{"id":453,"date":"2012-11-06T00:15:00","date_gmt":"2012-11-06T00:15:00","guid":{"rendered":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=453"},"modified":"2012-11-06T00:15:00","modified_gmt":"2012-11-06T00:15:00","slug":"dua-belas-hari-12","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=453","title":{"rendered":"Dua belas hari #12"},"content":{"rendered":"<p>Dua belas hari. Bagian dua belas.<br \/>\nKinsia Eyusa Merry<\/p>\n<p>Jil, siapkan mental untuk satu pertanyaan yang akan membuatmu tercengang, ternganga, termanggu, terguncang, dan sebagainya. Enggak Jil, jangan lompat ke paragraf terakhir, pertanyaannya nggak disitu. Baca saja email ini pelan-pelan. Nanti ketemu sendiri. Oke?<\/p>\n<p>Dari tulisanku kau pasti sudah menebak bahwa aku ada dalam kondisi on the ground. zero level. melantai. rapuh serapuh-rapuhnya #ecie<\/p>\n<p>Jil, jawab yang jujur ya, aku ini cenderung polos atau bodoh, sih?<\/p>\n<p>(Warning: Ini bukan pertanyaan ultimate! Ini cuma pop-up. Teruskan membaca)<\/p>\n<p>Tadi sore, akhirnya, dengan mengesampingkan segala gengsi, aku masuk ke studio mini. Ternampaklah pemandangan Alyo yang sedang nyoret-nyoret kertas partitur, memangku sebuah gitar akustik warna cokelat terang (keterangan yg tidak perlu).<\/p>\n<p>Aku lalu bertanya, \u201cHalo. Sedang apa?\u201d, aku basa-basi, melongok di pintu.<\/p>\n<p>Alyo menoleh. Aku mempersiapkan diri menghadapi muka masam atau bibir manyun. Eh, ternyata ekspresinya riang gembira. Hah, bocah yang membingungkan!<\/p>\n<p>\u201cBikin lagu\u201d, Alyo menjawab sambil menaik-naikkan alis. Ala-ala menggoda.<\/p>\n<p>\u201cKamu nggak marah?\u201d, aku duduk di sofa. Naikin kaki. Melipat kaki. Meluk kaki. Posisi wuenak.<\/p>\n<p>\u201cMarah kenapa?\u201d<\/p>\n<p>PARARAAAMPAAAM. Bisa-bisanyaaaa dia lupa sama peristiwa \u201cOh\u201d di kebun.<\/p>\n<p>\u201cYang Oh, terus dieeem sampe sore?\u201d<\/p>\n<p>\u201cHahahahahahaha. Maaf ya. Saya KESEL sama Jil\u201d.<\/p>\n<p>(itu \u201ckesel\u201d ditulis besar-besar soalnya Alyo ngomongnya pakai penekanan).<\/p>\n<p>\u201cKenapa?\u201d<\/p>\n<p>\u201cKamu sama dia, kayak belom selesai\u201d, raut wajah Alyo mendadak serius.<\/p>\n<p>\u201cEmang nggak bakal selesai sampai kapanpun. Saya sama dia kan temen\u201d.<\/p>\n<p>Aku kan ngeyel, Jil. Kau tau itu. Alyo meneliti mataku dalam-dalam. Lalu dia mengangguk pasrah.<\/p>\n<p>\u201cOke\u201d.<\/p>\n<p>\u201cJangan sampe \u2018oke\u2019 ini fungsinya sama kayak \u2018oh\u2019 tadi. Memulai perang dingin\u201d<\/p>\n<p>\u201cHahahahahahaha. Enggaaaak. Saya percaya kok sama kamu\u201d, dia ngomong sambil nyetel-nyetel gitar, menghindari kontak mata. Tapi aku merinding. Terharu.<\/p>\n<p>\u201cTapi jangan banding-bandingin saya lagi ya, sama Jil. I know he\u2019s way way better. Way earlier. Way too handsome. Way too good to be true\u201d.<\/p>\n<p>\u201cHeh heh! Jangan mulai\u201d, aku melotot.<\/p>\n<p>\u201cHehehehe, abis kamu kalo ngomongin Jil berapi-api\u201d.<\/p>\n<p>\u201cBukan gituuu. Saya justru nyeritain segala detail Jil dengan kasual, supaya ketara kalau kami berteman baik. Seandainya saya masih ada rasa, saya pasti nyembunyiin rapet-rapet tentang keberadaan Jil, ya kan ya kan?\u201d<\/p>\n<p>Menyembunyikan keberadaan rapat-rapat. It rings a bell.<\/p>\n<p>\u201cKamu, ini jangan marah ya, cuma nanya. Seratus persen cuma nanya\u201d.<\/p>\n<p>\u201cAnggita?\u201d, naluri Alyo bekerja baik sekali. Tebakannya tepat.<\/p>\n<p>\u201cHmm, kamu sama anggita, udah selesai, kan?\u201d<\/p>\n<p>Alyo mengangguk cepat. Tidak menyukai topik ini, kurasa.<\/p>\n<p>\u201cLiat sini dong\u201d, aku menarik gitar yang dipegangnya, mengistirahatkan gitar itu di atas sofa, dan mengemas kertas-kertas partitur di atas meja. Sekarang hanya ada aku dan Alyo. One on one. Face to face. Tanpa gangguan. Alyo bertangan kosong sehingga tidak bisa lagi pura-pura sibuk.<\/p>\n<p>\u201cUdah selesai? Atau nggak pernah diselesaikan?\u201d, tanyaku jahat. Iya tau, jahat. Pikirkan dari perspektifku dong Jiiiil. Aku juga tersiksa ngomongin beginian. Tapi ini WAJIB, demi kejelasan masa depan kami #halah<\/p>\n<p>\u201cGimana kita tau, kalau kita sama orang itu emang udah bener-bener selesai?\u201d<\/p>\n<p>\u201cPakai perasaan lah. Kalau ketemu, biasa aja, nggak deg-degan. Nggak kangen. Nggak pengen ngobrol lama-lama. Nggak berjuang buat ngasih hadiah. Nggak bikin suprise. Nggak perhatian. Nggak pengen ngasih perhatian lebih\u201d.<\/p>\n<p>Alyo diam sebentar. \u201cYaudah, kalau gitu saya sama anggi selesai\u201d.<\/p>\n<p>\u201cSetelah putus, emang kamu pernah ketemu dia? Lagi? Enggak kan? Orang kamunya menghindar gitu\u201d, aku esmosi. Ngebet banget kayaknya menyudutkan Alyo. Heran. Manusia jaman sekarang suka banget nyiksa diri ye? Masang tindik. Make tato. Baca-bacain tweet orang tentang kesuksesan pribadi dan hubungan mereka. Melihara kecemburuan berlebihan. Nah. Untuk ciri-ciri yang terakhir kayaknya I\u2019m included, Jil (T___T)<\/p>\n<p>\u201cAnd the point is\u2026\u201d, Jil terbawa arus. Aku tahu dia galau-segalau-galaunya.<\/p>\n<p>\u201cAnd the point is\u2026 MEET HER! You have to be sure about your own feeling!!!\u201d, I yelled at him. Eh sori keterusan bulenya. Translate: Aku membentaknya.<\/p>\n<p>\u201cSaya selama ini menghindari cerita tentang anggi, semua yang berbau anggi, dan masa lalu pait, untuk jagain perasaan kamu lho. Kenapa kamu malah minta saya KETEMUAN sama dia?\u201d.<\/p>\n<p>Sekali lagi. Penekanan: KETEMUAN.<\/p>\n<p>Aku memanfaatkan sisa-sisa kemahiran berdebat jaman SMA.<\/p>\n<p>\u201cSupaya kamu nggak diam-diam bertanya lagi, eh gimana yaaa kalo gue nggak sengaja ketemu anggi di jalan. gimana ngasih tau dia kalau gue udah nikah, sama anak orang entah dari mana karena dijodohin bapaknya. gimana kalo entar gue luluh lagi sama anggi. gimana kalau gue dan anggi memang sebenernya belom selesaii, gimanaa yaaa gimanaaaaaa\u201d.<\/p>\n<p>Alyo menatapku tajam. Aku menatapnya tajam. Dia menunduk, ngangguk pasrah.<\/p>\n<p>\u201cIya oke. Sore ini juga saya ke bandung. Ketemu Anggi. Dan bicara. Itu kan yang kamu mau?\u201d<\/p>\n<p>Aku mengangguk. Padahal dalam hati aku jerit-jerit, \u2018Alyo bodoooh, yang saya mau, kamu dengan mantap menjawab bahwa kalian sudah selesai. Titik\u2019.<\/p>\n<p>Alyo mengambil kunci mobil dan memakai jaket. Aku mengantarnya sampai garasi.<\/p>\n<p>\u201cSaya balik malem ini juga kok. Tungguin sampe jam sepuluh ya. Kalau lewat, kamu tidur aja, kunci pintunya. Saya bawa kunci\u201d.<\/p>\n<p>Alyo dan jazz putih berlalu dari hadapan. Aku patah-patah.<\/p>\n<p>Kenapa Alyo begitu bersemangatnya dengan ide tololku yang tercetus karena gengsi? Kenapa aku ngizinin? Kenapa aku malah mengantarnya ke depan pagar? Gimana kalau dia akhirnya BENAR-BENAR luluh lagi buat anggi? Gimana kalau mereka nggak jadi selesai, malah menyemai bibit-bibit baru? Gimana Jiiiillll????<\/p>\n<p>My heart has been broken badly, Jil.<\/p>\n<p>Dan disaat-saat seperti ini, I want to call you, cry on the phone, letting you worry, try hard to calm me, and end up with a promise that you\u2019ll book a flight from surabaya to comfort me.<\/p>\n<p>Ini pertanyaannya.<\/p>\n<p>\u201cUntuk hubungan yang satu tingkat di atas pertemanan itu,<\/p>\n<p>kita benar-benar sudah selesai kan Jil?\u201d<\/p>\n<p>(aku bohong. pertanyaannya memang di akhir. tapi kalau dibilang awal-awal, kau pasti lompat ke paragraf ini dan mengabaikan prolognya. Nanti tidak syahdu)<\/p>\n<p>Tolong Jawab. Sesegera Mungkin.<br \/>\n<i><br \/>\nSincerely Kalin,<\/p>\n<p>your (once upon a time) girlfriend<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dua belas hari. Bagian dua belas. Kinsia Eyusa Merry Jil, siapkan mental untuk satu pertanyaan yang akan membuatmu tercengang, ternganga, termanggu, terguncang, dan sebagainya. Enggak Jil, jangan lompat ke paragraf terakhir, pertanyaannya nggak disitu. Baca saja email ini pelan-pelan. Nanti ketemu sendiri. Oke? Dari tulisanku kau pasti sudah menebak bahwa aku ada dalam kondisi on the ground. zero level. melantai. rapuh serapuh-rapuhnya #ecie Jil, jawab yang jujur ya, aku ini cenderung polos atau bodoh, sih? (Warning: Ini bukan pertanyaan ultimate! Ini cuma pop-up. Teruskan membaca) Tadi sore, akhirnya, dengan mengesampingkan segala gengsi, aku masuk ke studio mini. Ternampaklah pemandangan Alyo yang sedang nyoret-nyoret kertas partitur, memangku sebuah gitar akustik warna cokelat terang (keterangan yg tidak perlu). Aku lalu bertanya, \u201cHalo. Sedang apa?\u201d, aku basa-basi, melongok di pintu. Alyo menoleh. Aku mempersiapkan diri menghadapi muka masam atau bibir manyun. Eh, ternyata ekspresinya riang gembira. Hah, bocah yang membingungkan! \u201cBikin lagu\u201d, Alyo menjawab sambil menaik-naikkan alis. Ala-ala menggoda. \u201cKamu nggak marah?\u201d, aku duduk di sofa. Naikin kaki. Melipat kaki. Meluk kaki. Posisi wuenak. \u201cMarah kenapa?\u201d PARARAAAMPAAAM. Bisa-bisanyaaaa dia lupa sama peristiwa \u201cOh\u201d di kebun. \u201cYang Oh, terus dieeem sampe sore?\u201d \u201cHahahahahahaha. Maaf ya. Saya KESEL sama Jil\u201d. (itu \u201ckesel\u201d ditulis besar-besar soalnya Alyo ngomongnya pakai penekanan). \u201cKenapa?\u201d \u201cKamu sama dia, kayak belom selesai\u201d, raut wajah Alyo mendadak serius. \u201cEmang nggak bakal selesai sampai kapanpun. Saya sama dia kan temen\u201d. Aku kan ngeyel, Jil. Kau tau itu. Alyo meneliti mataku dalam-dalam. Lalu dia mengangguk pasrah. \u201cOke\u201d. \u201cJangan sampe \u2018oke\u2019 ini fungsinya sama kayak \u2018oh\u2019 tadi. Memulai perang dingin\u201d \u201cHahahahahahaha. Enggaaaak. Saya percaya kok sama kamu\u201d, dia ngomong sambil nyetel-nyetel gitar, menghindari kontak mata. Tapi aku merinding. Terharu. \u201cTapi jangan banding-bandingin saya lagi ya, sama Jil. I know he\u2019s way way better. Way earlier. Way too handsome. Way too good to be true\u201d. \u201cHeh heh! Jangan mulai\u201d, aku melotot. \u201cHehehehe, abis kamu kalo ngomongin Jil berapi-api\u201d. \u201cBukan gituuu. Saya justru nyeritain segala detail Jil dengan kasual, supaya ketara kalau kami berteman baik. Seandainya saya masih ada rasa, saya pasti nyembunyiin rapet-rapet tentang keberadaan Jil, ya kan ya kan?\u201d Menyembunyikan keberadaan rapat-rapat. It rings a bell. \u201cKamu, ini jangan marah ya, cuma nanya. Seratus persen cuma nanya\u201d. \u201cAnggita?\u201d, naluri Alyo bekerja baik sekali. Tebakannya tepat. \u201cHmm, kamu sama anggita, udah selesai, kan?\u201d Alyo mengangguk cepat. Tidak menyukai topik ini, kurasa. \u201cLiat sini dong\u201d, aku menarik gitar yang dipegangnya, mengistirahatkan gitar itu di atas sofa, dan mengemas kertas-kertas partitur di atas meja. Sekarang hanya ada aku dan Alyo. One on one. Face to face. Tanpa gangguan. Alyo bertangan kosong sehingga tidak bisa lagi pura-pura sibuk. \u201cUdah selesai? Atau nggak pernah diselesaikan?\u201d, tanyaku jahat. Iya tau, jahat. Pikirkan dari perspektifku dong Jiiiil. Aku juga tersiksa ngomongin beginian. Tapi ini WAJIB, demi kejelasan masa depan kami #halah \u201cGimana kita tau, kalau kita sama orang itu emang udah bener-bener selesai?\u201d \u201cPakai perasaan lah. Kalau ketemu, biasa aja, nggak deg-degan. Nggak kangen. Nggak pengen ngobrol lama-lama. Nggak berjuang buat ngasih hadiah. Nggak bikin suprise. Nggak perhatian. Nggak pengen ngasih perhatian lebih\u201d. Alyo diam sebentar. \u201cYaudah, kalau gitu saya sama anggi selesai\u201d. \u201cSetelah putus, emang kamu pernah ketemu dia? Lagi? Enggak kan? Orang kamunya menghindar gitu\u201d, aku esmosi. Ngebet banget kayaknya menyudutkan Alyo. Heran. Manusia jaman sekarang suka banget nyiksa diri ye? Masang tindik. Make tato. Baca-bacain tweet orang tentang kesuksesan pribadi dan hubungan mereka. Melihara kecemburuan berlebihan. Nah. Untuk ciri-ciri yang terakhir kayaknya I\u2019m included, Jil (T___T) \u201cAnd the point is\u2026\u201d, Jil terbawa arus. Aku tahu dia galau-segalau-galaunya. \u201cAnd the point is\u2026 MEET HER! You have to be sure about your own feeling!!!\u201d, I yelled at him. Eh sori keterusan bulenya. Translate: Aku membentaknya. \u201cSaya selama ini menghindari cerita tentang anggi, semua yang berbau anggi, dan masa lalu pait, untuk jagain perasaan kamu lho. Kenapa kamu malah minta saya KETEMUAN sama dia?\u201d. Sekali lagi. Penekanan: KETEMUAN. Aku memanfaatkan sisa-sisa kemahiran berdebat jaman SMA. \u201cSupaya kamu nggak diam-diam bertanya lagi, eh gimana yaaa kalo gue nggak sengaja ketemu anggi di jalan. gimana ngasih tau dia kalau gue udah nikah, sama anak orang entah dari mana karena dijodohin bapaknya. gimana kalo entar gue luluh lagi sama anggi. gimana kalau gue dan anggi memang sebenernya belom selesaii, gimanaa yaaa gimanaaaaaa\u201d. Alyo menatapku tajam. Aku menatapnya tajam. Dia menunduk, ngangguk pasrah. \u201cIya oke. Sore ini juga saya ke bandung. Ketemu Anggi. Dan bicara. Itu kan yang kamu mau?\u201d Aku mengangguk. Padahal dalam hati aku jerit-jerit, \u2018Alyo bodoooh, yang saya mau, kamu dengan mantap menjawab bahwa kalian sudah selesai. Titik\u2019. Alyo mengambil kunci mobil dan memakai jaket. Aku mengantarnya sampai garasi. \u201cSaya balik malem ini juga kok. Tungguin sampe jam sepuluh ya. Kalau lewat, kamu tidur aja, kunci pintunya. Saya bawa kunci\u201d. Alyo dan jazz putih berlalu dari hadapan. Aku patah-patah. Kenapa Alyo begitu bersemangatnya dengan ide tololku yang tercetus karena gengsi? Kenapa aku ngizinin? Kenapa aku malah mengantarnya ke depan pagar? Gimana kalau dia akhirnya BENAR-BENAR luluh lagi buat anggi? Gimana kalau mereka nggak jadi selesai, malah menyemai bibit-bibit baru? Gimana Jiiiillll???? My heart has been broken badly, Jil. Dan disaat-saat seperti ini, I want to call you, cry on the phone, letting you worry, try hard to calm me, and end up with a promise that you\u2019ll book a flight from surabaya to comfort me. Ini pertanyaannya. \u201cUntuk hubungan yang satu tingkat di atas pertemanan itu, kita benar-benar sudah selesai kan Jil?\u201d (aku bohong. pertanyaannya memang di akhir. tapi kalau dibilang awal-awal, kau pasti lompat ke paragraf ini dan mengabaikan prolognya. Nanti tidak syahdu) Tolong Jawab. Sesegera Mungkin. Sincerely Kalin, your (once upon a time) girlfriend<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"wprm-recipe-roundup-name":"","wprm-recipe-roundup-description":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[37],"tags":[],"aioseo_notices":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/453"}],"collection":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=453"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/453\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=453"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=453"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=453"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}