{"id":361,"date":"2013-03-18T14:20:00","date_gmt":"2013-03-18T14:20:00","guid":{"rendered":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=361"},"modified":"2013-03-18T14:20:00","modified_gmt":"2013-03-18T14:20:00","slug":"suka-duka-wawancara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=361","title":{"rendered":"Suka-Duka Wawancara*"},"content":{"rendered":"<p>Bismilllah..<\/p>\n<p><b><i>Ini semua tentang mimpi, makin sering kita membayangkannya, membacanya, menuliskannya, berhubungan dengannya entah dengan cara apapun. Semoga akan membuat visualisasi itu semakin nyata. Dan entah kapan, dan dimana, bahkan berkat doa siapa&nbsp; harapan kita akan diwujud.Semoga tetes air setiap waktu sahur akan mempercepat kabulnya doa ku, kamu dan kita.<\/i><\/b><\/p>\n<div>\n Oleh <strong>Mahening Citra Vidya<\/strong><br \/>\n Penerima Beasiswa Unggulan Dikti 2012<br \/>\n <em>Master in Mechanical Engineering, University of Twente<\/em><br \/>\n &nbsp;<\/div>\n<div>\n <img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" alt=\"\" height=\"300\" src=\"http:\/\/ppibelanda.org\/sites\/default\/files\/resize\/citra_bu-333x250.jpg\" width=\"400\" \/><\/div>\n<p>\n Halo!<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n Saya Citra, 22 tahun. Sekarang berdomisili di Enschede karena sedang<br \/>\nmenuntut ilmu di Universiteit Twente. Rasanya tidak perlu saya ceritakan<br \/>\n secara panjang-lebar dari awal sampai akhir bagaimana dramatisnya<br \/>\nperjalanan saya untuk bisa bersekolah di Twente karena &#8211;sama seperti<br \/>\nyang lain\u2014tentu saja melibatkan keringat dan kerja keras (empat gagal,<br \/>\ndua tak ada kabar, satu sukses). Alhamdulillah bisa sampai di sini,<br \/>\ndibayarin pula.&nbsp;<\/div>\n<p><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n Saya mendapat beasiswa dari Dikti. Salah satu pengalaman yang paling<br \/>\nberkesan dan membuat saya bersyukur habis-habisan mungkin adalah saat<br \/>\nsaya diwawancara oleh pihak pemberi beasiswa, sekitar bulan Mei 2012.<br \/>\nKetika itu, saya mendapat panggilan wawancara setelah lolos tahap<br \/>\nseleksi dokumen.&nbsp; Dalam surat undangan wawancara, tertulis bahwa acara<br \/>\nyang akan dilakukan adalah \u201cverifikasi dokumen\u201d, yang tentu saja membuat<br \/>\n saya bersiap-siap menyediakan setumpuk dokumen yang mungkin akan<br \/>\nditanya: hasil tes TOEFL asli, transkrip, ijazah, research proposal,<br \/>\nfotokopi paspor, dan sebagainya. Tak lupa saya menyiapkan daftar<br \/>\npertanyaan apa saja yang mungkin akan ditanyakan oleh pewawancara,<br \/>\nlengkap beserta jawaban yang telah didiskusikan terlebih dahulu dengan<br \/>\nkakak saya. Walaupun ini merupakan wawancara yang kesekian kalinya dalam<br \/>\n perjalanan saya mencari beasiswa, saya kembali bertanya kepada dosen,<br \/>\nsaudara, teman yang sedang kuliah di luar negeri, berlatih monolog dalam<br \/>\n bahasa Inggris, dan tentu saja melakukan simulasi wawancara via skype<br \/>\ndengan kakak saya dan istrinya. Mereka berdua berperan sebagai \u201cthe<br \/>\nharshest interviewer ever\u201d dan membantai habis pada setiap jawaban yang<br \/>\nsaya berikan. <em>You should try this, people. Nothing\u2019s better than having a totally low self-esteem before your interview!<\/em><br \/>\n Pelajaran moral pertama: separah apapun wawancara besok, tak ada yang<br \/>\nbisa mengalahkan research proposal yang dibantai habis oleh kakak<br \/>\nsendiri. Pertanyaan-pertanyaannya yang cepat dan tak disangka-sangka<br \/>\nseperti ini sangat membantu saya berlatih. Tentu saja saran dan evaluasi<br \/>\n dari keduanya juga membuat saya merasa lebih siap keesokan harinya.<br \/>\nSalah satu saran yang menurut saya bagus sekali adalah: lebih baik<br \/>\nbicara lambat dan lancar daripada cepat namun terpatah-patah di tengah<br \/>\nkalimat.<\/p>\n<p> Pada hari-H wawancara, ternyata beberapa pertanyaan yang telah saya<br \/>\nantisipasi benar-benar muncul. Dengan senang hati saya jawab semuanya<br \/>\ndengan penuh percaya diri. Kebetulan pewawancara saya adalah seorang ibu<br \/>\n separuh baya dengan bahasa Inggris yang bagus dan lancar, otak tajam,<br \/>\ndan sering menyela di tengah-tengah kalimat untuk menggali jalan pikiran<br \/>\n saya lebih dalam lagi. Beruntung saya telah dilatih oleh \u201cthose two<br \/>\nharshest interviewers ever\u201d, ternyata pertanyaan yang bertubi-tubi<br \/>\nseperti ini cukup membuat saya berkeringat dingin. Contohnya: <em>\u201cWhy<br \/>\ndo you choose Netherlands?\u201d \u201cAre you sure you can live there?\u201d \u201cCan you<br \/>\nspeak Dutch? No??\u201d, \u201cThen how can you be sure that you can finish your<br \/>\nmaster programme there?\u201d, \u201cAnd now you choose a specialization that is<br \/>\nnot related at all with your previous bachelor project??\u201d, \u201cLet\u2019s see<br \/>\nyour research proposal.. From all of these references, is there any<br \/>\npublication written by a Dutch man?\u201d, \u201cThen why do you choose<br \/>\nNetherlands?\u201d, \u201cBut why do you choose University of Twente?\u201d, \u201cOh, I do<br \/>\nknow a better university for mechanical engineering, in Germany.\u201d, \u201cThis<br \/>\n university is not the best one in Europe. Why don\u2019t you aim higher?\u201d<br \/>\n\u201cLiving in Europe is expensive, isn\u2019t it?\u201d (thank God I made a financial<br \/>\n plan last night)<\/em>, etcetera, etcetera, sampai pada akhirnya beliau<br \/>\nmeminta saya menunjukkan dokumen-dokumen asli yang diminta. Masalah<br \/>\nmuncul ketika beliau bertanya, <em>\u201cDo you have a proof of advisorship?\u201d<\/em><\/p>\n<p> Saya bengong, tentu saja. Tak ada kata-kata \u201cproof of advisorship\u201d di<br \/>\ndaftar dokumen yang diminta oleh Dikti sebelumnya. Di perguruan tinggi<br \/>\ntujuan saya, tahun pertama diisi dengan kuliah sehingga tesis baru<br \/>\ndimulai pada tahun kedua. Tidak seperti mahasiswa program doktor,<br \/>\nmahasiswa master tidak perlu memiliki dosen pembimbing pada tahun<br \/>\npertama karena tesis dan spesialisasi yang akan diambil baru ditentukan<br \/>\npada tahun kedua. Walaupun saya telah mengontak dosen-dosen Twente, saya<br \/>\n belum mempunyai pembimbing tesis resmi, dan itu artinya ada kemungkinan<br \/>\n nama saya akan dicoret dari daftar penerima beasiswa karena dokumen<br \/>\n\u201cproof of advisorship\u201d saya tidak lengkap.<\/p>\n<p><em>\u201cUh, no, I do not have it. What do you mean by \u2018proof of advisorship\u2019?\u201d<\/em>Keringat dingin menetes.<br \/>\n Beliau mulai menjelaskan secara singkat-padat-jelas mengenai dokumen<br \/>\nyang dimaksud, yaitu bukti berupa print out email atau korespondensi<br \/>\napapun yang menunjukkan bahwa ada seorang profesor di Twente yang<br \/>\nbersedia menjadi pembimbing tesis saya. Makin meneteslah keringat dingin<br \/>\n saya.<br \/><em>\u201cI have contacted a professor in Twente by email, is it sufficient? But I do not bring it right now, so may I print it&#8230;\u201d<\/em><br \/><em>\u201cSure. Bring it here before 12 o\u2019clock. I\u2019ll be here.\u201d<\/em><\/p>\n<p> Kemudian sang pewawancara dengan cueknya menunduk dan menulis sesuatu<br \/>\ndi hadapan saya, bahasa tubuh yang cukup jelas mengisyaratkan bahwa sesi<br \/>\n wawancara telah selesai. Dengan mata nanar, saya berjalan ke arah pintu<br \/>\n keluar sambil melihat pelamar-pelamar lain yang masih diwawancara. Meja<br \/>\n sebelah saya sepertinya ceria sekali, pewawancaranya seorang bapak<br \/>\n&nbsp;berambut semburat putih dan pelamar beasiswanya seorang gadis cantik<br \/>\nyang sedang tertawa riang.. (maaf, nggak penting). <em>Anyway, <\/em>jam<br \/>\nmenunjukkan pukul 09.30, jadi saya masih mempunyai waktu sekitar dua<br \/>\nsetengah jam untuk mencetak email-email saya dan mendapatkan \u201c<em>proof of advisorship\u201d<\/em><br \/>\n itu, entah bagaimanapun caranya. Plan A sampai Z disusun, dengan<br \/>\nkemungkinan terburuk adalah kembali ke tempat wawancara dengan tangan<br \/>\nhampa.<\/p>\n<p> Hal pertama yang saya lakukan yaitu segera kembali ke tempat kos untuk<br \/>\nmendapatkan akses internet, laptop, printer, dan semuanya. Tempat<br \/>\nwawancara cukup jauh dari peradaban, tidak ada printer maupun tempat<br \/>\nnge-print di sekitarnya. Hanya ada masjid. Mungkin kalau saya menyerah,<br \/>\nsaya sudah tidur-tiduran dan pasrah berdoa di masjid alih-alih buru-buru<br \/>\n kembali ke rumah kos. Dalam perjalanan pulang ke tempat kos, saya<br \/>\nmenelepon kakak kelas saya di Twente dengan harapan mendapat penjelasan<br \/>\nmengenai cara untuk mendapatkan dosen pembimbing dalam waktu kurang dari<br \/>\n dua jam,birokrasi, dan sistem yang berlaku di Twente. Berhubung saya<br \/>\nmenelepon jam 10 WIB, di Belanda saat itu masih pukul&nbsp; 5 dini hari dan<br \/>\nkakak kelas saya tak jelas bicara apa. Menelepon Pak Profesor pun tak<br \/>\nmungkin. Akhirnya saya mengirim email kepada beliau dan seorang dosen<br \/>\nlain yang saya harap dapat membantu saya mendapatkan surat <em>\u201cproof of advisorship\u201d <\/em>tersebut.<br \/>\n Saya sudah pasrah begitu mengetahui bahwa tak mungkin email saya akan<br \/>\ndibalas dalam waktu dua jam. Saya pun kembali ke tempat wawancara dengan<br \/>\n membawa lembaran-lembaran hasil cetakan email percakapan saya dengan<br \/>\nPak Profesor.<\/p>\n<p> Tepat pukul 12.00 WIB, saya sampai kembali di tempat wawancara dan Ibu<br \/>\nPewawancara masih menunduk menulis sesuatu di mejanya. Saya serahkan<br \/>\nemail korespondensi saya, namun beliau berkata bahwa yang benar-benar<br \/>\ndibutuhkan adalah selembar kertas dengan pernyataan tegas dari seorang<br \/>\nprofesor yang bersedia menjadi pembimbing tesis saya. Akhirnya saya<br \/>\nberanikan diri untuk bertanya apakah dokumen tersebut bisa disusulkan<br \/>\ndan alhamdulillah, beliau menyetujui!<br \/>\n Pelajaran moral nomor dua: mungkin saja hal-hal semacam ini terjadi<br \/>\npada saat wawancara, hanya untuk melihat tingkat keseriusan pelamar<br \/>\ndalam memenuhi tenggat waktu.<\/p>\n<p> Pelajaran moral nomor tiga: siapkan Letter of Advisorship. Walaupun<br \/>\npihak universitas menolak untuk memberikan surat tersebut karena<br \/>\nmahasiswa S2&nbsp; masih belum menyelesaikan kuliah tahun pertama, sebaiknya<br \/>\nlangsung minta saja ke calon profesor pembimbing.<\/p>\n<p> Singkat cerita, saya mendapatkan<br \/>\nselembar-kertas-berisi-pernyataan-tegas-Pak-Profesor-lengkap-dengan-tanda-tangannya.<br \/>\n Luar biasa, betapa responsif dosen-dosen Twente dalam membantu saya<br \/>\nmendapatkan surat tersebut tanpa birokrasi yang berbelit-belit. Saya<br \/>\nkumpulkan keesokan harinya, dan alhamdulillah here I am now! <\/p><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<a href=\"http:\/\/ppibelanda.org\/node\/suka-duka-wawancara\">Source<\/a><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bismilllah.. Ini semua tentang mimpi, makin sering kita membayangkannya, membacanya, menuliskannya, berhubungan dengannya entah dengan cara apapun. Semoga akan membuat visualisasi itu semakin nyata. Dan entah kapan, dan dimana, bahkan berkat doa siapa&nbsp; harapan kita akan diwujud.Semoga tetes air setiap waktu sahur akan mempercepat kabulnya doa ku, kamu dan kita. Oleh Mahening Citra Vidya Penerima Beasiswa Unggulan Dikti 2012 Master in Mechanical Engineering, University of Twente &nbsp; Halo! Saya Citra, 22 tahun. Sekarang berdomisili di Enschede karena sedang menuntut ilmu di Universiteit Twente. Rasanya tidak perlu saya ceritakan secara panjang-lebar dari awal sampai akhir bagaimana dramatisnya perjalanan saya untuk bisa bersekolah di Twente karena &#8211;sama seperti yang lain\u2014tentu saja melibatkan keringat dan kerja keras (empat gagal, dua tak ada kabar, satu sukses). Alhamdulillah bisa sampai di sini, dibayarin pula.&nbsp; Saya mendapat beasiswa dari Dikti. Salah satu pengalaman yang paling berkesan dan membuat saya bersyukur habis-habisan mungkin adalah saat saya diwawancara oleh pihak pemberi beasiswa, sekitar bulan Mei 2012. Ketika itu, saya mendapat panggilan wawancara setelah lolos tahap seleksi dokumen.&nbsp; Dalam surat undangan wawancara, tertulis bahwa acara yang akan dilakukan adalah \u201cverifikasi dokumen\u201d, yang tentu saja membuat saya bersiap-siap menyediakan setumpuk dokumen yang mungkin akan ditanya: hasil tes TOEFL asli, transkrip, ijazah, research proposal, fotokopi paspor, dan sebagainya. Tak lupa saya menyiapkan daftar pertanyaan apa saja yang mungkin akan ditanyakan oleh pewawancara, lengkap beserta jawaban yang telah didiskusikan terlebih dahulu dengan kakak saya. Walaupun ini merupakan wawancara yang kesekian kalinya dalam perjalanan saya mencari beasiswa, saya kembali bertanya kepada dosen, saudara, teman yang sedang kuliah di luar negeri, berlatih monolog dalam bahasa Inggris, dan tentu saja melakukan simulasi wawancara via skype dengan kakak saya dan istrinya. Mereka berdua berperan sebagai \u201cthe harshest interviewer ever\u201d dan membantai habis pada setiap jawaban yang saya berikan. You should try this, people. Nothing\u2019s better than having a totally low self-esteem before your interview! Pelajaran moral pertama: separah apapun wawancara besok, tak ada yang bisa mengalahkan research proposal yang dibantai habis oleh kakak sendiri. Pertanyaan-pertanyaannya yang cepat dan tak disangka-sangka seperti ini sangat membantu saya berlatih. Tentu saja saran dan evaluasi dari keduanya juga membuat saya merasa lebih siap keesokan harinya. Salah satu saran yang menurut saya bagus sekali adalah: lebih baik bicara lambat dan lancar daripada cepat namun terpatah-patah di tengah kalimat. Pada hari-H wawancara, ternyata beberapa pertanyaan yang telah saya antisipasi benar-benar muncul. Dengan senang hati saya jawab semuanya dengan penuh percaya diri. Kebetulan pewawancara saya adalah seorang ibu separuh baya dengan bahasa Inggris yang bagus dan lancar, otak tajam, dan sering menyela di tengah-tengah kalimat untuk menggali jalan pikiran saya lebih dalam lagi. Beruntung saya telah dilatih oleh \u201cthose two harshest interviewers ever\u201d, ternyata pertanyaan yang bertubi-tubi seperti ini cukup membuat saya berkeringat dingin. Contohnya: \u201cWhy do you choose Netherlands?\u201d \u201cAre you sure you can live there?\u201d \u201cCan you speak Dutch? No??\u201d, \u201cThen how can you be sure that you can finish your master programme there?\u201d, \u201cAnd now you choose a specialization that is not related at all with your previous bachelor project??\u201d, \u201cLet\u2019s see your research proposal.. From all of these references, is there any publication written by a Dutch man?\u201d, \u201cThen why do you choose Netherlands?\u201d, \u201cBut why do you choose University of Twente?\u201d, \u201cOh, I do know a better university for mechanical engineering, in Germany.\u201d, \u201cThis university is not the best one in Europe. Why don\u2019t you aim higher?\u201d \u201cLiving in Europe is expensive, isn\u2019t it?\u201d (thank God I made a financial plan last night), etcetera, etcetera, sampai pada akhirnya beliau meminta saya menunjukkan dokumen-dokumen asli yang diminta. Masalah muncul ketika beliau bertanya, \u201cDo you have a proof of advisorship?\u201d Saya bengong, tentu saja. Tak ada kata-kata \u201cproof of advisorship\u201d di daftar dokumen yang diminta oleh Dikti sebelumnya. Di perguruan tinggi tujuan saya, tahun pertama diisi dengan kuliah sehingga tesis baru dimulai pada tahun kedua. Tidak seperti mahasiswa program doktor, mahasiswa master tidak perlu memiliki dosen pembimbing pada tahun pertama karena tesis dan spesialisasi yang akan diambil baru ditentukan pada tahun kedua. Walaupun saya telah mengontak dosen-dosen Twente, saya belum mempunyai pembimbing tesis resmi, dan itu artinya ada kemungkinan nama saya akan dicoret dari daftar penerima beasiswa karena dokumen \u201cproof of advisorship\u201d saya tidak lengkap. \u201cUh, no, I do not have it. What do you mean by \u2018proof of advisorship\u2019?\u201dKeringat dingin menetes. Beliau mulai menjelaskan secara singkat-padat-jelas mengenai dokumen yang dimaksud, yaitu bukti berupa print out email atau korespondensi apapun yang menunjukkan bahwa ada seorang profesor di Twente yang bersedia menjadi pembimbing tesis saya. Makin meneteslah keringat dingin saya.\u201cI have contacted a professor in Twente by email, is it sufficient? But I do not bring it right now, so may I print it&#8230;\u201d\u201cSure. Bring it here before 12 o\u2019clock. I\u2019ll be here.\u201d Kemudian sang pewawancara dengan cueknya menunduk dan menulis sesuatu di hadapan saya, bahasa tubuh yang cukup jelas mengisyaratkan bahwa sesi wawancara telah selesai. Dengan mata nanar, saya berjalan ke arah pintu keluar sambil melihat pelamar-pelamar lain yang masih diwawancara. Meja sebelah saya sepertinya ceria sekali, pewawancaranya seorang bapak &nbsp;berambut semburat putih dan pelamar beasiswanya seorang gadis cantik yang sedang tertawa riang.. (maaf, nggak penting). Anyway, jam menunjukkan pukul 09.30, jadi saya masih mempunyai waktu sekitar dua setengah jam untuk mencetak email-email saya dan mendapatkan \u201cproof of advisorship\u201d itu, entah bagaimanapun caranya. Plan A sampai Z disusun, dengan kemungkinan terburuk adalah kembali ke tempat wawancara dengan tangan hampa. Hal pertama yang saya lakukan yaitu segera kembali ke tempat kos untuk mendapatkan akses internet, laptop, printer, dan semuanya. Tempat wawancara cukup jauh dari peradaban, tidak ada printer maupun tempat nge-print di sekitarnya. Hanya ada masjid. Mungkin kalau saya menyerah, saya sudah tidur-tiduran dan pasrah berdoa di masjid alih-alih buru-buru kembali ke rumah kos. Dalam perjalanan pulang ke tempat kos, saya menelepon kakak kelas saya di Twente dengan harapan mendapat penjelasan mengenai cara untuk mendapatkan dosen pembimbing dalam waktu kurang dari dua jam,birokrasi, dan sistem yang berlaku di Twente. Berhubung saya menelepon jam 10 WIB, di Belanda saat itu masih pukul&nbsp; 5 dini hari dan kakak kelas saya tak jelas bicara apa. Menelepon Pak Profesor pun tak mungkin. Akhirnya saya mengirim email kepada beliau dan seorang dosen lain yang saya harap dapat membantu saya mendapatkan surat \u201cproof of advisorship\u201d tersebut. Saya sudah pasrah begitu mengetahui bahwa tak mungkin email saya akan dibalas dalam waktu dua jam. Saya pun kembali ke tempat wawancara dengan membawa lembaran-lembaran hasil cetakan email percakapan saya dengan Pak Profesor. Tepat pukul 12.00 WIB, saya sampai kembali di tempat wawancara dan Ibu Pewawancara masih menunduk menulis sesuatu di mejanya. Saya serahkan email korespondensi saya, namun beliau berkata bahwa yang benar-benar dibutuhkan adalah selembar kertas dengan pernyataan tegas dari seorang profesor yang bersedia menjadi pembimbing tesis saya. Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya apakah dokumen tersebut bisa disusulkan dan alhamdulillah, beliau menyetujui! Pelajaran moral nomor dua: mungkin saja hal-hal semacam ini terjadi pada saat wawancara, hanya untuk melihat tingkat keseriusan pelamar dalam memenuhi tenggat waktu. Pelajaran moral nomor tiga: siapkan Letter of Advisorship. Walaupun pihak universitas menolak untuk memberikan surat tersebut karena mahasiswa S2&nbsp; masih belum menyelesaikan kuliah tahun pertama, sebaiknya langsung minta saja ke calon profesor pembimbing. Singkat cerita, saya mendapatkan selembar-kertas-berisi-pernyataan-tegas-Pak-Profesor-lengkap-dengan-tanda-tangannya. Luar biasa, betapa responsif dosen-dosen Twente dalam membantu saya mendapatkan surat tersebut tanpa birokrasi yang berbelit-belit. Saya kumpulkan keesokan harinya, dan alhamdulillah here I am now! Source<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"wprm-recipe-roundup-name":"","wprm-recipe-roundup-description":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[49,7,16],"tags":[],"aioseo_notices":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/361"}],"collection":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=361"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/361\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=361"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=361"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=361"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}