{"id":375,"date":"2013-03-01T14:17:00","date_gmt":"2013-03-01T14:17:00","guid":{"rendered":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=375"},"modified":"2013-03-01T14:17:00","modified_gmt":"2013-03-01T14:17:00","slug":"cerpen-dahaga-di-rel-kereta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=375","title":{"rendered":"Cerpen : Dahaga di Rel Kereta"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\">\n<i>Belum selesai membacanya hingga akhir ketika saya memposting artikel ini, biasa masalah koneksi.. tapi ada satu titik temu dimana  rehat membuat tak mengapa karena bisa dilanjut lain waktu. <b>Dua garis rel itu, seperti kau dan aku. Hanya bersama, tapi tak bertemu<\/b>. persis rehat dititik itu dan lanjut menikamati hidangan makan malam. Karya <b>Ani<\/b>, my partner <b>Mujahidin Library Fighter<\/b>.. <\/i><\/p>\n<p>&#8212;&#8212;&#8212;<\/p>\n<p>Syahdu, gemericik rinai hujan membasahi tirai kelambu malam minggu. Pukul 19.00 tepat. Suara orang-orang bercengkrama dari luar kamar masih terdengar. Bersahut-sahutan dengan pesawat televisi yang menyala.<\/p><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nAku masih duduk saja. Jadi satu di markasku. Seperti malam-malam sebelumnya semalam minggu ini hanya saja jadi milikku. Hujan yang menderas di luar, membuat para penghuni bumi semakin ingin menarik selimut. <\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTetapi, guntur sedang tidak datang. Kuhampiri jendela dan kusingkap sedikit tirainya. Ayam-ayam menggigil kedinginan di dalam kandang. Berhimpitan mencari kehangatan, berlindung di balik bulu-bulu kamoceng mereka.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nDi sudut lain, seratus ekor anak ayam melakukan hal yang sama. Di balik sorot lampu, dan selembar kain merah jambu yang menutupi, bayang-bayang mungil tubuh mereka berdesakkan, berjejalan berjalan kesana kemari di bawah tirai kelambu malam minggu yang basah di curah deras air hujan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nKupandangi lagi LKS bahasa Inggris yang ada di tanganku. Menaruhnya di tualet kaca yang berada persis di samping jendela. Aku berbaring di atas tempat tidur. Menarik selimut seperti kebanyakan penduduk bumi yang sama di guyur dingin hujan malam ini. Suasana di ruang keluarga berubah sepi. Televisi mati suri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cHitungan tahun aku mengenalnya. Meski 5 masih seumur jagung. Kau tahu? mulai bosan. Hanya buatku semakin mendamba dan mencipta di tiap harinya\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201c&#8230;.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cKupikir mungkin bukan aku yang tepat untuknya. Entah siapa yang membuatnya jadi semakin parah\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201c&#8230;.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cAku..hah&#8230;\u201d ia membuang udara \u201ctak nyaman berada di rumah\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201c&#8230;.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSisa air mineral dingin di tangannya di teguknya sampai habis. Kemudian ia mulai menoleh padaku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201c?. Apa?\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cKenapa sedari tadi kau bisu? aku jadi ragu kau dengar aku\u201d. sahutnya sedikit jengkel.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cHm? Ah. Haha. Aku menggelumbungkan tawa. \u201caku bukannya tidak mendengarkan. Kakak bilang kakak mulai bosan?\u201d aku memandangnya. Ia hanya balas memandangku. Sementara aku kembali memandang lurus ke arah depan, ke arah bentangan langit biru yang di tembak si raja siang. Panas. Nyengat. Silau.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cJangan tersinggung kak, tapi, pohon jagung itu mungkin memang belum tinggi. Masih TK,. Mungkin belum bisa baca\u201d kali ini giliranku yang tak mendapatkan balasan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cKakak hanya perlu sedikit lebih bersabar untuk terus menyiramnya\u201d. kataku menarik senyum.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nHening. Aku jadi merasa berjalan seorang diri di tengah pasar yang telah lama sepi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cBiar tinggi kokoh seperti tiga biji kacang ajaib! Tembus langit yang terik itu\u201d. Aku mendongak. Namun seketika tunduk menyerah karena bidikan sinarnya. Aku mengucek-ngucek mata. Kataku masih berbalas hening darinya. Kupandangi lagi saudara laki-lakiku itu dan kusenggol lengannya. Sukses membuatnya berbalik kembali memandang ke arahku. Ekspresinya penuh tanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cKenapa sedari tadi kau bisu? aku jadi ragu kau dengar aku\u201d. Aku balas menggodanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cAku bukannya tidak mendengarkan\u201d. Ujarnya malah ikut meniru kata-kataku. \u201ckau bicara tentang kacang ajaib&#8230;maksudnya&#8230;konotasikan saja buah dari kesabaran dan harapan kau siram kacang itu, menunggunya tumbuh, maka pada waktunya kau akan menemukan kebahagiaan di penghujungnya. Makanan mewah dan angsa petelur emas\u2014jika kau cukup tangguh untuk menghadapi raksasa. Catatannya, yang kuurai tadi seluruhnya dikonotasikan positif. Iya, kan?\u201d. Jelasnya panjang lebar. Raut wajahnya menyelidik.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cHm m\u201d. Aku tersenyum lebar memandangnya, masih dengan kedua tanganku bertumpu pada gendongan ransel yang ku bawa. Ransel yang masih luang karena hanya berisi LKS bahasa Inggris dan MTK kelas 12 SMA, ponsel, dan ongkos pulang 4 ribu rupiah dalam dompet. Sebuah gantungan boneka bergoyang-goyang mengikuti iramaku melangkah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTak lama, kami mulai melewati gang yang sedikit becek. Gang yang membawa kami ke rel kereta yang mati suri. Matahari masih terik menyengat. Membuat area ini tetap terlihat gersang seperti sebelum-sebelumya. Tumpukan sampah menggunung di beberapa sudut. Satu dua ekor anjing berjalan bolak-balik mengendus-ngendus tanah dekat tumpukan sampah. Siang ini, warung tenda di ujung rel ramai oleh para tukang ojeg yang berteduh.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nDi rel kereta yang mati suri itu ia mendadak berhenti. Dengan tangan yang memayungi muka kupandang saudara laki-lakiku. Ia memandang sekitar.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cJangan tersinggung..\u201d katanya tiba-tiba. Tatapannya masih lurus ke depan, tetapi sejenak kemudian ia sedikit tertunduk. \u201ctapi pun kau bukan peri yang menuangkan harapan dan tiga  buah kacang ajaib itu ke atas tanganku\u201d. Ia memandang sekitarnya lagi. \u201cjuga bukan dukun.. Yang kau katakan memang benar, tapi&#8230;kau tak pernah benar-benar tahu kakak iparmu itu seperti apa. Pulang malam, uang belanja selalu kurang, abai nasihat dariku dan ibu, hah..sungguh, aku seperti sudah kehilangan cara\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSontak, hatiku mencelos mendengarnya. Tertunduk di bawah naungan tanganku sendiri. Ia memandangku untuk waktu yang cukup lama. Aku membuang udara. Terik ini membuat wajahku semakin memerah. Keringat sebutir jagung menetes satu-satu dari balik jilbab putihku. Aku menurunkan tangan, sejenak memandang sekitar seperti yang tadi dilakukannya. Mencoba kembali berpikir. Terbata-bata, kemudian aku bertanya<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cItu artinya..jika seandainya saat ini aku adalah Kak Yana, apa yang paling ingin Kak Faisal utarakan sebenarnya?\u201d. aku menatapnya lurus.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cDua garis rel itu, seperti kau dan aku. Hanya bersama, tapi tak bertemu\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nAku buang muka selepas ucapan kak Faisal barusan. Memandang pemandangan tumpukan sampah yang menggunung dan rel yang mati suri itu lagi. Rel yang menghipnotis kak Faisal untuk berhenti. Mungkin memang benar aku tidak atau mungkin yang lebih nyaman\u2014belum sepenuhnya mengenal kak Yana yang baru hadir di kehidupan keluarga kami. Di kehidupan kak Faisal. Namun aku hanya tidak ingin akhirnya seperti ayah dan ibu. \u201cMasalah ini tidak boleh kembali berlarut! Pasti ada cara! Ya, pasti ada cara! Ah! tapi&#8230;apa?\u201d aku meringis dalam hati. Dan dalam kekalutan itu tiba-tiba&#8230;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cAl, awas..!\u201d ia menarikku ke dalam dekapannya. (wah, terlalu lebay ya sepertinya. #udah dari atas kalleee  -___-a Ah. Biarin lah ya, suka2 yang nulis.. hehehe.. \ud83d\ude00 ) aku kaget bukan main. Seorang lelaki yang kehilangan akal sehat menarik paksa gantungan \u2018Hamtaro\u2019 milikku. Salah satu hadiah kak Faisal saat aku memutuskan berjilbab kelas 4 SD.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cPergi! Pergi! Sana pergi!\u201d. Kak Faisal berusaha mengusir orang gila itu. Tangan kanannya meraba-raba batu yang terserak di tengah-tengah rel kereta. Mencoba mengancam lelaki gila itu. Para tukang ojeg yang berkumpul di warung tenda ramai menampakkan diri. Dan ketika kak Faisal mulai mengacungkan tangan kanannya, lelaki gila itu berlari pergi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cHati-hati neng! kadang dia kumat galaknya!\u201d sahut salah satu dari mereka.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nJantungku masih berdetak kencang dalam dekapan kak Faisal. Aku semakin tak tahan dengan terik yang makin menghujam. Peluh kembali menetes satu-satu dari dahiku. Kuusap dengan cepat dan..ah! ya! LKS itu! Kejadian tadi membuatku teringat akan sesuatu. Buru-buru aku melepaskan diri dari dekapan kak Faisal. Pandanganku berusaha dengan cepat menyapu sekitar.  \u201cAh! alhamdulillah..\u201d batinku dalam hati.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSeekor anak kucing tengah berjalan melintas di tengah-tengah rel kereta. Aku menghampirinya dengan berlari. Seperti yang kuduga anak kucing itu sontak berlari. Aku tak peduli dan terus berlari. Akan kujebak ia ke warung tenda. Kak Faisal teramat heran dengan tingkahku. Masih mematut, ia memanggil-manggil namaku berulang kali, sementara aku terseok-seok terus lari.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTepat ketika aku akan menggiring kucing itu ke warung tenda, aku terjatuh. Kak Faisal berlari ke arahku, namun sesampainya ia padaku, dengan nafas yang tersengal aku menunjuk-nunjuk kucing itu pada kak Faisal. Kucing itu tengah bersandar pada ember cuci di gerobak milik ibu warung tenda. Ia sama ngos-ngosannya sepertiku. Nafasnya cepat, tegang, membuat badan mungilnya terguncang-guncang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nPerlahan, sambil mengendap-endap, kak Faisal menghampiri kucing itu. Ia julurkan tangannya perlahan ke kolong gerobak dan menjawil punuk si kucing. Kucing liar itu sempat meronta namun kak Faisal langsung mengusap-usap lembut kucing itu. Dan ia meleh dalam dekapan kak Faisal.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSetelah kucing mungil dalam dekapannya itu tenang ia kembali berjalan menghampiriku. Aku masih terduduk di tengah-tengah rel kereta, dan setibanya kak Faisal padaku aku menggelembungkan tawa.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cAhaha,. Ah..yokatta,. Hahaha..\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n(Ahahaha,. Ah..syukurlah,. Hahaha..)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cE? doushitano? daijobu desuyo?\u201d tanyanya heran.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n(He? Kenapa? Kamu gak papa kan?)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cHahaha..\u201d aku masih tertawa. Para tukang ojeg di warung tenda sama memasang wajah heran. Aku kembali tak peduli. \u201cDomo arigatone,.\u201d (Terimakasih banyak ya,.) kataku seraya mengusap-ngusap lembut kepala kucing mungil itu. Ia memejamkan kedua belah matanya.  <\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cAlya..daijobu?\u201d kak Faisal memegang tanganku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n(Alya..kamu gak papa kan?)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cHm m. Sinpasenaide,. Daijobu desuyo\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n(Hm m. Tenang,. Gak papa kok.)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cDakara..doushitano?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n(Lha, terus, kenapa?)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nAku kembali melyangkan senyum ke arah kak Faisal. \u201cAku hanya ingin kak Faisal tahu dan yakin, bahwa jawabannya hanya masalah waktu. Bukan takkan mampu. Seperti pohon jagung, hubungan kak Faisal dan kak Yana mungkin\u2014sama pula dengan rel kereta ini. Hanya mati suri. Masih ada harapan untuk hidup lagi. Rel kereta ini tak bertemu untuk saling melengkapi. Dan untuk saling melengkapi, kak Faisal dan kak Yana harus bertemu. Bertemu dalam artian yang lebih dekat, bertemu dari hati ke hati. Supaya beban berat dapat terasa ringan terpikul di atasnya layaknya dua rel yang terbentang ini\u201d. Aku tersenyum lagi. Diam sejenak untuk memandang lekat-lekat wajah kak Faisal kakak lelakiku. Ada genangan di sudut matanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nKupegang erat-erat tangan kiri kak Faisal, kemudian kembali melanjutkan bicara<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cDan dengan cara yang sama kak Faisal mendapatkan hati kucing liar itu, dengan cara yang sama pula kak Faisal mendapatkan hati kak Yana. Sungguh, Al tak melihat kak Faisal telah kehilangan cara..\u201d aku meyakinkan. Kali ini kak Faisal menarik senyum. Aku membalas senyum. \u201cKak Faisal tahu aku gila kucing kan? membuat kucing melting padaku bukan hal yang terlalu sulit..si Belang contohnya. Hahaha..iya kan? dan demi kak Faisal hari ini Al sudah jadi dukun yang bertindak. Udah! lepasin kucingnya! bukan muhrim! ntar Al laporin kak Yana baru rasa!\u201d. Kak Faisal mencubit gemas pinggangku.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cAaaa&#8230;iiiiitaiiiiii\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n(Aaaa..sakiiiiitttt)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nMataku hampir terpejam kala suara pintu berderit kembali menarikku untuk tersadar. \u201cKodok!\u201d. Suara kak Faisal. Aku mendelik sebal. Sudah kubilang berulang kali pada makhluk jangkung satu itu bahwa aku penyuka kucing, bukan kodok. Yang dideliki sontak duduk di samping tempat tidurku tanpa diminta.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cBelum tidur?\u201d tanyanya basa-basi. Raut wajahnya sedikit berseri-seri sambil memutar-mutar ponsel. Aku bangun dari tidur dan kurebut ponsel itu dari tangannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cCiee..habis telfon kak Yana ya?\u201d aku menyelidik.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cSiapa bilang? Sok tahu..\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cTerus, \u2018Yana ku cinta\u2019 ini buktinya apa?\u201d aku menunjukkan bukti panggilan keluar pada kak Faisal. \u201cperasaan kemarin-kemarin gak ada&#8230;\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cKodok! Cerewet! Balikin hp nya!\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSontak aku membenamkan diri dalam selimut.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cHeh! Kodok!\u201d teriak kak Faisal gemas. Ia baru akan menggelitikiku saat matanya melihat si Belang. \u201cA&#8230;atau aku adukan pada ibu kamu coba-coba tidur lagi sama si Belang!\u201d. katanya puas. Mendengar ia berkata seperti itu aku keluar dari tempat persembunyian.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cHuh! Dasar nyebelin! Nih!\u201d. Kuserahkan ponsel itu kembali ke tangannya dan mendorongnya ke luar pintu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cEe eh..Al&#8230;jangan di tutup dulu..\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cApa?!\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cTadi siang kamu belajar darimana bisa ngomong kayak gitu?\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTak kujawab pertanyaan terakhirnya. Kudorong kak Faisal sampai batas terluar dan dobel ku kunci pintu. Kupadamkan lampu dan kuhampiri si Belang. Sebelum mataku benar-benar terpejam kulirik tualet kaca di samping jendela. Tersenyum penuh makna pada LKS yang tergeletak di sana. Tersenyum pada sebuah narrative di dalamnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/notes\/cielo-blu\/dahaga-di-rel-kereta\/453560378050787\">Src <\/a><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Belum selesai membacanya hingga akhir ketika saya memposting artikel ini, biasa masalah koneksi.. tapi ada satu titik temu dimana rehat membuat tak mengapa karena bisa dilanjut lain waktu. Dua garis rel itu, seperti kau dan aku. Hanya bersama, tapi tak bertemu. persis rehat dititik itu dan lanjut menikamati hidangan makan malam. Karya Ani, my partner Mujahidin Library Fighter.. &#8212;&#8212;&#8212; Syahdu, gemericik rinai hujan membasahi tirai kelambu malam minggu. Pukul 19.00 tepat. Suara orang-orang bercengkrama dari luar kamar masih terdengar. Bersahut-sahutan dengan pesawat televisi yang menyala. Aku masih duduk saja. Jadi satu di markasku. Seperti malam-malam sebelumnya semalam minggu ini hanya saja jadi milikku. Hujan yang menderas di luar, membuat para penghuni bumi semakin ingin menarik selimut. Tetapi, guntur sedang tidak datang. Kuhampiri jendela dan kusingkap sedikit tirainya. Ayam-ayam menggigil kedinginan di dalam kandang. Berhimpitan mencari kehangatan, berlindung di balik bulu-bulu kamoceng mereka. Di sudut lain, seratus ekor anak ayam melakukan hal yang sama. Di balik sorot lampu, dan selembar kain merah jambu yang menutupi, bayang-bayang mungil tubuh mereka berdesakkan, berjejalan berjalan kesana kemari di bawah tirai kelambu malam minggu yang basah di curah deras air hujan. Kupandangi lagi LKS bahasa Inggris yang ada di tanganku. Menaruhnya di tualet kaca yang berada persis di samping jendela. Aku berbaring di atas tempat tidur. Menarik selimut seperti kebanyakan penduduk bumi yang sama di guyur dingin hujan malam ini. Suasana di ruang keluarga berubah sepi. Televisi mati suri. \u201cHitungan tahun aku mengenalnya. Meski 5 masih seumur jagung. Kau tahu? mulai bosan. Hanya buatku semakin mendamba dan mencipta di tiap harinya\u201d. \u201c&#8230;.\u201d \u201cKupikir mungkin bukan aku yang tepat untuknya. Entah siapa yang membuatnya jadi semakin parah\u201d. \u201c&#8230;.\u201d \u201cAku..hah&#8230;\u201d ia membuang udara \u201ctak nyaman berada di rumah\u201d. \u201c&#8230;.\u201d Sisa air mineral dingin di tangannya di teguknya sampai habis. Kemudian ia mulai menoleh padaku. \u201c?. Apa?\u201d. \u201cKenapa sedari tadi kau bisu? aku jadi ragu kau dengar aku\u201d. sahutnya sedikit jengkel. \u201cHm? Ah. Haha. Aku menggelumbungkan tawa. \u201caku bukannya tidak mendengarkan. Kakak bilang kakak mulai bosan?\u201d aku memandangnya. Ia hanya balas memandangku. Sementara aku kembali memandang lurus ke arah depan, ke arah bentangan langit biru yang di tembak si raja siang. Panas. Nyengat. Silau. \u201cJangan tersinggung kak, tapi, pohon jagung itu mungkin memang belum tinggi. Masih TK,. Mungkin belum bisa baca\u201d kali ini giliranku yang tak mendapatkan balasan. \u201cKakak hanya perlu sedikit lebih bersabar untuk terus menyiramnya\u201d. kataku menarik senyum. Hening. Aku jadi merasa berjalan seorang diri di tengah pasar yang telah lama sepi. \u201cBiar tinggi kokoh seperti tiga biji kacang ajaib! Tembus langit yang terik itu\u201d. Aku mendongak. Namun seketika tunduk menyerah karena bidikan sinarnya. Aku mengucek-ngucek mata. Kataku masih berbalas hening darinya. Kupandangi lagi saudara laki-lakiku itu dan kusenggol lengannya. Sukses membuatnya berbalik kembali memandang ke arahku. Ekspresinya penuh tanya. \u201cKenapa sedari tadi kau bisu? aku jadi ragu kau dengar aku\u201d. Aku balas menggodanya. \u201cAku bukannya tidak mendengarkan\u201d. Ujarnya malah ikut meniru kata-kataku. \u201ckau bicara tentang kacang ajaib&#8230;maksudnya&#8230;konotasikan saja buah dari kesabaran dan harapan kau siram kacang itu, menunggunya tumbuh, maka pada waktunya kau akan menemukan kebahagiaan di penghujungnya. Makanan mewah dan angsa petelur emas\u2014jika kau cukup tangguh untuk menghadapi raksasa. Catatannya, yang kuurai tadi seluruhnya dikonotasikan positif. Iya, kan?\u201d. Jelasnya panjang lebar. Raut wajahnya menyelidik. \u201cHm m\u201d. Aku tersenyum lebar memandangnya, masih dengan kedua tanganku bertumpu pada gendongan ransel yang ku bawa. Ransel yang masih luang karena hanya berisi LKS bahasa Inggris dan MTK kelas 12 SMA, ponsel, dan ongkos pulang 4 ribu rupiah dalam dompet. Sebuah gantungan boneka bergoyang-goyang mengikuti iramaku melangkah. Tak lama, kami mulai melewati gang yang sedikit becek. Gang yang membawa kami ke rel kereta yang mati suri. Matahari masih terik menyengat. Membuat area ini tetap terlihat gersang seperti sebelum-sebelumya. Tumpukan sampah menggunung di beberapa sudut. Satu dua ekor anjing berjalan bolak-balik mengendus-ngendus tanah dekat tumpukan sampah. Siang ini, warung tenda di ujung rel ramai oleh para tukang ojeg yang berteduh. Di rel kereta yang mati suri itu ia mendadak berhenti. Dengan tangan yang memayungi muka kupandang saudara laki-lakiku. Ia memandang sekitar. \u201cJangan tersinggung..\u201d katanya tiba-tiba. Tatapannya masih lurus ke depan, tetapi sejenak kemudian ia sedikit tertunduk. \u201ctapi pun kau bukan peri yang menuangkan harapan dan tiga buah kacang ajaib itu ke atas tanganku\u201d. Ia memandang sekitarnya lagi. \u201cjuga bukan dukun.. Yang kau katakan memang benar, tapi&#8230;kau tak pernah benar-benar tahu kakak iparmu itu seperti apa. Pulang malam, uang belanja selalu kurang, abai nasihat dariku dan ibu, hah..sungguh, aku seperti sudah kehilangan cara\u201d. Sontak, hatiku mencelos mendengarnya. Tertunduk di bawah naungan tanganku sendiri. Ia memandangku untuk waktu yang cukup lama. Aku membuang udara. Terik ini membuat wajahku semakin memerah. Keringat sebutir jagung menetes satu-satu dari balik jilbab putihku. Aku menurunkan tangan, sejenak memandang sekitar seperti yang tadi dilakukannya. Mencoba kembali berpikir. Terbata-bata, kemudian aku bertanya \u201cItu artinya..jika seandainya saat ini aku adalah Kak Yana, apa yang paling ingin Kak Faisal utarakan sebenarnya?\u201d. aku menatapnya lurus. \u201cDua garis rel itu, seperti kau dan aku. Hanya bersama, tapi tak bertemu\u201d. Aku buang muka selepas ucapan kak Faisal barusan. Memandang pemandangan tumpukan sampah yang menggunung dan rel yang mati suri itu lagi. Rel yang menghipnotis kak Faisal untuk berhenti. Mungkin memang benar aku tidak atau mungkin yang lebih nyaman\u2014belum sepenuhnya mengenal kak Yana yang baru hadir di kehidupan keluarga kami. Di kehidupan kak Faisal. Namun aku hanya tidak ingin akhirnya seperti ayah dan ibu. \u201cMasalah ini tidak boleh kembali berlarut! Pasti ada cara! Ya, pasti ada cara! Ah! tapi&#8230;apa?\u201d aku meringis dalam hati. Dan dalam kekalutan itu tiba-tiba&#8230; \u201cAl, awas..!\u201d ia menarikku ke dalam dekapannya. (wah, terlalu lebay ya sepertinya. #udah dari atas kalleee -___-a Ah. Biarin lah ya, suka2 yang nulis.. hehehe.. \ud83d\ude00 ) aku kaget bukan main. Seorang lelaki yang kehilangan akal sehat menarik paksa gantungan \u2018Hamtaro\u2019 milikku. Salah satu hadiah kak Faisal saat aku memutuskan berjilbab kelas 4 SD. \u201cPergi! Pergi! Sana pergi!\u201d. Kak Faisal berusaha mengusir orang gila itu. Tangan kanannya meraba-raba batu yang terserak di tengah-tengah rel kereta. Mencoba mengancam lelaki gila itu. Para tukang ojeg yang berkumpul di warung tenda ramai menampakkan diri. Dan ketika kak Faisal mulai mengacungkan tangan kanannya, lelaki gila itu berlari pergi. \u201cHati-hati neng! kadang dia kumat galaknya!\u201d sahut salah satu dari mereka. Jantungku masih berdetak kencang dalam dekapan kak Faisal. Aku semakin tak tahan dengan terik yang makin menghujam. Peluh kembali menetes satu-satu dari dahiku. Kuusap dengan cepat dan..ah! ya! LKS itu! Kejadian tadi membuatku teringat akan sesuatu. Buru-buru aku melepaskan diri dari dekapan kak Faisal. Pandanganku berusaha dengan cepat menyapu sekitar. \u201cAh! alhamdulillah..\u201d batinku dalam hati. Seekor anak kucing tengah berjalan melintas di tengah-tengah rel kereta. Aku menghampirinya dengan berlari. Seperti yang kuduga anak kucing itu sontak berlari. Aku tak peduli dan terus berlari. Akan kujebak ia ke warung tenda. Kak Faisal teramat heran dengan tingkahku. Masih mematut, ia memanggil-manggil namaku berulang kali, sementara aku terseok-seok terus lari. Tepat ketika aku akan menggiring kucing itu ke warung tenda, aku terjatuh. Kak Faisal berlari ke arahku, namun sesampainya ia padaku, dengan nafas yang tersengal aku menunjuk-nunjuk kucing itu pada kak Faisal. Kucing itu tengah bersandar pada ember cuci di gerobak milik ibu warung tenda. Ia sama ngos-ngosannya sepertiku. Nafasnya cepat, tegang, membuat badan mungilnya terguncang-guncang. Perlahan, sambil mengendap-endap, kak Faisal menghampiri kucing itu. Ia julurkan tangannya perlahan ke kolong gerobak dan menjawil punuk si kucing. Kucing liar itu sempat meronta namun kak Faisal langsung mengusap-usap lembut kucing itu. Dan ia meleh dalam dekapan kak Faisal. Setelah kucing mungil dalam dekapannya itu tenang ia kembali berjalan menghampiriku. Aku masih terduduk di tengah-tengah rel kereta, dan setibanya kak Faisal padaku aku menggelembungkan tawa. \u201cAhaha,. Ah..yokatta,. Hahaha..\u201d. (Ahahaha,. Ah..syukurlah,. Hahaha..) \u201cE? doushitano? daijobu desuyo?\u201d tanyanya heran. (He? Kenapa? Kamu gak papa kan?) \u201cHahaha..\u201d aku masih tertawa. Para tukang ojeg di warung tenda sama memasang wajah heran. Aku kembali tak peduli. \u201cDomo arigatone,.\u201d (Terimakasih banyak ya,.) kataku seraya mengusap-ngusap lembut kepala kucing mungil itu. Ia memejamkan kedua belah matanya. \u201cAlya..daijobu?\u201d kak Faisal memegang tanganku. (Alya..kamu gak papa kan?) \u201cHm m. Sinpasenaide,. Daijobu desuyo\u201d. (Hm m. Tenang,. Gak papa kok.) \u201cDakara..doushitano?\u201d (Lha, terus, kenapa?) Aku kembali melyangkan senyum ke arah kak Faisal. \u201cAku hanya ingin kak Faisal tahu dan yakin, bahwa jawabannya hanya masalah waktu. Bukan takkan mampu. Seperti pohon jagung, hubungan kak Faisal dan kak Yana mungkin\u2014sama pula dengan rel kereta ini. Hanya mati suri. Masih ada harapan untuk hidup lagi. Rel kereta ini tak bertemu untuk saling melengkapi. Dan untuk saling melengkapi, kak Faisal dan kak Yana harus bertemu. Bertemu dalam artian yang lebih dekat, bertemu dari hati ke hati. Supaya beban berat dapat terasa ringan terpikul di atasnya layaknya dua rel yang terbentang ini\u201d. Aku tersenyum lagi. Diam sejenak untuk memandang lekat-lekat wajah kak Faisal kakak lelakiku. Ada genangan di sudut matanya. Kupegang erat-erat tangan kiri kak Faisal, kemudian kembali melanjutkan bicara \u201cDan dengan cara yang sama kak Faisal mendapatkan hati kucing liar itu, dengan cara yang sama pula kak Faisal mendapatkan hati kak Yana. Sungguh, Al tak melihat kak Faisal telah kehilangan cara..\u201d aku meyakinkan. Kali ini kak Faisal menarik senyum. Aku membalas senyum. \u201cKak Faisal tahu aku gila kucing kan? membuat kucing melting padaku bukan hal yang terlalu sulit..si Belang contohnya. Hahaha..iya kan? dan demi kak Faisal hari ini Al sudah jadi dukun yang bertindak. Udah! lepasin kucingnya! bukan muhrim! ntar Al laporin kak Yana baru rasa!\u201d. Kak Faisal mencubit gemas pinggangku. \u201cAaaa&#8230;iiiiitaiiiiii\u201d. (Aaaa..sakiiiiitttt) Mataku hampir terpejam kala suara pintu berderit kembali menarikku untuk tersadar. \u201cKodok!\u201d. Suara kak Faisal. Aku mendelik sebal. Sudah kubilang berulang kali pada makhluk jangkung satu itu bahwa aku penyuka kucing, bukan kodok. Yang dideliki sontak duduk di samping tempat tidurku tanpa diminta. \u201cBelum tidur?\u201d tanyanya basa-basi. Raut wajahnya sedikit berseri-seri sambil memutar-mutar ponsel. Aku bangun dari tidur dan kurebut ponsel itu dari tangannya. \u201cCiee..habis telfon kak Yana ya?\u201d aku menyelidik. \u201cSiapa bilang? Sok tahu..\u201d \u201cTerus, \u2018Yana ku cinta\u2019 ini buktinya apa?\u201d aku menunjukkan bukti panggilan keluar pada kak Faisal. \u201cperasaan kemarin-kemarin gak ada&#8230;\u201d \u201cKodok! Cerewet! Balikin hp nya!\u201d Sontak aku membenamkan diri dalam selimut. \u201cHeh! Kodok!\u201d teriak kak Faisal gemas. Ia baru akan menggelitikiku saat matanya melihat si Belang. \u201cA&#8230;atau aku adukan pada ibu kamu coba-coba tidur lagi sama si Belang!\u201d. katanya puas. Mendengar ia berkata seperti itu aku keluar dari tempat persembunyian. \u201cHuh! Dasar nyebelin! Nih!\u201d. Kuserahkan ponsel itu kembali ke tangannya dan mendorongnya ke luar pintu. \u201cEe eh..Al&#8230;jangan di tutup dulu..\u201d. \u201cApa?!\u201d \u201cTadi siang kamu belajar darimana bisa ngomong kayak gitu?\u201d Tak kujawab pertanyaan terakhirnya. Kudorong kak Faisal sampai batas terluar dan dobel ku kunci pintu. Kupadamkan lampu dan kuhampiri si Belang. Sebelum mataku benar-benar terpejam kulirik tualet kaca di samping jendela. Tersenyum penuh makna pada LKS yang tergeletak di sana. Tersenyum pada sebuah narrative di dalamnya. Src<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"wprm-recipe-roundup-name":"","wprm-recipe-roundup-description":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[37],"tags":[],"aioseo_notices":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/375"}],"collection":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=375"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/375\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=375"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=375"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=375"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}