebagai inhibitor (penghambat) reaksi oksidasi oleh radikal bebas reaktif yang menjadi salah satu pencetus penyakit-penyakit di atas (Tahir dkk, 2003). Tubuh manusia menghasilkan senyawa antioksidan, tetapi jumlahnya sering kali tidak cukup untuk menetralkan radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh (Sofia, 2006; Hernani dan Rahardjo, 2005). Sebagai contoh, tubuh manusia dapat menghasilkan Glutathione, salah satu antioksidan yang sangat kuat, hanya tubuh memerlukan asupan vitamin C sebesar 1.000 mg untuk memicu tubuh menghasilkan glutathione ini. Kekurangan antioksidan dalam tubuh membutuhkan asupan dari luar. Bila mulai menerapkan pola hidup sebagai vegetarian akan sangat membantu dalam mengurangi resiko keracunan akibat radikal bebas. Keseimbangan antara antioksidan dan radikal bebas menjadi kunci utama pencegahan stress oksidatif dan penyakit-penyakit kronis yang dihasilkan (Sofia, 2006). 2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Penelitian yang Relevan Penelitian yang&nbsp; telah dilakukan oleh Gunawan, Yohanda, Moesdarsono Asep Gana Suganda&nbsp; tentang Studi Perbandingan Kadar Vinblastin dan Vinkristin daun Catharanthus roseus (L) G. Don. Berasal dari Tangerang dan Bandung. alkaloid Catharanthus roseus diekstraksi dari serbuk daun Catharanthus roseus dengan pelarut etanol, kloroform, aseton, atau etilasetat dengan metode ekstraksi sinambung dengan ekstraktor Soxhlet. Pemisahan alkaloid dengan metode kromatografi lapis tipis dimana fase diam: silika gel G dan silika gel 60 F254. Fase gerak: benzena, kloroform, etil asetat, campuran etil asetat-etanol absolut (1:1), campuran etil asetat-etanol absolut (3:1), campuran kloroform-metanol (7:3), dan campuran kloroform-metanol (9:1). Penampak noda: sinar ultraviolet. Penetapan kadar alkaloid dengan metode spektrofotodensitometer: noda kromatogram lapis tipis diukur dengan spektrofotodensitometer Shimadzu CS-910. Kadar noda zat dihitung dengan kurva kalibrasi (garis regresi). Penentuan kadar viblastin dan vinkristin dengan metode spektrofotodensitometri, dipakai lmax 260 nm (vinblastin) dan 300 nm (vinkristin). Kadar vinblastin sampel Bandung (9,1 &nbsp;\u00b1 2,1 mg\/g) 6,59% lebih besar daripada kadar vinblastin sampel Tangerang (8,5 &nbsp;\u00b1 2,5 mg\/g), sedangkan kadar vinkristin sampel Bandung (8,7 1 &nbsp;\u00b1 2,2 mg\/g) 6,90% lebih besar daripada kadar vinkristin sampel Tangerang (8,1 &nbsp;\u00b1 2,6 mg\/g).&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (http:\/\/bahan-alam.fa.itb.ac.id\/detail.php?id=236) Penelitian yang&nbsp; telah dilakukan oleh Dingse Pandiangan tentang Pengaruh Prekursor Triptofan Terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Kataratin Kultur Agregat Sel Tapak Dara (Cataranthus roseus (L) G. Don) dalam Erlenmeyer dan Bioreaktor Airlift. Dalam tumbuhan ini terdapat alkaloid anti kanker seperti vinblastin, vinkristin, katarantin, leurosidin dan leurosin. Semua senyawa anti kanker yang telah teridentifikasi dan kemudian dikomersialkan kebanyakan berasal dari tumbuhan ini, terutama yang berbunga putih,\u201d tutur Dingse. Kandungan vinkristin pada tapak dara adalah sebanyak 3 gram\/ton tumbuhan kering, apalagi kandungan vinblastin yang lebih rendah lagi. Padahal senyawa ini sangat dibutuhkan sebagai anti kanker, dan banyak permintaan tinggi untuk menyediakan senyawa ini setiap tahunnya,\u201d jelas Dingse. Selain mengandung senyawa antikanker, tapak dara secara tradisional sudah banyak digunakan untuk mengobati hipertensi, diabetes, leukimia, pendarahan akibat penurunan jumlah trombosit,chorionic epthelioma, leukimia limfositik akut, leukimia monositik akut, limfosarkoma dan sarkoma sel retikulum. (http:\/\/www.unpad.ac.id\/archives\/36960) 3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kerangka Berpikir Leukemia (kanker darah) adalah jenis penyakit kanker yang menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow). Sumsum tulang atau bone marrow ini dalam tubuh manusia memproduksi tiga type sel darah diantaranya sel darah putih (berfungsi sebagai daya tahan tubuh melawan infeksi), sel darah merah (berfungsi membawa oxygen kedalam tubuh) dan platelet (bagian kecil sel darah yang membantu proses pembekuan darah). Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa kecilnya, Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal. Normalnya, sel darah putih me-reproduksi ulang bila tubuh memerlukannya atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Tubuh manusia akan memberikan tanda\/signal secara teratur kapankah sel darah diharapkan be-reproduksi kembali. Pada kasus leukemia (kanker darah), sel darah putih tidak merespon kepada tanda\/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak terkontrol (abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini bila berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sel lainnya, Seseorang dengan kondisi seperti ini (Leukemia) akan menunjukkan beberapa gejala seperti; mudah terkena penyakit infeksi, anemia dan perdarahan. Tumbuh-tumbuhan di Indonesia terbukti mampu mencegah maupun mengobati kanker. Meski perlu penelitian dan pengembangan lebih lanjut, sejumlah tanaman seperti kunyit putih, daun dewa hingga benalu telah digunakan penderita kanker sebagai ikhtiar mengobati penyakitnya. Tanaman yang masih termasuk keluarga Apocynaceae atau kamboja-kambojaan ini mengandung dua senyawa golongan alkaloid vinka yakni vinkristin dan vinblastin yang berkhasiat menghambat perbanyakan dan penyebaran sel kanker. Vinkristin digunakan sebagai bahan pengobatan kanker bronkial, tumor ganas pada ginjal, kanker payudara, leukemia dan berbagai jenis tumor ganas yang awalnya menyerang urat saraf maupun otot. Tanaman yang di Sumatera disebut rumput jalang itu juga mengandung alkaloid cabtharanthin yang diperkirakan dapat mendesak dan melarutkan inti sel kanker. Oleh karena itu ,perlu dilakukam penelitian terhadap tanaman yang berpotensi sebagai obat alami. Salah satunya diantara adalah pemanfaatan tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don). Pemanfaatan daun dan kembang tapak dara sebagai obat leokemia karena tanaman ini murah dan mudah diperoleh. Kandungan kimia dari tanaman ini adalah senyawa alkaloid anti kanker yang paling utama, yaitu vinkristin dan vinblastin. Penelitian tantang pemanfaatan tanaman tapak dara sebagai obat leukemia dilakukan dengan mengeringkan bunga dan daunya untuk di jadikan teh celup. Untuk mengujian kandungan antioksidan dalam teh tapak dara menggunakan metode spektofotometer yaitu teh diseduh dalam air hangat. Air seduhan lalu di uji kandungannya. A.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Metode Penelitian 1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jenis penelitian Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen yaitu&nbsp; pengenbangan yaitu mengembangkan suatu obat alami untuk penyakit leukimia denga memanfaatkan bahan alam dari tanaman tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don). 2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Subjek dan Objek a.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah teh daun dan bunga tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don). Objek penelitian adalah berapa aktifitas antioksidan teh daun dan bunga tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don). 3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Waktu dan pelaksanaan Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA UNY selama&nbsp; bulan April sampai bulan-Juli 2012. Download full Proposal Pic here<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"wprm-recipe-roundup-name":"","wprm-recipe-roundup-description":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[27,14,43],"tags":[],"aioseo_notices":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/247"}],"collection":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=247"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/247\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=247"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=247"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=247"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}