{"id":331,"date":"2013-05-22T21:51:00","date_gmt":"2013-05-22T20:51:00","guid":{"rendered":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=331"},"modified":"2013-05-22T21:51:00","modified_gmt":"2013-05-22T20:51:00","slug":"ujian-cinta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=331","title":{"rendered":"Ujian Cinta"},"content":{"rendered":"<blockquote>\n<div>\n\u201cDijadikan indah pada (pandangan)<br \/>\nmanusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,<br \/>\nanak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,<br \/>\nbinatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di<br \/>\ndunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).\u201d<span>&nbsp;<\/span>(QS. Ali-Imran: 14)<\/div>\n<\/blockquote>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nBerbicara tentang cinta<br \/>\nmemang tak pernah ada habisnya. Seperti magis, daya tariknya tak pernah<br \/>\npudar dimakan waktu. Meski zaman silih berganti, ia masih dijadikan<br \/>\ninspirasi atas jutaan lagu, prosa, film, hingga sinetron di televisi.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nCinta memang unik. Ia adalah<br \/>\n sumber kekuatan sekaligus kelemahan dalam diri manusia. Menjadi<br \/>\nkekuatan jika ditempatkan sesuai porsinya, ditujukan pada yang berhak<br \/>\nmendapatkannya, dan diekspresikan dengan cara-cara yang baik dan benar<br \/>\nadanya. Tanpa terpenuhinya ketiga syarat ini, cinta dapat berubah<br \/>\nmenjadi sumber kelemahan manusia yang hanya akan melahirkan kehancuran<br \/>\ndan malapetaka.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nMaka tak ada yang lebih<br \/>\nberhak mendapatkan cinta terbaik, terdalam, dan termurni dari manusia<br \/>\nkecuali Dia Sang Maha Cinta itu sendiri. Dialah Allah yang menciptakan<br \/>\nlangit dan bumi dan segala yang ada di antaranya. Yang tiada henti<br \/>\nmemberikan nikmat dan cinta pada hamba-hamba-Nya di seluruh belahan<br \/>\ndunia. Dialah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Sudah semestinya cinta kepada-Nya<br \/>\nberada di atas segala-galanya, karena itulah wujud iman dan takwa yang<br \/>\nsebenarnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSetiap detik dalam hidup<br \/>\nkita adalah ujian cinta dari Sang Maha Cinta. Seperti halnya banyak<br \/>\nujian di sekolah yang akan menilai pintar atau bodohnya seseorang, ujian<br \/>\n cinta dari Allah juga akan menjadi penilaian atas mulia atau kerdilnya<br \/>\nseorang manusia.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nNabi Ibrahim as, contoh<br \/>\nteladan berprestasi atas ujian cinta dari Allah telah membuktikan<br \/>\nkecintaan-Nya pada Sang Khalik berulang kali, mulai dari proses<br \/>\npembakaran dirinya oleh Raja Namrud, perintah meninggalkan anak dan<br \/>\nistri yang dicintainya di padang kering kerontang tanpa makanan, hingga<br \/>\nyang paling mengharukan adalah perintah untuk menyembelih anak<br \/>\ntercintanya sendiri, Ismail. Subhanallah, semuanya dilewati beliau<br \/>\ndengan nilai sempurna. Ia tlah membuktikan betapapun ia mencintai<br \/>\napa-apa yang Allah berikan di dunia, Allah lah pemilik cinta di atas<br \/>\ncintanya, sebagaimana firman-Nya bahwa \u201c<i>di sisi Allah lah tempat kembali yang baik<\/i>\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nLalu di manakah kita berada? Ketika cinta hanya digambarkan dengan sebentuk hati berwarna pink, seonggok cokelat di hari <i>valentine<\/i>,<br \/>\n segurat ekspresi cinta ala film korea, atau sebersit kenangan bersama<br \/>\ndi apel malam minggu, masih adakah cinta di atas cinta? Jujurlah pada<br \/>\nhati nurani dan kan kita temukan kata ya, tidak, atau kata ya dengan<br \/>\ntambahan kata tapi dan beragam pembenaran.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nKetika kita sedang jatuh<br \/>\ncinta, banyak dari kita yang tidak merasa sedang diuji. Di sanalah<br \/>\nberatnya ujian ini, ia terasa begitu indah. Dan, <i>no offense<\/i>, pernahkah kau merasa berdebar dan begitu bahagia ketika bertemu, berbicara dan bersenda gurau dengan seseorang? <i>Come on<\/i>,<br \/>\n semua orang pasti pernah jatuh cinta, ia adalah fitrah dan berkah bagi<br \/>\nmanusia, tapi apa jadinya ketika kemudian itu terjadi pada dua insan<br \/>\nmanusia yang belum terikat pernikahan? Di sinilah ujian menjadi semakin<br \/>\nberat. Setan dan konco-konconya membuat cinta terlarang amat mudah<br \/>\nmerasuki beragam jenis manusia mulai dari yang paling kacau balau hingga<br \/>\n yang paling salih. Buktinya masih banyak di antara kita yang menganggap<br \/>\n pacaran sebagai perbuatan tidak berdosa atau mungkin kecil dosanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSekelompok orang tanpa ragu<br \/>\nberpacaran mengumbar syahwat melebihi hubungan suami istri. Sekelompok<br \/>\nlagi berpacaran dengan kedok lain. Tak ingin disebut pacaran karena<br \/>\nmerasa kata itu begitu hina namun hubungan tetap dijalin. Mungkin hanya<br \/>\n\u201csilaturahmi\u201d ke rumah, makan bersama, saling memotivasi, atau sekedar<br \/>\nsaling mengirim sms tausiyah. Namun yang pasti kesemuanya dibangun atas<br \/>\nkedekatan fisik atau kelamaan berinteraksi yang berpotensi melemahkan<br \/>\niman.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nAdalah bohong jika kita<br \/>\ntidak tahu batas-batas yang dihalalkan agama atas interaksi antar lawan<br \/>\njenis. Akhirnya hubungan terlarang dibangun dengan membohongi hati<br \/>\nnurani. Mungkin sebagian dari kita berargumen hubungan seperti ini bisa<br \/>\nmenjadi hal yang positif dan saling melejitkan kedua pihak, tentu selama<br \/>\n menjaga batas-batas yang diperbolehkan agama, tidak saling bersentuhan<br \/>\nmisalnya. <i>But come on<\/i>, selama masih ada cinta dalam hubungan<br \/>\nterlarang, rasa rindu untuk bertemu akan selalu muncul, pun halnya<br \/>\ndengan angan-angan dan lintasan pikiran akan bayang-bayangnya.<br \/>\nKenyataannya bukan saling melejtikan tapi hanya akan melemahkan pikiran<br \/>\ndan menguatkan khayalan. Maka ketika kemudian kita sadar bahwa shalat<br \/>\ndan dzikir kita tak lagi khusyuk, prestasi mulai menurun, dan pikiran<br \/>\nsulit mencapai fokus, akankah kita memutuskan untuk mengangkhiri<br \/>\nhubungan terlarang ini? Jawabannya belum tentu iya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nBerpisah terlalu berat.<br \/>\nTerlebih jika cinta tlah semakin hebat. Maka kemudian yang muncul adalah<br \/>\n kepengecutan. Pengecut karena tak ingin berhenti dicintai,<br \/>\ndiperhatikan, atau dicemburui. Pengecut karena tak ingin kehilangan<br \/>\norang yang istimewa atau tempat istimewa di hati seseorang. Ayat Illahi<br \/>\ndan hati nurani terkalahkan nafsu pribadi. Hingga Ia yang Maha<br \/>\nPencemburu pun mungkin tak mau menoleh lagi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTapi percayalah, Allah Sang<br \/>\nMaha Cinta tak pernah lelah memberi petunjuk pada hamba-hamba-Nya.<br \/>\nSelama hati nurani masih mampu menangkap cahaya Illahi, niscaya<br \/>\nkejujurannya akan menguatkan diri dan mengokohkan iman. Fitrah untuk<br \/>\nkembali pada cinta di atas cinta akan selalu ada. Maka berhentilah<br \/>\nmembohongi hati nurani dan pilihlah cinta yang paling hakiki. Hanya<br \/>\nkepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon<br \/>\npertolongan ya Allah. Segala puji bagi Engkau yang tlah menunjukan jalan<br \/>\n yang lurus dan Engkau Ridhoi.<\/div>\n<div>\n<\/div>\n<div>\n<b>Mari Berbenah<\/b><\/div>\n<blockquote>\n<div>\n\u201c<i>Ya Allah, kau tahu hati ini terikat suka akan insan ciptaan-Mu.<\/i><\/div>\n<p><i><br \/>\n<\/i><\/p>\n<div>\n<i>Tapi aku takut cinta yang belum waktunya ini menjadi penghalangku mencium surga-Mu. <\/i><\/div>\n<p><i><br \/>\n<\/i><\/p>\n<div>\n<i>Berikan aku kekuatan menjaga cinta ini sampai pada waktunya andaikan Engkau mempertemukannya denganku kelak. <\/i><\/div>\n<p><i><br \/>\n<\/i><\/p>\n<div>\n<i>Berikan aku kekuatan untuk melupakannya sejenak. <\/i><\/div>\n<p><i><br \/>\n<\/i><\/p>\n<div>\n<i>Bukan karena aku tak mencintainya, justru karena aku sangat mencintainya.<\/i>\u201d<\/div>\n<div>\n(Ali Bin Abi Thalib)<\/div>\n<\/blockquote>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nAlangkah indah jika semua<br \/>\nkisah cinta berakhir seperti kisah cinta Fathimah dan Ali. Saling<br \/>\nmencintai tanpa tahu satu sama lain, berusaha keras menyembunyikan<br \/>\nbahkan melupakan cinta, namun pada akhirnya Allah mempertemukan mereka<br \/>\ndalam ikatan pernikahan suci nan dirahmati.&nbsp; Subhanallah.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTapi setiap kisah tak selalu<br \/>\n berakhir sama bukan? Yang harus kita lakukan sebagai manusia untuk<br \/>\nmencapai kebahagiaan hanyalah syukur dan prasangka yang baik kepada<br \/>\nAllah. Yakinlah semua akan indah pada waktunya dan Ia tlah menyiapkan<br \/>\nakhir yang lebih indah dari apapun yang kita bayangkan. Insya Allah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nBaiklah, sejujurnya saya<br \/>\nbingung di mana harus mengakhiri tulisan ini. Mungkin hanya ingin<br \/>\nsedikit curcol. Empat tahun itu rasanya cepat sekali. But yeah, bisa<br \/>\njadi setahun ke depan akan terasa lambat sekali tanpa kehadiran<br \/>\nseseorang :\u2019)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nAkhirnya, untuk<br \/>\nseseorang yang telah lama saya jadikan inspirasi, untuk ia yang baik<br \/>\nhati dan selalu saya kagumi, maaf karena kelemahan diri tlah membawa<br \/>\nhubungan kita terlalu jauh. Jaga kesehatan dan berhentilah menerobos<br \/>\nhujan atau tidur di lantai yang dingin. Mudah-mudahan Allah mengampuni<br \/>\nsegala dosa, memudahkan kita mengikhlaskan hati dan menjaga kita untuk<br \/>\nselalu istiqomah berada di jalan yang diridhoi-Nya. Amin ya Rabb.<br \/>\nMungkin suatu hari kita bisa bertemu lagi. Entah dalam kondisi apa dan<br \/>\nbagaimana, wallahualam bi sawab :\u2019)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nREBLOG dari <a href=\"http:\/\/sitinurfitriani.tumblr.com\/post\/50259298176\/ujian-cinta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">SINI<\/a> <\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cDijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).\u201d&nbsp;(QS. Ali-Imran: 14) Berbicara tentang cinta memang tak pernah ada habisnya. Seperti magis, daya tariknya tak pernah pudar dimakan waktu. Meski zaman silih berganti, ia masih dijadikan inspirasi atas jutaan lagu, prosa, film, hingga sinetron di televisi.&nbsp; Cinta memang unik. Ia adalah sumber kekuatan sekaligus kelemahan dalam diri manusia. Menjadi kekuatan jika ditempatkan sesuai porsinya, ditujukan pada yang berhak mendapatkannya, dan diekspresikan dengan cara-cara yang baik dan benar adanya. Tanpa terpenuhinya ketiga syarat ini, cinta dapat berubah menjadi sumber kelemahan manusia yang hanya akan melahirkan kehancuran dan malapetaka. Maka tak ada yang lebih berhak mendapatkan cinta terbaik, terdalam, dan termurni dari manusia kecuali Dia Sang Maha Cinta itu sendiri. Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antaranya. Yang tiada henti memberikan nikmat dan cinta pada hamba-hamba-Nya di seluruh belahan dunia. Dialah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Sudah semestinya cinta kepada-Nya berada di atas segala-galanya, karena itulah wujud iman dan takwa yang sebenarnya. Setiap detik dalam hidup kita adalah ujian cinta dari Sang Maha Cinta. Seperti halnya banyak ujian di sekolah yang akan menilai pintar atau bodohnya seseorang, ujian cinta dari Allah juga akan menjadi penilaian atas mulia atau kerdilnya seorang manusia. Nabi Ibrahim as, contoh teladan berprestasi atas ujian cinta dari Allah telah membuktikan kecintaan-Nya pada Sang Khalik berulang kali, mulai dari proses pembakaran dirinya oleh Raja Namrud, perintah meninggalkan anak dan istri yang dicintainya di padang kering kerontang tanpa makanan, hingga yang paling mengharukan adalah perintah untuk menyembelih anak tercintanya sendiri, Ismail. Subhanallah, semuanya dilewati beliau dengan nilai sempurna. Ia tlah membuktikan betapapun ia mencintai apa-apa yang Allah berikan di dunia, Allah lah pemilik cinta di atas cintanya, sebagaimana firman-Nya bahwa \u201cdi sisi Allah lah tempat kembali yang baik\u201d. Lalu di manakah kita berada? Ketika cinta hanya digambarkan dengan sebentuk hati berwarna pink, seonggok cokelat di hari valentine, segurat ekspresi cinta ala film korea, atau sebersit kenangan bersama di apel malam minggu, masih adakah cinta di atas cinta? Jujurlah pada hati nurani dan kan kita temukan kata ya, tidak, atau kata ya dengan tambahan kata tapi dan beragam pembenaran. Ketika kita sedang jatuh cinta, banyak dari kita yang tidak merasa sedang diuji. Di sanalah beratnya ujian ini, ia terasa begitu indah. Dan, no offense, pernahkah kau merasa berdebar dan begitu bahagia ketika bertemu, berbicara dan bersenda gurau dengan seseorang? Come on, semua orang pasti pernah jatuh cinta, ia adalah fitrah dan berkah bagi manusia, tapi apa jadinya ketika kemudian itu terjadi pada dua insan manusia yang belum terikat pernikahan? Di sinilah ujian menjadi semakin berat. Setan dan konco-konconya membuat cinta terlarang amat mudah merasuki beragam jenis manusia mulai dari yang paling kacau balau hingga yang paling salih. Buktinya masih banyak di antara kita yang menganggap pacaran sebagai perbuatan tidak berdosa atau mungkin kecil dosanya. Sekelompok orang tanpa ragu berpacaran mengumbar syahwat melebihi hubungan suami istri. Sekelompok lagi berpacaran dengan kedok lain. Tak ingin disebut pacaran karena merasa kata itu begitu hina namun hubungan tetap dijalin. Mungkin hanya \u201csilaturahmi\u201d ke rumah, makan bersama, saling memotivasi, atau sekedar saling mengirim sms tausiyah. Namun yang pasti kesemuanya dibangun atas kedekatan fisik atau kelamaan berinteraksi yang berpotensi melemahkan iman. Adalah bohong jika kita tidak tahu batas-batas yang dihalalkan agama atas interaksi antar lawan jenis. Akhirnya hubungan terlarang dibangun dengan membohongi hati nurani. Mungkin sebagian dari kita berargumen hubungan seperti ini bisa menjadi hal yang positif dan saling melejitkan kedua pihak, tentu selama menjaga batas-batas yang diperbolehkan agama, tidak saling bersentuhan misalnya. But come on, selama masih ada cinta dalam hubungan terlarang, rasa rindu untuk bertemu akan selalu muncul, pun halnya dengan angan-angan dan lintasan pikiran akan bayang-bayangnya. Kenyataannya bukan saling melejtikan tapi hanya akan melemahkan pikiran dan menguatkan khayalan. Maka ketika kemudian kita sadar bahwa shalat dan dzikir kita tak lagi khusyuk, prestasi mulai menurun, dan pikiran sulit mencapai fokus, akankah kita memutuskan untuk mengangkhiri hubungan terlarang ini? Jawabannya belum tentu iya. Berpisah terlalu berat. Terlebih jika cinta tlah semakin hebat. Maka kemudian yang muncul adalah kepengecutan. Pengecut karena tak ingin berhenti dicintai, diperhatikan, atau dicemburui. Pengecut karena tak ingin kehilangan orang yang istimewa atau tempat istimewa di hati seseorang. Ayat Illahi dan hati nurani terkalahkan nafsu pribadi. Hingga Ia yang Maha Pencemburu pun mungkin tak mau menoleh lagi. Tapi percayalah, Allah Sang Maha Cinta tak pernah lelah memberi petunjuk pada hamba-hamba-Nya. Selama hati nurani masih mampu menangkap cahaya Illahi, niscaya kejujurannya akan menguatkan diri dan mengokohkan iman. Fitrah untuk kembali pada cinta di atas cinta akan selalu ada. Maka berhentilah membohongi hati nurani dan pilihlah cinta yang paling hakiki. Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan ya Allah. Segala puji bagi Engkau yang tlah menunjukan jalan yang lurus dan Engkau Ridhoi. Mari Berbenah \u201cYa Allah, kau tahu hati ini terikat suka akan insan ciptaan-Mu. Tapi aku takut cinta yang belum waktunya ini menjadi penghalangku mencium surga-Mu. Berikan aku kekuatan menjaga cinta ini sampai pada waktunya andaikan Engkau mempertemukannya denganku kelak. Berikan aku kekuatan untuk melupakannya sejenak. Bukan karena aku tak mencintainya, justru karena aku sangat mencintainya.\u201d (Ali Bin Abi Thalib) Alangkah indah jika semua kisah cinta berakhir seperti kisah cinta Fathimah dan Ali. Saling mencintai tanpa tahu satu sama lain, berusaha keras menyembunyikan bahkan melupakan cinta, namun pada akhirnya Allah mempertemukan mereka dalam ikatan pernikahan suci nan dirahmati.&nbsp; Subhanallah.&nbsp; Tapi setiap kisah tak selalu berakhir sama bukan? Yang harus kita lakukan sebagai manusia untuk mencapai kebahagiaan hanyalah syukur dan prasangka yang baik kepada Allah. Yakinlah semua akan indah pada waktunya dan Ia tlah menyiapkan akhir yang lebih indah dari apapun yang kita bayangkan. Insya Allah. Baiklah, sejujurnya saya bingung di mana harus mengakhiri tulisan ini. Mungkin hanya ingin sedikit curcol. Empat tahun itu rasanya cepat sekali. But yeah, bisa jadi setahun ke depan akan terasa lambat sekali tanpa kehadiran seseorang :\u2019) Akhirnya, untuk seseorang yang telah lama saya jadikan inspirasi, untuk ia yang baik hati dan selalu saya kagumi, maaf karena kelemahan diri tlah membawa hubungan kita terlalu jauh. Jaga kesehatan dan berhentilah menerobos hujan atau tidur di lantai yang dingin. Mudah-mudahan Allah mengampuni segala dosa, memudahkan kita mengikhlaskan hati dan menjaga kita untuk selalu istiqomah berada di jalan yang diridhoi-Nya. Amin ya Rabb. Mungkin suatu hari kita bisa bertemu lagi. Entah dalam kondisi apa dan bagaimana, wallahualam bi sawab :\u2019) REBLOG dari SINI<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"wprm-recipe-roundup-name":"","wprm-recipe-roundup-description":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[26,18,46],"tags":[],"aioseo_notices":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/331"}],"collection":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=331"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/331\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=331"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=331"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=331"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}