{"id":413,"date":"2012-12-19T23:54:00","date_gmt":"2012-12-19T23:54:00","guid":{"rendered":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=413"},"modified":"2012-12-19T23:54:00","modified_gmt":"2012-12-19T23:54:00","slug":"tulisan-menikahpun-perlu-ilmu-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=413","title":{"rendered":"Tulisan : Menikahpun Perlu Ilmu #1"},"content":{"rendered":"<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<a href=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-NLEAC49nwPk\/UNJCeB-rJCI\/AAAAAAAAAk8\/aAWeduBxbMk\/s1600\/tumblr_mf0q1m145E1rr1f4xo1_500.png\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" border=\"0\" height=\"240\" src=\"http:\/\/4.bp.blogspot.com\/-NLEAC49nwPk\/UNJCeB-rJCI\/AAAAAAAAAk8\/aAWeduBxbMk\/s320\/tumblr_mf0q1m145E1rr1f4xo1_500.png\" width=\"320\" \/><\/a><\/div>\n<p>Bismillah <\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTulisan ini saya kutip dari buku terbaru ustad Salim a Fiilah tentang kumpuan twit beliau yang disusun kembali menjadi satu buah buku sehingga bisa mengumpulkan yang terserak, mozaik yang terberai menjadi suatu bentuk.  Ya mungkin dalam bentuk ,itu masih ada beberapa yang kosong namun bukankah lebih nyaman memandang suatu bentuk yang kita dapat menerka, ketimbang memandangi yang masih terberai?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<blockquote style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<div style=\"text-align: justify;\">\nDalam isyarat nabi tentang menikah, ialah sunnah terjujur yang termuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati. Maka menikah sebagai ibadah, memerlukan kesiapan dan persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. &#8220;<i>Ba\u2019ah<\/i>&#8221; adalah parameter kesiapannya. Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat nikah hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan.<\/div>\n<\/blockquote>\n<div style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<\/div>\n<blockquote style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<div style=\"text-align: justify;\">\nPersiapan menikah hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal \u201c<i>ba\u2019ah<\/i>\u201d dalam hadits itu adalah \u201ckemampuan seksual\u201d. Iman Asy-Syaukani dalam <i>Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram<\/i>, menambahkan makna \u201c<i>ba-ah<\/i>\u201d yakni: kemampuan meberi mahar dan nafkah. Mengompromikan \u201cba-ah\u201d dimaknai utama (seksual) dan makna tambahan (mahar,nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh. <\/div>\n<\/blockquote>\n<div style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<\/div>\n<blockquote style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<div style=\"text-align: justify;\">\nJika kesiapan nikah diukur dengan \u201c<i>ba-ah<\/i>\u201d, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri yang tak pernah usai. Ia terus berlangsung seumur hidup. Izinkan saya membagi persiapan nikah dalam 5 ranah: <i> ruhiyyah<\/i> (spiritual), <i>\u2018ilmiyyah<\/i> (pengetahuan), <i>jasadiyyah<\/i> (fisik), <i>maaliyyah <\/i>(finansial) dan <i>ijtimaaiyyah<\/i> (sosial).<\/div>\n<\/blockquote>\n<div style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<\/div>\n<blockquote style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<div style=\"text-align: justify;\">\nPersiapan nikah perlu <i>start<\/i> awal. Salim nikah usia 20 tahun, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 tahun, maka tak bisa disebut tergesa-gesa. Sebaliknya, ada orang yang nikahnya umur 30 tahun, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 tahun. Itu namanya tergesa-gesa.<\/div>\n<\/blockquote>\n<div style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<\/div>\n<blockquote style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<div style=\"text-align: justify;\">\nKita mulai dari yang pertama; persiapan<i> ruhiyyah<\/i>. Ialah yag paling mendasar. Segala persiapan nikah lainnya berpijak oada yang satu ini. Persiapan <i>ruhiiyyah<\/i> (spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian dan tanggung jawab hidup yang lebih berlipat, berkelindan. Surat Ali Imran ayat 14: Sebelum nikah ujian kita linear; pasangan hidup. Begitu nikah berjejalin; pasangan, anak, harta, gengsi, investasi, bersekutu menajdi ujian kita.<\/div>\n<\/blockquote>\n<div style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<\/div>\n<blockquote style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSebelum nikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. Setelah menikah, ia digital variatif, kalau bukan NIKMAT, ya MUSIBAH. Maka termakna jua dalam persiapan ruhiyyah terkait nikah adalah kemampuan mengelola SABAR dan SYUKUR mengahdapi tantangan-tantangan itu. SABAR dan SYUKUR itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih dan kurangnya.<\/div>\n<\/blockquote>\n<div style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<\/div>\n<blockquote style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<div style=\"text-align: justify;\">\nKhadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, dan dukung penuh perjuangan. Tetapi tak semua lelaki mampu beristri jauh lebih tua. Aisya: cantik, cerdas, lincah, imut. Tetapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya yang sampai banting piring di depan tamu.<\/div>\n<\/blockquote>\n<div style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<\/div>\n<blockquote style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<div style=\"text-align: justify;\">\nPersiapan <i>ruhiyyah<\/i> nikah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Dari harapan akan apa yang diperoleh, menuju yang apa akan dibaktikan. Jika nikah masih terbayang, lapar ada yang <i>masakin<\/i>, capek ada yang <i>mijitin<\/i>, baju kotor <i>dicuciin<\/i>. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa. Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, dan tukang cuci. Berobsesilah dalam nikah. \u201cApa Obsesimu?\u201d<\/div>\n<\/blockquote>\n<div style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<\/div>\n<blockquote style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<div style=\"text-align: justify;\">\nObsesi sebagai persiapan <i>ruhiyyah<\/i> nikah semisal : bagaimana kan akan berjuang sebagai sumai\/istri ayah\/ibu untuk mensurgakan keluargamu? Usai itu, diantara persiapan <i>ruhiyyah<\/i> nikah adalah menata ketundukan pada segala ketentuan-Nya dalam rumah tangga dan masalah-masalahnya.<\/div>\n<\/blockquote>\n<div style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<\/div>\n<blockquote style=\"font-family: Verdana,sans-serif;\">\n<div style=\"text-align: justify;\">\n&#8211;bersambung<\/div>\n<\/blockquote>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nKalo sekarang umur 20 tahun, berarti untuk target menikah umur 23 tahun bukan sesuatu yang tergesa-gesa kan?<\/div>\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bismillah Tulisan ini saya kutip dari buku terbaru ustad Salim a Fiilah tentang kumpuan twit beliau yang disusun kembali menjadi satu buah buku sehingga bisa mengumpulkan yang terserak, mozaik yang terberai menjadi suatu bentuk. Ya mungkin dalam bentuk ,itu masih ada beberapa yang kosong namun bukankah lebih nyaman memandang suatu bentuk yang kita dapat menerka, ketimbang memandangi yang masih terberai? Dalam isyarat nabi tentang menikah, ialah sunnah terjujur yang termuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati. Maka menikah sebagai ibadah, memerlukan kesiapan dan persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. &#8220;Ba\u2019ah&#8221; adalah parameter kesiapannya. Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat nikah hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan. Persiapan menikah hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal \u201cba\u2019ah\u201d dalam hadits itu adalah \u201ckemampuan seksual\u201d. Iman Asy-Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram, menambahkan makna \u201cba-ah\u201d yakni: kemampuan meberi mahar dan nafkah. Mengompromikan \u201cba-ah\u201d dimaknai utama (seksual) dan makna tambahan (mahar,nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh. Jika kesiapan nikah diukur dengan \u201cba-ah\u201d, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri yang tak pernah usai. Ia terus berlangsung seumur hidup. Izinkan saya membagi persiapan nikah dalam 5 ranah: ruhiyyah (spiritual), \u2018ilmiyyah (pengetahuan), jasadiyyah (fisik), maaliyyah (finansial) dan ijtimaaiyyah (sosial). Persiapan nikah perlu start awal. Salim nikah usia 20 tahun, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 tahun, maka tak bisa disebut tergesa-gesa. Sebaliknya, ada orang yang nikahnya umur 30 tahun, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 tahun. Itu namanya tergesa-gesa. Kita mulai dari yang pertama; persiapan ruhiyyah. Ialah yag paling mendasar. Segala persiapan nikah lainnya berpijak oada yang satu ini. Persiapan ruhiiyyah (spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian dan tanggung jawab hidup yang lebih berlipat, berkelindan. Surat Ali Imran ayat 14: Sebelum nikah ujian kita linear; pasangan hidup. Begitu nikah berjejalin; pasangan, anak, harta, gengsi, investasi, bersekutu menajdi ujian kita. Sebelum nikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. Setelah menikah, ia digital variatif, kalau bukan NIKMAT, ya MUSIBAH. Maka termakna jua dalam persiapan ruhiyyah terkait nikah adalah kemampuan mengelola SABAR dan SYUKUR mengahdapi tantangan-tantangan itu. SABAR dan SYUKUR itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih dan kurangnya. Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, dan dukung penuh perjuangan. Tetapi tak semua lelaki mampu beristri jauh lebih tua. Aisya: cantik, cerdas, lincah, imut. Tetapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya yang sampai banting piring di depan tamu. Persiapan ruhiyyah nikah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Dari harapan akan apa yang diperoleh, menuju yang apa akan dibaktikan. Jika nikah masih terbayang, lapar ada yang masakin, capek ada yang mijitin, baju kotor dicuciin. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa. Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, dan tukang cuci. Berobsesilah dalam nikah. \u201cApa Obsesimu?\u201d Obsesi sebagai persiapan ruhiyyah nikah semisal : bagaimana kan akan berjuang sebagai sumai\/istri ayah\/ibu untuk mensurgakan keluargamu? Usai itu, diantara persiapan ruhiyyah nikah adalah menata ketundukan pada segala ketentuan-Nya dalam rumah tangga dan masalah-masalahnya. &#8211;bersambung Kalo sekarang umur 20 tahun, berarti untuk target menikah umur 23 tahun bukan sesuatu yang tergesa-gesa kan?<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"wprm-recipe-roundup-name":"","wprm-recipe-roundup-description":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[46],"tags":[],"aioseo_notices":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/413"}],"collection":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=413"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/413\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=413"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=413"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=413"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}