{"id":300,"date":"2013-08-04T17:04:00","date_gmt":"2013-08-04T16:04:00","guid":{"rendered":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=300"},"modified":"2013-08-04T17:04:00","modified_gmt":"2013-08-04T16:04:00","slug":"kita-punya-banyak-cinta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=300","title":{"rendered":"Kita Punya Banyak Cinta"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\">\n<b><i>Kalian yang bosen denger, #eh liat maksutnya :), coretan-coretan saya yang lompat-lompat, acak kadut gak karuan, baca ini deh.. ini bukan sekedar selingan, ada ilmu dan pesan yang ditulis dari hati oleh penulisnya. Recomended to read, dan insyaaLloh gak buang waktu. #MendadakMellow &#8211;Silakan dinikmati<\/i><\/b><\/p>\n<p><b><span data-ft=\"{&quot;tn&quot;:&quot;K&quot;}\">\u201cAku memperjuangkannya, siapapun ia yang menemaniku mendaki, BUKAN IA YANG MENUNGGUKU DI PUNCAK!!!!!\u201d &#8212;   Yunus Kuntawi Aji <\/span><\/b><\/p>\n<p>Tulisan oleh : <a href=\"http:\/\/www.fahdisme.com\/2012\/12\/tiga.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Fahd Djibran<\/a><\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<a href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-NXHWXjNufpo\/UNqeOJP2aOI\/AAAAAAAAB8Y\/r7UaDuH0Bbk\/s640\/22456_1321297626815_6470786_n.jpg\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" border=\"0\" height=\"248\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-NXHWXjNufpo\/UNqeOJP2aOI\/AAAAAAAAB8Y\/r7UaDuH0Bbk\/s320\/22456_1321297626815_6470786_n.jpg\" width=\"320\" \/><\/a><\/div>\n<p>Tiga tahun adalah waktu yang singkat tetapi sekaligus panjang,  tergantung dari mana dan bagaimana kita melihatnya. Waktu memang selalu  begitu, Sayangku, relatif sekaligus ambigu. Tetapi, aku akan menggunakan  cara pandang yang lain, bukan dengan waktu-mati (durasi) tetapi dengan  waktu-hidup: <i>Tiga tahun bersamamu adalah tiga tahun terbaik dalam hidupku&#8230; <\/i><\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>\nBagaimana rasanya bila seseorang yang paling kau cintai berjalan ke  arahmu, dengan pakaian dan riasan terbaiknya, menggenapkan  langkah-langkah kecilnya untuk berjanji sehidup-semati menemanimu dalam  sedih atau bahagia\u2014untuk selama-lamanya? Bagaimana rasanya bila  langkah-langkah itu kian dekat, semakin dekat, dan semakin dekat lagi,  hingga membuat dadamu berdebar hebat, sementara tatap mata dan senyuman  terbaiknya hampir membunuhmu dalam kebahagiaan?<\/p>\n<p>Aku pernah mengalaminya, Sayangku, sekali dan hanya sekali untuk selama-lamanya. <\/p>\n<p>Jumat siang, 25 Desember 2009, pukul dua selepas shalat Jumat, kau  melangkah perlahan ke arahku yang terlebih dahulu telah duduk di hadapan  Penghulu. Dua orang perempuan berjalan mendampingimu. Aku melihatmu  yang begitu berbeda siang itu:<i> Kau telah berubah menjadi perempuan  yang entah bagaimana bisa membuat dirimu sekian kali lipat lebih cantik  dari hari-hari biasanya<\/i>. Bukan tersebab riasan di wajahmu, atau gaun kebayamu, atau sanggul emasmu, tetapi senyummu: <i>Lengkung bibir yang entah bagaimana telah mengirimkan jutaan perasaan bahagia ke dalam hatiku.<\/i>  Sungguh, tak pernah ada kecantikan lain yang sanggup membuatku  sebahagia siang itu, Sayangku. Hanya kamu, hanya senyummu yang bisa  melakukannya untukku. <\/p>\n<p>Kemudian kau duduk tepat di sampingku. Wangi bunga melati di sanggulmu menguar membius penciumanku. <i>Inikah wewangian surga itu?<\/i>  Aku sedikit menolehkan wajahku ke arahmu, sebentar, aku melihatmu dari  dekat dan seketika waktu menjadi sepersekian detik lebih lambat dari  seharusnya. Ah, Sayangku, aku ingin setiap hari merayakan semua yang ada  pada dirimu siang itu\u2014selamanya&#8230; <\/p>\n<blockquote><\/blockquote>\n<blockquote><p>\n\u201cSudah siap?\u201d Suara Penghulu mengembalikanku pada kenyataan. <\/p><\/blockquote>\n<p>\nAku menatap Penghulu yang tak kuketahui namanya, menganggukkan kepala, \u201cYa,\u201d jawabku.<\/p>\n<blockquote><p>\n\u201cBaik, hadirin sekalian, kita akan segera melakukan prosesi<i> ijab qabul<\/i>.\u201d Ujarnya. <\/p><\/blockquote>\n<p>\nAh, Sayangku, beberapa menit ke depan, hidup kita akan segera berubah.  Ini bukan hanya tentang menjadi sepasang suami istri dan kita bisa  bersama sepanjang waktu, tetapi lebih berat lagi. Bagiku, selepas <i>ijab-qabul<\/i>  ini, kau akan segera menjadi bagian dari tanggung jawabku; Aku  berkewajiban membahagiakanmu, memenuhi segala kebutuhanmu, mendidik dan  membimbingmu ke surga yang aku sendiri ragu bisa mencapainya. <\/p>\n<p>Semoga kita bisa melakukannya bersama-sama: <i>Menjadi sepasang Adam dan  Hawa yang boleh jadi melakukan kesalahan-kesalahan yang membuat Tuhan  murka, tetapi bersedia menebusnya dengan segala yang kita punya untuk  kembali menemukan surga.<\/i> Kita akan melakukannya, berdua, dalam  langkah-langkah kecil yang kadang membuat kita letih atau tertatih,  tetapi jangan putus asa, sebab sepenuh cinta kita akan selalu bersama  untuk tetap berangkulan di gunung cahaya\u2014<i>Jabal Nur <\/i>kita.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Kini, tanganku dan tangan Papamu telah saling menjabat di atas sebuah  meja kecil yang terletak di hadapan kita. Aku menatap wajah Papamu yang  tampak digayuti kecemasan. Akupun demikian, Sayangku: <i>Aku gemetar  menghadapi sebuah perjanjian suci di bawah nama dan persaksian Tuhan  bahwa aku akan menjadi Adam bagi Hawaku, Yusuf bagi Zulaykhaku, Muhammad  bagi Khadijahku<\/i>. Tetapi  tersebab aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Sayangku, aku akan melakukannya sebaik apapun yang kubisa&#8230; <\/p>\n<p>Pertama-tama, Papamu membacakan tiga kalimat istigfar disusul dua  kalimat syahadat. Ia mengeratkan genggaman tangannya di tanganku.  Menatap lekat mataku. Di sanalah, sesuatu yang asing segera hadir dalam  diriku\u2014semua tentangmu, semua tentang kita, segalanya seolah hadir  mengisi ruang-ruang pikiran dan perasaanku&#8230; Semua perasaan bercampur  seketika, menerbitkan kyakinan sekaligus keraguan, sementara segalanya  telah benar-benar dekat&#8230; Saat semua mata, amsal bagi penglihatan dan  pengetahuan Tuhan tentang segala sesuatu, tertuju pada kita di masjid  itu&#8230;<\/p>\n<p>Suasana seketika menjadi hening. Kekhidmatan menjalari semua yang hadir  di masjid itu. Ujung mata kiriku kembali menangkap wajahmu yang kini  tampak lebih gugup. Bibirmu tak berhenti berzikir atau membacakan doa  apa saja\u2014aku bisa menduganya.<\/p>\n<p>Lalu Papamu mendekatkan posisi <i>mic<\/i> di hadapannya. Empat orang saksi menajamkan pendengaran dan penglihatan mereka. Dan keheningan melenyapkan suara-suara\u2026<\/p>\n<blockquote><p>\n\u201cDengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, saya nikahkan  dan saya kawinkan ananda Fahd Pahdepie bin Haji Adang Hambali dengan  putri kandung saya, Rizqa Fitriani Abidin binti Haji Zainal Abidin,  dengan mas kawin perhiasan emas seberat 50 gram dan seperangkat alat  shalat dibayar tunai.\u201d Demikian Papamu membacakan kalimat itu dalam  bahasa Arab yang fasih&#8230; <\/p><\/blockquote>\n<p>\nSeketika keheningan merasuki diriku, disusul perasaan haru dan bahagia. Semua mata mengarah kepadaku, menantikan \u2018<i>qabul<\/i>\u2019 bagi \u2018<i>ijab<\/i>\u2019  yang baru saja diucapkan Papamu. Di sanalah sebuah sentuhan dari  Penghulu menjentik tepat di atas punggung tanganku, memberikan isyarat\u2014<\/p>\n<blockquote><p>\n\u201cSaya terima nikahnya dan kawinnya Rizqa Fitriani Abidin binti Haji  Zainal Abidin dengan mas kawin tersebut, tunai!\u201d Aku mengucapkannya  dalam satu tarikan nafas, dengan Bahasa Arab yang agak terbata-bata&#8230; <\/p><\/blockquote>\n<p><\/p>\n<blockquote><p>\n\u201cSyah?\u201d Penghulu bertanya kepada para saksi dan hadirin. Kecemasan menguasai diriku&#8230; <\/p><\/blockquote>\n<p>\nKemudian empat orang saksi dari keluargaku dan keluargamu memberikan  persetujuan\u2014dengan anggukkan dan senyuman. \u201cSyah\u2026\u201d Jawab salah satu dari  mereka. Pada saat hampir bersamaan, hadirin bersama-sama meneriakkan,  \u201cSyah\u2026 Syah\u2026 Syah&#8230;\u201d Suasana seketika berubah sukacita. Bahkan ada yang  bertepuk tangan. <\/p>\n<p>Airmata mengambang di pelupuk mata&#8230; Ada rasa hangat yang membuat  napasku jadi berat. Aku melihatmu mengusap airmata\u2014semoga kau juga  berbahagia&#8230;<\/p>\n<blockquote><p>\n\u201c<i>Alhamdulill\u00e2h\u2026 Alhamdulill\u00e2h\u2026 Alhamdulill\u00e2h\u2026 B\u00e2rakall\u00e2h\u2026<\/i>\u201d Penghulu kemudian membacakan doa yang tak bisa kutangkap seluruhnya&#8230; <\/p><\/blockquote>\n<p>\nAku menoleh ke arahmu yang kini telah syah menjadi istriku. Kamu juga  menoleh ke arahku. Kita bertukar senyuman dengan cara yang asing\u2014tetapi  begitu membahagiakan. Cinta seolah terbentang di antara kedua senyum  kita. Aku ingin segera merangkulmu\u2014kalau bisa&#8230;  <\/p>\n<blockquote><p>\n\u201cCium\u2026 cium\u2026 cium\u2026\u201d Dari kejauhan, aku mendengar suara itu. Genit. Kamu tersipu. Aku tersipu. Tapi aku mau&#8230;<\/p><\/blockquote>\n<p>\n***<\/p>\n<p>Sementara suara riuh terus membentuk atmosfer sukacita, Papamu menjabat  erat tanganku, kemudian memberi isyarat untuk merangkulku. Aku menyambut  pelukan Papamu yang kini juga telah menjadi Papaku. <\/p>\n<blockquote><p>\n\u201cPapa titipkan Rizqa kepadamu,\u201d Demikian suara Papamu berbisik di  telingaku, perlahan, berat, dengan nada penuh keharuan yang tak bisa  lagi disembunyikan, \u201cPapa sangat menyayanginya. Papa akan sakit hati  jika kau menyakiti perasaannya.\u201d <\/p><\/blockquote>\n<p>\nSeketika, keharuan itu segera menular merasuki keseluruhan diriku. Aku  hanya bisa menganggukkan kepala. Papamu menepuk-tepuk pundakku. <\/p>\n<p>Dalam suasana yang masih dipenuhi sukacita, aku memandang ayah dan ibuku  yang menangis di sisi lainnya. Ayah yang kukenal tegar dan tegas, tak  bisa lagi menyembunyikan keharuannya: <i>Dia berkali-kali memandang langit-langit masjid untuk mengusir airmatanya<\/i>.  Sementara Ibu, perempuan agung itu, tak bisa menahan deras airmata yang  meluncur di tebing pipinya. Keharuan yang lebih besar tiba-tiba  menguasaiku dari dalam, menjadi hujan-mata-pisau kesedihan yang tak bisa  kuelakkan:<i> Kilas-balik kenangan bersama mereka, semua yang telah mereka berikan dan korbankan, tiba-tiba bermunculan dalam ingatan<\/i>.<\/p>\n<p><i>Apakah pernikahan ini akan membuatku meninggalkan mereka\u2014dan aku tak boleh menjadi putra kesayangan mereka lagi? <\/i>Aku memutuskan berjalan ke arah mereka berdua, ayah dan ibuku. <\/p>\n<p>Tepat di hadapan mereka, aku hanya bisa menangis, tanpa kata-kata. Ibu  segera memelukku dengan erat. Ayah merangkul kami berdua: <i>Kami menangis bersama dalam sedih yang membuat kami bahagia.<\/i>  \u201cSemoga pernikahanmu selalu dilingkupi keberkahan dan kebahagiaan,\u201d  bisik Ayah bagai doa dalam telinga. Ibu tak mengatakan apa-apa, ia hanya  mengeratkan pelukkannya, seolah tak rela melepaskanku&#8230; Punggung kami  berguncang. <\/p>\n<p>Apakah kau masih mengingat semua yang terjadi hari itu, Sayangku? <\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>\nSeminggu setelah pernikahan kita, aku membawamu untuk tinggal di luar  kota di mana aku bekerja. Kita menyewa sebuah rumah kecil di pinggiran  ibukota. Hanya karpet kecil, perlengkapan dapur seadanya, kasur busa dan  kipas angin yang kita punya. Aku juga tak punya banyak simpanan uang di  bank, sementara gajiku sebagai pegawai baru hanya dibayarkan kantor  80%-nya saja. Tetapi kau mendampingiku dengan penuh kesabaran. Selalu.  Sejak pertama kali kita hidup bersama&#8230; <\/p>\n<blockquote><p>\n\u201cKita punya banyak cinta,\u201d katamu sambil tersenyum, \u201cUntuk apa  khawatir?\u201d Dan aku selalu merasa jadi jauh lebih tenang mendengarkan  kalimat itu. <\/p><\/blockquote>\n<p><\/p>\n<blockquote><p>\n\u201cAku janji ini nggak akan lama, kita akan hidup bahagia,\u201d kataku. Sungguh-sungguh.<\/p><\/blockquote>\n<p><\/p>\n<blockquote><p>\nKamu masih tersenyum. \u201cTenang saja. Kita akan menghadapi apapun  bersama-sama,\u201d katamu. Dan aku jadi suami paling berbahagia di dunia. <\/p><\/blockquote>\n<p><\/p>\n<blockquote><p>\n\u201cTidak apa-apa,\u201d katamu suatu malam, sementara kita hanya punya uang  lima puluh ribu rupiah untuk menunggu tanggal gajian yang masih seminggu  lagi. Tapi, \u201cInsya Allah aku bisa mengaturnya,\u201d katamu. <\/p><\/blockquote>\n<p>\nSetiap hari, aku bangun lebih pagi, menyaksikanmu berdoa atau menyiapkan  apa saja untuk keperluanku&#8230; Dan aku berjanji bekerja lebih giat lagi,  atau berjalan lebih cepat, atau terlelap lebih malam dan bangun lebih  awal&#8230; Untuk kebahagiaan kita&#8230;<\/p>\n<p>Entah doa kita yang mana yang didengar Tuhan\u2014lalu dikabulkan. Tetapi aku  kira bukan doaku; Aku merasa terlalu banyak dosa untuk didengar  lirihnya oleh Tuhan. Aku yakin itu doamu, doa tulus seorang istri untuk  suaminya&#8230; Doa sakti seorang ibu untuk anaknya&#8230; <\/p>\n<p>Setahun kemudian, kita dikarunia putra pertama yang cerdas dan tampan.  Aku senang luar biasa. Dan dua tahun kemudian, pada ulang tahun Kalky  yang kedua, 20 November lalu, kita telah menyaksikan segalanya mulai  berubah menjadi lebih baik dan lebih baik lagi: <i>Kita sudah punya rumah sendiri, tabungan pribadi, kendaraan, dan hampir semua yang kita butuhkan<\/i>.  Alasan apalagi yang harus membuatku tak menjadi lelaki paling bahagia  sedunia? Di atas semua itu, aku sudah punya kamu, istri paling istimewa  dan ibu paling hebat sedunia&#8230; Juga Kalky&#8230; <\/p>\n<p>Sayangku, tiga tahun ini, bersama-sama, kita sudah melewati tangis dan  tawa, sedih dan bahagia, aku meridhoimu sebagai istri yang berbakti&#8230;  Sungguh. Selama ada kamu di sampingku, aku merasa tak perlu  mengkhawatirkan apapun lagi. <\/p>\n<p><i>Terima kasih telah selalu ada untukku dan juga anak kita\u2014dengan banyak cinta.<\/i><\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Sayangku, hari ini, tepat tiga tahun setelah hari pernikahan kita, aku  memandang foto pernikahan kita berdua. Tiga tahun tiba-tiba terasa  begitu singkat, sebab aku masih mengingat hampir semua detil peristiwa  di hari pernikahan kita, tetapi sekaligus panjang, sebab ternyata telah  banyak yang kita lewati bersama sebagai suami-istri yang berbahagia.  Waktu memang selalu begitu, relatif sekaligus ambigu. Tapi izinkan aku  menggunakan cara pandang yang lain, bukan dengan waktu-mati tetapi  dengan waktu-hidup: <i>Tiga tahun bersamamu adalah tiga tahun terbaik dalam hidupku&#8230;<\/i> <\/p>\n<p>Jika suatu hari aku ditanya keputusan terbaik apa yang pernah kubuat dalam hidupku, aku tak akan ragu menjawabnya: <i>Menikahimu, adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat selama hidupku!<\/i><\/p>\n<p><i>Selamat ulang tahun pernikahan kita, Sayangku.<\/i><\/p>\n<p>\n<i>============<br \/>\n#sekian<\/i><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalian yang bosen denger, #eh liat maksutnya :), coretan-coretan saya yang lompat-lompat, acak kadut gak karuan, baca ini deh.. ini bukan sekedar selingan, ada ilmu dan pesan yang ditulis dari hati oleh penulisnya. Recomended to read, dan insyaaLloh gak buang waktu. #MendadakMellow &#8211;Silakan dinikmati \u201cAku memperjuangkannya, siapapun ia yang menemaniku mendaki, BUKAN IA YANG MENUNGGUKU DI PUNCAK!!!!!\u201d &#8212; Yunus Kuntawi Aji Tulisan oleh : Fahd Djibran Tiga tahun adalah waktu yang singkat tetapi sekaligus panjang, tergantung dari mana dan bagaimana kita melihatnya. Waktu memang selalu begitu, Sayangku, relatif sekaligus ambigu. Tetapi, aku akan menggunakan cara pandang yang lain, bukan dengan waktu-mati (durasi) tetapi dengan waktu-hidup: Tiga tahun bersamamu adalah tiga tahun terbaik dalam hidupku&#8230; *** Bagaimana rasanya bila seseorang yang paling kau cintai berjalan ke arahmu, dengan pakaian dan riasan terbaiknya, menggenapkan langkah-langkah kecilnya untuk berjanji sehidup-semati menemanimu dalam sedih atau bahagia\u2014untuk selama-lamanya? Bagaimana rasanya bila langkah-langkah itu kian dekat, semakin dekat, dan semakin dekat lagi, hingga membuat dadamu berdebar hebat, sementara tatap mata dan senyuman terbaiknya hampir membunuhmu dalam kebahagiaan? Aku pernah mengalaminya, Sayangku, sekali dan hanya sekali untuk selama-lamanya. Jumat siang, 25 Desember 2009, pukul dua selepas shalat Jumat, kau melangkah perlahan ke arahku yang terlebih dahulu telah duduk di hadapan Penghulu. Dua orang perempuan berjalan mendampingimu. Aku melihatmu yang begitu berbeda siang itu: Kau telah berubah menjadi perempuan yang entah bagaimana bisa membuat dirimu sekian kali lipat lebih cantik dari hari-hari biasanya. Bukan tersebab riasan di wajahmu, atau gaun kebayamu, atau sanggul emasmu, tetapi senyummu: Lengkung bibir yang entah bagaimana telah mengirimkan jutaan perasaan bahagia ke dalam hatiku. Sungguh, tak pernah ada kecantikan lain yang sanggup membuatku sebahagia siang itu, Sayangku. Hanya kamu, hanya senyummu yang bisa melakukannya untukku. Kemudian kau duduk tepat di sampingku. Wangi bunga melati di sanggulmu menguar membius penciumanku. Inikah wewangian surga itu? Aku sedikit menolehkan wajahku ke arahmu, sebentar, aku melihatmu dari dekat dan seketika waktu menjadi sepersekian detik lebih lambat dari seharusnya. Ah, Sayangku, aku ingin setiap hari merayakan semua yang ada pada dirimu siang itu\u2014selamanya&#8230; \u201cSudah siap?\u201d Suara Penghulu mengembalikanku pada kenyataan. Aku menatap Penghulu yang tak kuketahui namanya, menganggukkan kepala, \u201cYa,\u201d jawabku. \u201cBaik, hadirin sekalian, kita akan segera melakukan prosesi ijab qabul.\u201d Ujarnya. Ah, Sayangku, beberapa menit ke depan, hidup kita akan segera berubah. Ini bukan hanya tentang menjadi sepasang suami istri dan kita bisa bersama sepanjang waktu, tetapi lebih berat lagi. Bagiku, selepas ijab-qabul ini, kau akan segera menjadi bagian dari tanggung jawabku; Aku berkewajiban membahagiakanmu, memenuhi segala kebutuhanmu, mendidik dan membimbingmu ke surga yang aku sendiri ragu bisa mencapainya. Semoga kita bisa melakukannya bersama-sama: Menjadi sepasang Adam dan Hawa yang boleh jadi melakukan kesalahan-kesalahan yang membuat Tuhan murka, tetapi bersedia menebusnya dengan segala yang kita punya untuk kembali menemukan surga. Kita akan melakukannya, berdua, dalam langkah-langkah kecil yang kadang membuat kita letih atau tertatih, tetapi jangan putus asa, sebab sepenuh cinta kita akan selalu bersama untuk tetap berangkulan di gunung cahaya\u2014Jabal Nur kita. *** Kini, tanganku dan tangan Papamu telah saling menjabat di atas sebuah meja kecil yang terletak di hadapan kita. Aku menatap wajah Papamu yang tampak digayuti kecemasan. Akupun demikian, Sayangku: Aku gemetar menghadapi sebuah perjanjian suci di bawah nama dan persaksian Tuhan bahwa aku akan menjadi Adam bagi Hawaku, Yusuf bagi Zulaykhaku, Muhammad bagi Khadijahku. Tetapi tersebab aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Sayangku, aku akan melakukannya sebaik apapun yang kubisa&#8230; Pertama-tama, Papamu membacakan tiga kalimat istigfar disusul dua kalimat syahadat. Ia mengeratkan genggaman tangannya di tanganku. Menatap lekat mataku. Di sanalah, sesuatu yang asing segera hadir dalam diriku\u2014semua tentangmu, semua tentang kita, segalanya seolah hadir mengisi ruang-ruang pikiran dan perasaanku&#8230; Semua perasaan bercampur seketika, menerbitkan kyakinan sekaligus keraguan, sementara segalanya telah benar-benar dekat&#8230; Saat semua mata, amsal bagi penglihatan dan pengetahuan Tuhan tentang segala sesuatu, tertuju pada kita di masjid itu&#8230; Suasana seketika menjadi hening. Kekhidmatan menjalari semua yang hadir di masjid itu. Ujung mata kiriku kembali menangkap wajahmu yang kini tampak lebih gugup. Bibirmu tak berhenti berzikir atau membacakan doa apa saja\u2014aku bisa menduganya. Lalu Papamu mendekatkan posisi mic di hadapannya. Empat orang saksi menajamkan pendengaran dan penglihatan mereka. Dan keheningan melenyapkan suara-suara\u2026 \u201cDengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, saya nikahkan dan saya kawinkan ananda Fahd Pahdepie bin Haji Adang Hambali dengan putri kandung saya, Rizqa Fitriani Abidin binti Haji Zainal Abidin, dengan mas kawin perhiasan emas seberat 50 gram dan seperangkat alat shalat dibayar tunai.\u201d Demikian Papamu membacakan kalimat itu dalam bahasa Arab yang fasih&#8230; Seketika keheningan merasuki diriku, disusul perasaan haru dan bahagia. Semua mata mengarah kepadaku, menantikan \u2018qabul\u2019 bagi \u2018ijab\u2019 yang baru saja diucapkan Papamu. Di sanalah sebuah sentuhan dari Penghulu menjentik tepat di atas punggung tanganku, memberikan isyarat\u2014 \u201cSaya terima nikahnya dan kawinnya Rizqa Fitriani Abidin binti Haji Zainal Abidin dengan mas kawin tersebut, tunai!\u201d Aku mengucapkannya dalam satu tarikan nafas, dengan Bahasa Arab yang agak terbata-bata&#8230; \u201cSyah?\u201d Penghulu bertanya kepada para saksi dan hadirin. Kecemasan menguasai diriku&#8230; Kemudian empat orang saksi dari keluargaku dan keluargamu memberikan persetujuan\u2014dengan anggukkan dan senyuman. \u201cSyah\u2026\u201d Jawab salah satu dari mereka. Pada saat hampir bersamaan, hadirin bersama-sama meneriakkan, \u201cSyah\u2026 Syah\u2026 Syah&#8230;\u201d Suasana seketika berubah sukacita. Bahkan ada yang bertepuk tangan. Airmata mengambang di pelupuk mata&#8230; Ada rasa hangat yang membuat napasku jadi berat. Aku melihatmu mengusap airmata\u2014semoga kau juga berbahagia&#8230; \u201cAlhamdulill\u00e2h\u2026 Alhamdulill\u00e2h\u2026 Alhamdulill\u00e2h\u2026 B\u00e2rakall\u00e2h\u2026\u201d Penghulu kemudian membacakan doa yang tak bisa kutangkap seluruhnya&#8230; Aku menoleh ke arahmu yang kini telah syah menjadi istriku. Kamu juga menoleh ke arahku. Kita bertukar senyuman dengan cara yang asing\u2014tetapi begitu membahagiakan. Cinta seolah terbentang di antara kedua senyum kita. Aku ingin segera merangkulmu\u2014kalau bisa&#8230; \u201cCium\u2026 cium\u2026 cium\u2026\u201d Dari kejauhan, aku mendengar suara itu. Genit. Kamu tersipu. Aku tersipu. Tapi aku mau&#8230; *** Sementara suara riuh terus membentuk atmosfer sukacita, Papamu menjabat erat tanganku, kemudian memberi isyarat untuk merangkulku. Aku menyambut pelukan Papamu yang kini juga telah menjadi Papaku. \u201cPapa titipkan Rizqa kepadamu,\u201d Demikian suara Papamu berbisik di telingaku, perlahan, berat, dengan nada penuh keharuan yang tak bisa lagi disembunyikan, \u201cPapa sangat menyayanginya. Papa akan sakit hati jika kau menyakiti perasaannya.\u201d Seketika, keharuan itu segera menular merasuki keseluruhan diriku. Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Papamu menepuk-tepuk pundakku. Dalam suasana yang masih dipenuhi sukacita, aku memandang ayah dan ibuku yang menangis di sisi lainnya. Ayah yang kukenal tegar dan tegas, tak bisa lagi menyembunyikan keharuannya: Dia berkali-kali memandang langit-langit masjid untuk mengusir airmatanya. Sementara Ibu, perempuan agung itu, tak bisa menahan deras airmata yang meluncur di tebing pipinya. Keharuan yang lebih besar tiba-tiba menguasaiku dari dalam, menjadi hujan-mata-pisau kesedihan yang tak bisa kuelakkan: Kilas-balik kenangan bersama mereka, semua yang telah mereka berikan dan korbankan, tiba-tiba bermunculan dalam ingatan. Apakah pernikahan ini akan membuatku meninggalkan mereka\u2014dan aku tak boleh menjadi putra kesayangan mereka lagi? Aku memutuskan berjalan ke arah mereka berdua, ayah dan ibuku. Tepat di hadapan mereka, aku hanya bisa menangis, tanpa kata-kata. Ibu segera memelukku dengan erat. Ayah merangkul kami berdua: Kami menangis bersama dalam sedih yang membuat kami bahagia. \u201cSemoga pernikahanmu selalu dilingkupi keberkahan dan kebahagiaan,\u201d bisik Ayah bagai doa dalam telinga. Ibu tak mengatakan apa-apa, ia hanya mengeratkan pelukkannya, seolah tak rela melepaskanku&#8230; Punggung kami berguncang. Apakah kau masih mengingat semua yang terjadi hari itu, Sayangku? *** Seminggu setelah pernikahan kita, aku membawamu untuk tinggal di luar kota di mana aku bekerja. Kita menyewa sebuah rumah kecil di pinggiran ibukota. Hanya karpet kecil, perlengkapan dapur seadanya, kasur busa dan kipas angin yang kita punya. Aku juga tak punya banyak simpanan uang di bank, sementara gajiku sebagai pegawai baru hanya dibayarkan kantor 80%-nya saja. Tetapi kau mendampingiku dengan penuh kesabaran. Selalu. Sejak pertama kali kita hidup bersama&#8230; \u201cKita punya banyak cinta,\u201d katamu sambil tersenyum, \u201cUntuk apa khawatir?\u201d Dan aku selalu merasa jadi jauh lebih tenang mendengarkan kalimat itu. \u201cAku janji ini nggak akan lama, kita akan hidup bahagia,\u201d kataku. Sungguh-sungguh. Kamu masih tersenyum. \u201cTenang saja. Kita akan menghadapi apapun bersama-sama,\u201d katamu. Dan aku jadi suami paling berbahagia di dunia. \u201cTidak apa-apa,\u201d katamu suatu malam, sementara kita hanya punya uang lima puluh ribu rupiah untuk menunggu tanggal gajian yang masih seminggu lagi. Tapi, \u201cInsya Allah aku bisa mengaturnya,\u201d katamu. Setiap hari, aku bangun lebih pagi, menyaksikanmu berdoa atau menyiapkan apa saja untuk keperluanku&#8230; Dan aku berjanji bekerja lebih giat lagi, atau berjalan lebih cepat, atau terlelap lebih malam dan bangun lebih awal&#8230; Untuk kebahagiaan kita&#8230; Entah doa kita yang mana yang didengar Tuhan\u2014lalu dikabulkan. Tetapi aku kira bukan doaku; Aku merasa terlalu banyak dosa untuk didengar lirihnya oleh Tuhan. Aku yakin itu doamu, doa tulus seorang istri untuk suaminya&#8230; Doa sakti seorang ibu untuk anaknya&#8230; Setahun kemudian, kita dikarunia putra pertama yang cerdas dan tampan. Aku senang luar biasa. Dan dua tahun kemudian, pada ulang tahun Kalky yang kedua, 20 November lalu, kita telah menyaksikan segalanya mulai berubah menjadi lebih baik dan lebih baik lagi: Kita sudah punya rumah sendiri, tabungan pribadi, kendaraan, dan hampir semua yang kita butuhkan. Alasan apalagi yang harus membuatku tak menjadi lelaki paling bahagia sedunia? Di atas semua itu, aku sudah punya kamu, istri paling istimewa dan ibu paling hebat sedunia&#8230; Juga Kalky&#8230; Sayangku, tiga tahun ini, bersama-sama, kita sudah melewati tangis dan tawa, sedih dan bahagia, aku meridhoimu sebagai istri yang berbakti&#8230; Sungguh. Selama ada kamu di sampingku, aku merasa tak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Terima kasih telah selalu ada untukku dan juga anak kita\u2014dengan banyak cinta. *** Sayangku, hari ini, tepat tiga tahun setelah hari pernikahan kita, aku memandang foto pernikahan kita berdua. Tiga tahun tiba-tiba terasa begitu singkat, sebab aku masih mengingat hampir semua detil peristiwa di hari pernikahan kita, tetapi sekaligus panjang, sebab ternyata telah banyak yang kita lewati bersama sebagai suami-istri yang berbahagia. Waktu memang selalu begitu, relatif sekaligus ambigu. Tapi izinkan aku menggunakan cara pandang yang lain, bukan dengan waktu-mati tetapi dengan waktu-hidup: Tiga tahun bersamamu adalah tiga tahun terbaik dalam hidupku&#8230; Jika suatu hari aku ditanya keputusan terbaik apa yang pernah kubuat dalam hidupku, aku tak akan ragu menjawabnya: Menikahimu, adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat selama hidupku! Selamat ulang tahun pernikahan kita, Sayangku. ============ #sekian<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"wprm-recipe-roundup-name":"","wprm-recipe-roundup-description":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[9,18,37],"tags":[],"aioseo_notices":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/300"}],"collection":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=300"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/300\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=300"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=300"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=300"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}