{"id":363,"date":"2013-03-18T10:24:00","date_gmt":"2013-03-18T10:24:00","guid":{"rendered":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=363"},"modified":"2013-03-18T10:24:00","modified_gmt":"2013-03-18T10:24:00","slug":"spektrofotometer-ftir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=363","title":{"rendered":"Spektrofotometer FTIR"},"content":{"rendered":"<p>Bismillah..<\/p>\n<p>Alhamdulillah hari belajar sedikit tentang FT-IR dari kuliah bu susila. Sebenernya sebelum belajar tentang FT-IR sebaiknya ngerti tentang IR Spektrofotometri dulu<b>, <\/b>dan kalo mau ngintip sedikit tentang IR bisa <a href=\"http:\/\/haska.org\/2012\/09\/19\/mekanisme-dasar-mass-spectrometer\/\">disini<\/a>.<br \/>\n<b><\/b><\/p>\n<p><b>Spektrofotometer FTIR<\/b><\/p>\n<div style=\"width: 272px;\">\n<a href=\"http:\/\/haska.org\/wp-content\/uploads\/2012\/09\/fourier.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" alt=\"Jean Baptiste Joseph Fourier (1768-1830)\" class=\"size-medium wp-image-1652\" height=\"300\" src=\"http:\/\/haska.org\/wp-content\/uploads\/2012\/09\/fourier-262x300.jpg\" title=\"Jean Baptiste Joseph Fourier (1768-1830)\" width=\"262\" \/><\/a><\/p>\n<div>\nJean Baptiste Joseph Fourier (1768-1830)<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nPada dasarnya Spektrofotometer FTIR (<i>Fourier Trasform Infra Red<\/i>)<br \/>\n adalah sama dengan Spektrofotometer IR dispersi, yang membedakannya<br \/>\nadalah pengembangan pada sistim optiknya sebelum berkas sinar infra<br \/>\nmerah melewati contoh. Dasar pemikiran dari Spektrofotometer FTIR adalah<br \/>\n dari persamaan gelombang yang dirumuskan oleh <a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Joseph_Fourier\" target=\"_blank\" title=\"Jean Baptiste Joseph Fourier (1768 - 1830)\" rel=\"noopener\">Jean Baptiste Joseph Fourier (1768-1830)<\/a> seorang ahli matematika dari Perancis. Fourier mengemukakan deret persamaan gelombang elektronik sebagai persamaan berikut :<\/div>\n<div style=\"text-align: center;\">\n<img decoding=\"async\" alt=\"Persamaan Deret\u00a0Fourier\" class=\" aligncenter\" height=\"38\" src=\"http:\/\/persembahanku.files.wordpress.com\/2007\/05\/persamaan-fourier.jpg\" title=\"Persamaan Deret Fourier\" width=\"500\" \/><\/div>\n<p>dimana :<br \/>\n&#8211;&nbsp; <i><b>a<\/b><\/i> dan <b><i>b<\/i><\/b> merupakan suatu tetapan<br \/>\n&#8211;&nbsp; <i><b>t<\/b><\/i> adalah waktu<br \/>\n&#8211;&nbsp; <b><i>\u03c9<\/i><\/b> adalah frekwensi sudut (radian per detik)<br \/>\n( <b><i>\u03c9 = 2 \u03a0 f <\/i><\/b>dan <b><i>f <\/i><\/b>adalah frekwensi dalam Hertz)<\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nDari <a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Fourier_transform\" target=\"_blank\" title=\"Transformasi Fourier\" rel=\"noopener\">deret Fourier<\/a><br \/>\n tersebut intensitas gelombang dapat digambarkan sebagai daerah waktu<br \/>\natau daerah frekwensi. Perubahan gambaran intensitas gelobang radiasi<br \/>\nelektromagnetik dari daerah waktu ke daerah frekwensi atau sebaliknya<br \/>\ndisebut <a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Fourier_transform\" target=\"_blank\" title=\"Transformasi Fourier\" rel=\"noopener\">Transformasi Fourier (<i>Fourier Transform<\/i>).<\/a><\/div>\n<p><a href=\"http:\/\/haska.org\/wp-content\/uploads\/2012\/09\/spktro-ftir.jpg\"><img decoding=\"async\" alt=\"Spektrofotometer FTIR\" class=\"size-large wp-image-1660 aligncenter\" height=\"179\" src=\"http:\/\/haska.org\/wp-content\/uploads\/2012\/09\/spktro-ftir-640x179.jpg\" title=\"Spektrofotometer FTIR\" width=\"640\" \/><\/a><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSelanjutnya pada sistim optik peralatan instrumen FTIR dipakai dasar<br \/>\ndaerah waktu yang non dispersif. Sebagai contoh aplikasi pemakaian<br \/>\ngelombang radiasi elektromagnetik yang berdasarkan daerah waktu adalah<br \/>\ninterferometer yang dikemukakan oleh Albert Abraham Michelson (Jerman,<br \/>\n1831). Perbedaan sistim optik Spektrofotometer IR dispersif (<i>Hadamard Transform<\/i>) dan Interferometer Michelson pada Spektrofotometer FTIR (<i>Fourier Transform<\/i>) tampak pada gambar berikut :<\/div>\n<div style=\"width: 633px;\">\n<a href=\"http:\/\/haska.org\/wp-content\/uploads\/2012\/09\/perbedaan-sistim-optik-besar.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" alt=\"Perbedaan sistim optik dispersi dan FTIR\" class=\" wp-image-1662\" height=\"350\" src=\"http:\/\/haska.org\/wp-content\/uploads\/2012\/09\/perbedaan-sistim-optik-besar-640x360.jpg\" title=\"Perbedaan sistim optik dispersi dan FTIR\" width=\"623\" \/><\/a><\/p>\n<div>\nPerbedaan sistim optik dispersi dan FTIR<\/div>\n<\/div>\n<p>\n<b>Cara Kerja Alat Spektrofotometer FTIR<\/b><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSistim optik Spektrofotometer FTIR seperti pada gambar dibawah ini<br \/>\ndilengkapi dengan cermin yang bergerak tegak lurus dan cermin yang diam.<br \/>\n Dengan demikian radiasi infra merah akan menimbulkan perbedaan jarak<br \/>\nyang ditempuh menuju cermin yang bergerak ( M ) dan jarak cermin yang<br \/>\ndiam ( F ). Perbedaan jarak tempuh radiasi tersebut adalah 2&nbsp; yang<br \/>\nselanjutnya disebut sebagai retardasi (&nbsp;\u03b4 ). Hubungan antara intensitas<br \/>\nradiasi IR yang diterima detektor terhadap retardasi disebut sebagai<br \/>\ninterferogram. Sedangkan sistim optik dari Spektrofotometer IR yang<br \/>\ndidasarkan atas bekerjanya interferometer disebut sebagai sistim optik <i>Fourier Transform Infra Red<\/i>.<\/div>\n<div style=\"width: 636px;\">\n<a href=\"http:\/\/haska.org\/wp-content\/uploads\/2012\/09\/sistim-optik-ftir-besar.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" alt=\"Sistim optik interferometer Michelson pada Spektrofotometer FTIR.\" class=\" wp-image-1648\" height=\"436\" src=\"http:\/\/haska.org\/wp-content\/uploads\/2012\/09\/sistim-optik-ftir-besar-640x447.jpg\" title=\"Sistim optik interferometer Michelson pada Spektrofotometer FTIR.\" width=\"626\" \/><\/a><\/p>\n<div>\nSistim optik interferometer Michelson pada Spektrofotometer FTIR.<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nPada sistim optik FTIR digunakan radiasi LASER (<i>Light Amplification by Stimulated Emmission of Radiation<\/i>)<br \/>\n yang berfungsi sebagai radiasi yang diinterferensikan dengan radiasi<br \/>\ninfra merah agar sinyal radiasi infra merah yang diterima oleh detektor<br \/>\nsecara utuh dan lebih baik.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nDetektor yang digunakan dalam Spektrofotometer FTIR adalah TGS (<i>Tetra Glycerine Sulphate<\/i>) atau MCT (<i>Mercury Cadmium Telluride<\/i>).<br \/>\n Detektor MCT lebih banyak digunakan karena memiliki beberapa kelebihan<br \/>\ndibandingkan detektor TGS, yaitu memberikan respon yang lebih baik pada<br \/>\nfrekwensi modulasi tinggi, lebih sensitif, lebih cepat, tidak<br \/>\ndipengaruhi oleh temperatur, sangat selektif terhadap energi vibrasi<br \/>\nyang diterima dari radiasi infra merah.<\/div>\n<p><b>Keunggulan Spektrofotometer FTIR<\/b><br \/>\nSecara keseluruhan, analisis menggunakan Spektrofotometer FTIR<br \/>\nmemiliki dua kelebihan utama dibandingkan metoda konvensional lainnya,<br \/>\nyaitu :<\/p>\n<ol>\n<li>Dapat digunakan pada semua frekwensi dari sumber cahaya secara<br \/>\nsimultan sehingga analisis dapat dilakukan lebih cepat daripada<br \/>\nmenggunakan cara sekuensial atau scanning.<\/li>\n<li>Sensitifitas dari metoda Spektrofotometri FTIR lebih besar daripada<br \/>\ncara dispersi, sebab radiasi yang masuk ke sistim detektor lebih banyak<br \/>\nkarena tanpa harus melalui celah (<i>slitless<\/i>).<\/li>\n<\/ol>\n<p>\n<b>Pustaka :<\/b><\/p>\n<ol>\n<li>Giwangkara S, EG., 2006, \u201cAplikasi Logika Syaraf Fuzzy Pada Analisis<br \/>\n Sidik Jari Minyak Bumi Menggunakan Spetrofotometer&nbsp;Infra<br \/>\nMerah&nbsp;&#8211;&nbsp;Transformasi Fourier&nbsp;(FT-IR)\u201d, Sekolah Tinggi Energi dan<br \/>\nMineral, Cepu \u2013 Jawa Tengah.<\/li>\n<li>Foto Jean Baptiste Joseph Fourier : <a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Joseph_Fourier\">http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Joseph_Fourier<\/a><\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bismillah.. Alhamdulillah hari belajar sedikit tentang FT-IR dari kuliah bu susila. Sebenernya sebelum belajar tentang FT-IR sebaiknya ngerti tentang IR Spektrofotometri dulu, dan kalo mau ngintip sedikit tentang IR bisa disini. Spektrofotometer FTIR Jean Baptiste Joseph Fourier (1768-1830) Pada dasarnya Spektrofotometer FTIR (Fourier Trasform Infra Red) adalah sama dengan Spektrofotometer IR dispersi, yang membedakannya adalah pengembangan pada sistim optiknya sebelum berkas sinar infra merah melewati contoh. Dasar pemikiran dari Spektrofotometer FTIR adalah dari persamaan gelombang yang dirumuskan oleh Jean Baptiste Joseph Fourier (1768-1830) seorang ahli matematika dari Perancis. Fourier mengemukakan deret persamaan gelombang elektronik sebagai persamaan berikut : dimana : &#8211;&nbsp; a dan b merupakan suatu tetapan &#8211;&nbsp; t adalah waktu &#8211;&nbsp; \u03c9 adalah frekwensi sudut (radian per detik) ( \u03c9 = 2 \u03a0 f dan f adalah frekwensi dalam Hertz) Dari deret Fourier tersebut intensitas gelombang dapat digambarkan sebagai daerah waktu atau daerah frekwensi. Perubahan gambaran intensitas gelobang radiasi elektromagnetik dari daerah waktu ke daerah frekwensi atau sebaliknya disebut Transformasi Fourier (Fourier Transform). Selanjutnya pada sistim optik peralatan instrumen FTIR dipakai dasar daerah waktu yang non dispersif. Sebagai contoh aplikasi pemakaian gelombang radiasi elektromagnetik yang berdasarkan daerah waktu adalah interferometer yang dikemukakan oleh Albert Abraham Michelson (Jerman, 1831). Perbedaan sistim optik Spektrofotometer IR dispersif (Hadamard Transform) dan Interferometer Michelson pada Spektrofotometer FTIR (Fourier Transform) tampak pada gambar berikut : Perbedaan sistim optik dispersi dan FTIR Cara Kerja Alat Spektrofotometer FTIR Sistim optik Spektrofotometer FTIR seperti pada gambar dibawah ini dilengkapi dengan cermin yang bergerak tegak lurus dan cermin yang diam. Dengan demikian radiasi infra merah akan menimbulkan perbedaan jarak yang ditempuh menuju cermin yang bergerak ( M ) dan jarak cermin yang diam ( F ). Perbedaan jarak tempuh radiasi tersebut adalah 2&nbsp; yang selanjutnya disebut sebagai retardasi (&nbsp;\u03b4 ). Hubungan antara intensitas radiasi IR yang diterima detektor terhadap retardasi disebut sebagai interferogram. Sedangkan sistim optik dari Spektrofotometer IR yang didasarkan atas bekerjanya interferometer disebut sebagai sistim optik Fourier Transform Infra Red. Sistim optik interferometer Michelson pada Spektrofotometer FTIR. Pada sistim optik FTIR digunakan radiasi LASER (Light Amplification by Stimulated Emmission of Radiation) yang berfungsi sebagai radiasi yang diinterferensikan dengan radiasi infra merah agar sinyal radiasi infra merah yang diterima oleh detektor secara utuh dan lebih baik. Detektor yang digunakan dalam Spektrofotometer FTIR adalah TGS (Tetra Glycerine Sulphate) atau MCT (Mercury Cadmium Telluride). Detektor MCT lebih banyak digunakan karena memiliki beberapa kelebihan dibandingkan detektor TGS, yaitu memberikan respon yang lebih baik pada frekwensi modulasi tinggi, lebih sensitif, lebih cepat, tidak dipengaruhi oleh temperatur, sangat selektif terhadap energi vibrasi yang diterima dari radiasi infra merah. Keunggulan Spektrofotometer FTIR Secara keseluruhan, analisis menggunakan Spektrofotometer FTIR memiliki dua kelebihan utama dibandingkan metoda konvensional lainnya, yaitu : Dapat digunakan pada semua frekwensi dari sumber cahaya secara simultan sehingga analisis dapat dilakukan lebih cepat daripada menggunakan cara sekuensial atau scanning. Sensitifitas dari metoda Spektrofotometri FTIR lebih besar daripada cara dispersi, sebab radiasi yang masuk ke sistim detektor lebih banyak karena tanpa harus melalui celah (slitless). Pustaka : Giwangkara S, EG., 2006, \u201cAplikasi Logika Syaraf Fuzzy Pada Analisis Sidik Jari Minyak Bumi Menggunakan Spetrofotometer&nbsp;Infra Merah&nbsp;&#8211;&nbsp;Transformasi Fourier&nbsp;(FT-IR)\u201d, Sekolah Tinggi Energi dan Mineral, Cepu \u2013 Jawa Tengah. Foto Jean Baptiste Joseph Fourier : http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Joseph_Fourier<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"wprm-recipe-roundup-name":"","wprm-recipe-roundup-description":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[27,42,14,32],"tags":[],"aioseo_notices":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/363"}],"collection":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=363"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/363\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=363"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=363"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=363"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}