{"id":430,"date":"2012-12-06T17:15:00","date_gmt":"2012-12-06T17:15:00","guid":{"rendered":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=430"},"modified":"2012-12-06T17:15:00","modified_gmt":"2012-12-06T17:15:00","slug":"modal-jadi-guru-%e2%86%92","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=430","title":{"rendered":"Modal Jadi Guru \u2192"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201c<span>Kalo Kita tidak beri perhatian pada guru, berarti kita tidak peduli pada masa depan<\/span>\u201d<\/p><\/div>\n<table border=\"0\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"margin-top: 10px; width: 100%px;\">\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"padding: 0px 10px 0px 20px; width: 1px;\" valign=\"top\">\n                    \u2014\n                <\/td>\n<td valign=\"top\">\n                    Anis Baswedan on \u201cTo The Point &#8211; Metro TV\u201d                <\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nItu salah satu ucapan pak anis di acara To The Point malem ini yang bener-bener menggugah semangat kami para calon guru(<i>pendidik<\/i>-red). Bener banget, guru sebagai garda depan implementasi segala macam rancangan kurikulum menjadi central point untuk menentukan sukses tidaknya suatu sistem pendidikan. Percuma kurikulum yang disusun bagus kalo ternyata guru sebagai implementator utamanya justru gak bisa mengaplikasikannya kedalam duni pendidikan sesungguhnya. Jadi inget artikel mba fitria dulu tentang modal jadi guru, semoga menginspirasi.<\/p>\n<p>modal menjadi seorang guru itu sebenarnya hanya perlu 4:<\/p><\/div>\n<ol>\n<li>rada pintar<\/li>\n<li>rada kaya<\/li>\n<li>rada kota<\/li>\n<li>bosan profesi lain<\/li>\n<\/ol>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<a href=\"http:\/\/media.tumblr.com\/tumblr_mc2uq5drT81r2u2wc.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" border=\"0\" height=\"518\" src=\"http:\/\/media.tumblr.com\/tumblr_mc2uq5drT81r2u2wc.jpg\" width=\"450\" \/><\/a><\/div>\n<p><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nGuru itu harus bermodal <span style=\"font-size: large;\"><b>rada pintar<\/b><\/span>. jika disebutkan rada pintar, berarti banyak \u2026..?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<b>stop<\/b> ! bukan berarti hanya orang-orang bodohlah yang menjadi guru.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nkalau begitu adanya, apa kabar generasi terdidik kedepannya ? \ud83d\ude41<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nternyata maksud dari konteks rada pintar ini, guru itu hanya boleh rada pintar, sedangkan <b>muridnya harus menjadi lebih pintar dari gurunya<\/b> . dan guru lah yang men-sett semua nya agar bagaimana caranya sang murid itu lebih pintar darinya .<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nsebab sang guru bukan hanya mencetak agar nilai rapor sang anak tak hanya terisi dengan nilai-nilai briliant, tapi juga guru itu menyiapkan sang murid untuk menjadi orang yang lebih sukses dan valuable.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nya . saya setuju . guru itu memang harus rada pintar \ud83d\ude42<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\npoin kedua adalah guru harus bermodalkan <b><span style=\"font-size: large;\">rada kaya<\/span><\/b> .<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nada pernyataan pertanyaan yang menggelitik;<\/div>\n<ul>\n<li>manakah yang lebih berpotensi memiliki cita-cita menjadi guru ?<\/li>\n<li>putri dari seorang direktur perusahaan negara berminat jadi guru ?<\/li>\n<li>putra dari saudagar kenamaan negeri memiliki cita menjadi guru ?<\/li>\n<li>ataukah anak seorang pedagang kecil keliling di sekolah dasar ?<\/li>\n<\/ul>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\ntentu akan banyak yang memilih yang ketiga .<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nsaya memang ga pernah melakukan survey untuk mengakumulasi jawaban, tapi saya punya keyakinan tersendiri bahwa yang ketiga akan lebih banyak dipilih,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nkenapa ?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nkarena cita-cita yang dipilih orang pertama dan kedua, biasanya tak jauh dari menjadi pengusaha, model, pramugari, direktur, sutradara, dll<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nlalu kenapa jenis orang yang ketiga memiliki cita menjadi guru ?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nmenurut saya, -lagi lagi tanpa bukti yang jelas- karena jenis orang yang ketiga biasanya langsung belajar dari kehidupan sehari-hari, gurunya adalah guru kehidupan . kehidupannya pasti tak jauh dari himpitan biaya, kesulitan ekonomi, dan hal-hal lain yang membuatnya tak ingin orang lain, minimal generasi selanjutnya bernasib sama sepertinya . oleh karena itu, menjadi guru adalah cita-cita yang tepat. insya Allah \ud83d\ude42<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\ndan yang selanjutnya adalah guru harus bermodal <span style=\"font-size: large;\"><b>rada kota<\/b><\/span> . berarti ? semua guru harus \u2026. *semoga sudah pada bisa menyimpulkan&#8212;-<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nya . guru itu memang harus rada kota . karena masih banyak adik-adik yang di pulau mana, yang di pelosok mana, dan di belantara mana yang masih belum terjamah cahaya pendidikan .<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\ntak terlepas dari semakin menjamurnya Sekolah Dasar Islam Terpadu atau Sekolah Alam yang ternyata letaknya masih banyak di perkotaan, dan lagi-lagi hanya anak seperti jenis pertama dan kedua yang bisa mengecap pendidikan semacam itu .<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\ndisini, guru dituntut untuk rada kota, agar saat teramanahi siswa-siswi di daerah lain, ia bisa dengan mudah beradaptasi .<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\ndan guru pun harus rada kota, karena sampai dewasa ini, justru budaya Indonesia masih menyala di negeri yang \u2018orang kota\u2019 sering sebut negeri antah berantah .<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\ndan yang terakhir, modal guru itu adalah <b><span style=\"font-size: large;\">bosan profesi lain<\/span><\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nkalau bicara, eh menulis tentang yang ini, nampaknya perlu beberapa penyesuaian<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nberangkat dari kisah nyata, saya yang sekarang berprofesi menjadi Web Programmer malah mengambil jenjang pendidikan kampus berjurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nsaya bukan bosan ! ciyuus, beneran !<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nsaya hanya ingin menggenapkan cita-cita sedari kecil<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n*ok, back to topic<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nketika menjadi guru, entah itu saat sedang kuliah, atau benar-benar sedang praktek menjadi guru, kita emang harus bosan pada profesi lain<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nkita harus bosan menjadi karyawan, kita harus bosan menjadi wiraswasta, kita harus bosan menjadi direktur<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nkarena guru itu bukan hanya menjadi bawahan boss, yang hanya menjalankan kewajiban tiap harinya<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nkarena guru itu bukan hanya menjadi tukang jualan buku di kelas-kelas, yang mengambil secuil keuntungan dari anak muridnya<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\ndan juga karena guru itu bukan pula atasan yang harus dihormati dan dipuja puji siswanya<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nberikan totalitasmu saat menjadi guru, atau bahkan sejak menjadi calon guru<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nhanya sementara memaksa bosan pada profesi lain, selebih dari kegiatan belajar mengajar, silahkan kembali pada profesi masing-masing<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nmasalah ingin mengajar seperti karyawan, wiraswasta, ataupun direktur, itu hanya masalah Strategi dan Metodologi pengajaran<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\ndisini, saya bukan ingin mengagung-agungkan profesi menjadi guru, toh saya juga tak begitu ingin menjadi guru, saya inginnya jadi Kepala Sekolah . aamiin Yaa Rabb . wahahaha =)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nsemua profesi itu baik, semua pengabdian itu mulia, tergatung semua itu dimuarakan kemana .<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nuntuk siapakah semua kerja ibadah itu<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nteringat sebuah pesan, <\/div>\n<blockquote>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nsaat kamu kuliah di jurusan teknik, jadilah teknokrat yang membangun Indonesia<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nsaat kamu kuliah di jurusan ekonomi, jadilah ekonom yang bijaksana<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nsaat kamu kuliah di jurusan psikologi, jadilah psikolog yang inklusif<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nsaat kamu kuliah di jurusan bahasa, jadilah bahasawan yang tak lupa bangga bahasa negeri sendiri<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nsaat kamu kuliah di jurusan politik, jadilah politikus yang amanah<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<i><b>saat kamu kuliah di <span style=\"font-size: large;\">jurusan pendidikan<\/span>, jadilah pendidik yang melahirkan generasi teknokrat, ekonom, psikolog, bahasawan, politikus, dan berbagai profesi lainnya yang menyinari negeri ini, yang memberi kemanfaatan bagi umat, dan yang selalu menjunjung tinggi akhlaqul kariimah <\/b>.<\/i><\/div>\n<\/blockquote>\n<blockquote><p>\n\u0639\u0646 \u062c\u0627\u0628\u0631 \u0642\u0627\u0644 : \u0642\u0627\u0644 \u0631\u0633\u0648\u0644 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 : \u00ab \u0627\u0644\u0645\u0624\u0645\u0646 \u064a\u0623\u0644\u0641 \u0648\u064a\u0624\u0644\u0641 \u060c \u0648\u0644\u0627 \u062e\u064a\u0631 \u0641\u064a\u0645\u0646 \u0644\u0627 \u064a\u0623\u0644\u0641 \u060c \u0648\u0644\u0627 \u064a\u0624\u0644\u0641\u060c \u0648\u062e\u064a\u0631 \u0627\u0644\u0646\u0627\u0633 \u0623\u0646\u0641\u0639\u0647\u0645 \u0644\u0644\u0646\u0627\u0633 \u00bb<\/p><\/blockquote>\n<p><\/p>\n<blockquote><p>\nDiriwayatkan dari Jabir berkata,\u201dRasulullah saw bersabda,\u2019Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.\u201d (HR. Thabrani dan Daruquthni)<\/p><\/blockquote>\n<p>\nCibogo Permai, 00.28 WIB<\/p>\n<p>selamat berjuang teman-teman Mahasiswa\/i,<br \/>\nsalam semangat <\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/fitriarahmaani.tumblr.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Fitria Rahmaani, cS. Pd I<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cKalo Kita tidak beri perhatian pada guru, berarti kita tidak peduli pada masa depan\u201d \u2014 Anis Baswedan on \u201cTo The Point &#8211; Metro TV\u201d Itu salah satu ucapan pak anis di acara To The Point malem ini yang bener-bener menggugah semangat kami para calon guru(pendidik-red). Bener banget, guru sebagai garda depan implementasi segala macam rancangan kurikulum menjadi central point untuk menentukan sukses tidaknya suatu sistem pendidikan. Percuma kurikulum yang disusun bagus kalo ternyata guru sebagai implementator utamanya justru gak bisa mengaplikasikannya kedalam duni pendidikan sesungguhnya. Jadi inget artikel mba fitria dulu tentang modal jadi guru, semoga menginspirasi. modal menjadi seorang guru itu sebenarnya hanya perlu 4: rada pintar rada kaya rada kota bosan profesi lain Guru itu harus bermodal rada pintar. jika disebutkan rada pintar, berarti banyak \u2026..? stop ! bukan berarti hanya orang-orang bodohlah yang menjadi guru. kalau begitu adanya, apa kabar generasi terdidik kedepannya ? \ud83d\ude41 ternyata maksud dari konteks rada pintar ini, guru itu hanya boleh rada pintar, sedangkan muridnya harus menjadi lebih pintar dari gurunya . dan guru lah yang men-sett semua nya agar bagaimana caranya sang murid itu lebih pintar darinya . sebab sang guru bukan hanya mencetak agar nilai rapor sang anak tak hanya terisi dengan nilai-nilai briliant, tapi juga guru itu menyiapkan sang murid untuk menjadi orang yang lebih sukses dan valuable. ya . saya setuju . guru itu memang harus rada pintar \ud83d\ude42 poin kedua adalah guru harus bermodalkan rada kaya . ada pernyataan pertanyaan yang menggelitik; manakah yang lebih berpotensi memiliki cita-cita menjadi guru ? putri dari seorang direktur perusahaan negara berminat jadi guru ? putra dari saudagar kenamaan negeri memiliki cita menjadi guru ? ataukah anak seorang pedagang kecil keliling di sekolah dasar ? tentu akan banyak yang memilih yang ketiga . saya memang ga pernah melakukan survey untuk mengakumulasi jawaban, tapi saya punya keyakinan tersendiri bahwa yang ketiga akan lebih banyak dipilih, kenapa ? karena cita-cita yang dipilih orang pertama dan kedua, biasanya tak jauh dari menjadi pengusaha, model, pramugari, direktur, sutradara, dll lalu kenapa jenis orang yang ketiga memiliki cita menjadi guru ? menurut saya, -lagi lagi tanpa bukti yang jelas- karena jenis orang yang ketiga biasanya langsung belajar dari kehidupan sehari-hari, gurunya adalah guru kehidupan . kehidupannya pasti tak jauh dari himpitan biaya, kesulitan ekonomi, dan hal-hal lain yang membuatnya tak ingin orang lain, minimal generasi selanjutnya bernasib sama sepertinya . oleh karena itu, menjadi guru adalah cita-cita yang tepat. insya Allah \ud83d\ude42 dan yang selanjutnya adalah guru harus bermodal rada kota . berarti ? semua guru harus \u2026. *semoga sudah pada bisa menyimpulkan&#8212;- ya . guru itu memang harus rada kota . karena masih banyak adik-adik yang di pulau mana, yang di pelosok mana, dan di belantara mana yang masih belum terjamah cahaya pendidikan . tak terlepas dari semakin menjamurnya Sekolah Dasar Islam Terpadu atau Sekolah Alam yang ternyata letaknya masih banyak di perkotaan, dan lagi-lagi hanya anak seperti jenis pertama dan kedua yang bisa mengecap pendidikan semacam itu . disini, guru dituntut untuk rada kota, agar saat teramanahi siswa-siswi di daerah lain, ia bisa dengan mudah beradaptasi . dan guru pun harus rada kota, karena sampai dewasa ini, justru budaya Indonesia masih menyala di negeri yang \u2018orang kota\u2019 sering sebut negeri antah berantah . dan yang terakhir, modal guru itu adalah bosan profesi lain kalau bicara, eh menulis tentang yang ini, nampaknya perlu beberapa penyesuaian berangkat dari kisah nyata, saya yang sekarang berprofesi menjadi Web Programmer malah mengambil jenjang pendidikan kampus berjurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar saya bukan bosan ! ciyuus, beneran ! saya hanya ingin menggenapkan cita-cita sedari kecil *ok, back to topic ketika menjadi guru, entah itu saat sedang kuliah, atau benar-benar sedang praktek menjadi guru, kita emang harus bosan pada profesi lain kita harus bosan menjadi karyawan, kita harus bosan menjadi wiraswasta, kita harus bosan menjadi direktur karena guru itu bukan hanya menjadi bawahan boss, yang hanya menjalankan kewajiban tiap harinya karena guru itu bukan hanya menjadi tukang jualan buku di kelas-kelas, yang mengambil secuil keuntungan dari anak muridnya dan juga karena guru itu bukan pula atasan yang harus dihormati dan dipuja puji siswanya berikan totalitasmu saat menjadi guru, atau bahkan sejak menjadi calon guru hanya sementara memaksa bosan pada profesi lain, selebih dari kegiatan belajar mengajar, silahkan kembali pada profesi masing-masing masalah ingin mengajar seperti karyawan, wiraswasta, ataupun direktur, itu hanya masalah Strategi dan Metodologi pengajaran disini, saya bukan ingin mengagung-agungkan profesi menjadi guru, toh saya juga tak begitu ingin menjadi guru, saya inginnya jadi Kepala Sekolah . aamiin Yaa Rabb . wahahaha =) semua profesi itu baik, semua pengabdian itu mulia, tergatung semua itu dimuarakan kemana . untuk siapakah semua kerja ibadah itu teringat sebuah pesan, saat kamu kuliah di jurusan teknik, jadilah teknokrat yang membangun Indonesia saat kamu kuliah di jurusan ekonomi, jadilah ekonom yang bijaksana saat kamu kuliah di jurusan psikologi, jadilah psikolog yang inklusif saat kamu kuliah di jurusan bahasa, jadilah bahasawan yang tak lupa bangga bahasa negeri sendiri saat kamu kuliah di jurusan politik, jadilah politikus yang amanah saat kamu kuliah di jurusan pendidikan, jadilah pendidik yang melahirkan generasi teknokrat, ekonom, psikolog, bahasawan, politikus, dan berbagai profesi lainnya yang menyinari negeri ini, yang memberi kemanfaatan bagi umat, dan yang selalu menjunjung tinggi akhlaqul kariimah . \u0639\u0646 \u062c\u0627\u0628\u0631 \u0642\u0627\u0644 : \u0642\u0627\u0644 \u0631\u0633\u0648\u0644 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 : \u00ab \u0627\u0644\u0645\u0624\u0645\u0646 \u064a\u0623\u0644\u0641 \u0648\u064a\u0624\u0644\u0641 \u060c \u0648\u0644\u0627 \u062e\u064a\u0631 \u0641\u064a\u0645\u0646 \u0644\u0627 \u064a\u0623\u0644\u0641 \u060c \u0648\u0644\u0627 \u064a\u0624\u0644\u0641\u060c \u0648\u062e\u064a\u0631 \u0627\u0644\u0646\u0627\u0633 \u0623\u0646\u0641\u0639\u0647\u0645 \u0644\u0644\u0646\u0627\u0633 \u00bb Diriwayatkan dari Jabir berkata,\u201dRasulullah saw bersabda,\u2019Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.\u201d (HR. Thabrani dan Daruquthni) Cibogo Permai, 00.28 WIB selamat berjuang teman-teman Mahasiswa\/i, salam semangat Fitria Rahmaani, cS. Pd I<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"wprm-recipe-roundup-name":"","wprm-recipe-roundup-description":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[39,32,7],"tags":[],"aioseo_notices":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/430"}],"collection":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=430"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/430\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=430"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=430"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=430"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}