{"id":454,"date":"2012-11-05T00:13:00","date_gmt":"2012-11-05T00:13:00","guid":{"rendered":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=454"},"modified":"2012-11-05T00:13:00","modified_gmt":"2012-11-05T00:13:00","slug":"dua-belas-hari-11","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=454","title":{"rendered":"Dua belas hari #11"},"content":{"rendered":"<p>Dua belas hari. bagian sebelas.<br \/>\nKinsia Eyusa Merry<\/p>\n<p>Selamat sore, mr. Jil. Bagaimana kakinya? Daridulu kau memang tidak pernah beruntung kalau berhadapan dengan bola. Terkilir, ter-tackle, tersikut, etc.<\/p>\n<p>Kasihan \ud83d\ude1b<\/p>\n<p>Oke, kembali ke laptop.<\/p>\n<p>Akhirnya malam itu aku ikut Alyo kembali ke rumahnya. Kami sampai pukul satu malam dan aku rebah saking capeknya. Dan pagi-pagi, aku menyadari sesuatu. Ada benda-benda baru yang sebelumnya tidak ada di kamarku. Sepasang sendal rumah, meja belajar garis miring meja rias (karena ada rak buku dan cermin diatasnya), dan lampu tidur ikan-ikan berputar seperti di film petualangan sherina! Waw!<\/p>\n<p>Itu belum apa-apa, Jil. Diatas benda-benda baru tersebut, ada tempelan kertas kecil bertuliskan: WELCOME HOME! ^^<\/p>\n<p>Aku speechless. Hahahaha.<\/p>\n<p>Aku lalu turun tangga pelan-pelan, berusaha membuat seminimal mungkin kebisingan, dan langsung menuju dapur. Yah mungkin saja ada sesuatu yang bisa kugarap untuk sarapan. Di atas meja dapur ada roti tawar dan selai. Hm, tidak. Ini terlalu biasa. Bosan.<\/p>\n<p>Selanjutnya aku memeriksa kulkas. Dan terkejut. Kulkas penuh. Beberapa kotak susu, sayur-sayuran, telur, dan bermacam-macam buah, tertata rapi dan tampak baru dibeli. Di dalam freezer ada tiga kotak es krim yang terdiri dari vanila, coklat, dan strawberi. Aku tertawa-tawa senang. Tapi sejenak kemudian, aku berhenti tertawa. Di tutup kotak es krim, kutemukan tempelan kertas kecil yang sama: <\/p>\n<p>WELCOME HOME! ^^<\/p>\n<p>Dug, dug, dug. Aku menggedor kamar Alyo.<\/p>\n<p>PS: ayolaah kita sudah terlalu sering pakai sound effect tok tok tok.<\/p>\n<p>Mukanya sumringah. Sudah mandi, sudah wangi dan sudah sisiran. Huh, soal ini aku memang tak pernah menang.<\/p>\n<p>\u201cSaya punya dua pertanyaan\u201d, ujarku semena-mena.<\/p>\n<p>\u201cHmm\u201d, Alyo menutup pintu kamarnya dan bergerak menuju taman belakang. Aku mengekor di belakangnya.<\/p>\n<p>\u201cPertama, soal benda-benda welcome home itu. Darimana kamu tau kalau kemaren saya bakal nurut dibawa pulang? Kan saya bisa aja nolak?\u201d<\/p>\n<p>\u201cOhh itu. Sebenernya itu nyiapinnya udah dari seminggu yang lalu. Saya pikir setelah pulang dari rumah sakit kamu bakal langsung dianter kesini. Saya nunggu sampe sore, nggak ada berita. Terus saya telfon ke rumah kamu yang ngangkat bapak. Dan disitulah bapak bilang jangan kesini duluuu, kalinnya masih emosi, nanti kalau sudah reda bapak kabariin, dan sebagainya. Seminggu kemudian, krik krik\u201d.<\/p>\n<p>\u201cHahahahahhaa bapak pasti lupa laaah yang detail-detail gitu\u201d.<\/p>\n<p>\u201cHaha salah saya juga sih nggak ngingetin\u201d.<\/p>\n<p>Alyo mulai menyirami tanaman dengan rajin. Karena aku tidak tergerak untuk membantunya, aku duduk saja di ayunan.<\/p>\n<p>\u201cOke pertanyaan kedua. Sejak kapan kamu jadi romantish?\u201d<\/p>\n<p>\u201cSebenernya saya kan romantic by nature. Saya pikir kamu nggak suka hal yang kekeju-kejuan gitu jadi ya nggak saya praktekin\u201d.<\/p>\n<p>\u201cHmmm, romantic by nature\u201d, aku mengangguk-angguk.<\/p>\n<p>\u201cEh! Romantic by nature bukan berarti saya punya sepuluh mantan dan terbiasa ngasih-ngasih kejutan dan ngegombal ke mereka ya\u201d, ia memasang tampang serius. Lucu sekali.<\/p>\n<p>\u201cMhhahaha. Emang kamu punya berapa mantan?\u201d, naluri penyelidik datang.<\/p>\n<p>\u201cAre we doing THE TALK, now? Hahahaha\u201d.<\/p>\n<p>\u201cYes. Please answer truthfully\u201d.<\/p>\n<p>\u201cOke. Satu\u201d.<\/p>\n<p>\u201cBohong Belaka!\u201d<\/p>\n<p>\u201cJujur. Pas sma, kelas satu sampe kelas tiga\u201d.<\/p>\n<p>\u201cBohooong!\u201d.<\/p>\n<p>\u201cJujuuur. Namanya anggita jasmin\u201d.<\/p>\n<p>\u201cPutusnya kenapa?\u201d<\/p>\n<p>\u201cDitinggal\u201d.<\/p>\n<p>\u201cKenapa?\u201d<\/p>\n<p>\u201cNggak pernah tau kenapa\u201d.<\/p>\n<p>\u201cKenapa nggak nyari tau?\u201d<\/p>\n<p>\u201cNggak pengen tau\u201d.<\/p>\n<p>\u201cAnggita jasminnya sekarang dimana?\u201d<\/p>\n<p>\u201cDi Bandung\u201d.<\/p>\n<p>\u201cJadi itu alasan kenapa kamu seumur-umur belum dan nggak pengen ke bandung sebelum liburan yang kemaren itu?\u201d<\/p>\n<p>Alyo diam. Suasana menjadi tidak nyaman dan aku menyesal sudah bertanya. Selama beberapa menit yang terdengar hanya suara semburan air dari selang.<\/p>\n<p>Swusshh swuussshhh. (oke. stop playing with sound effect, kalin!)<\/p>\n<p>\u201cYours?\u201d, untungnya Alyo buka suara lagi.<\/p>\n<p>\u201cDua belas! Rocks! Wuahahahha\u201d.<\/p>\n<p>\u201cPaling lama sebulan ya? Ketebak banget!\u201d<\/p>\n<p>\u201cEnak aja setauuun wee\u201d.<\/p>\n<p>\u201cSama siapa?\u201d<\/p>\n<p>GULP. Aku menelan ludah. Berkeringat dingin. Bergelagat seperti pencuri ayam.<\/p>\n<p>\u201cJangan marah ya\u201d, bujukku (sok) imut.<\/p>\n<p>\u201cKenapa harus marah?\u201d<\/p>\n<p>\u201cKarna saya pernah ngenalin orang itu ke kamu\u201d.<\/p>\n<p>Alyo berpikir dan menggeleng. Tidak ingat rupanya.<\/p>\n<p>\u201cItu lho, yang Jil Jil itu\u201d.<\/p>\n<p>Maaf Jil, aku terpaksa mengakuinya se-kasual mungkin. Ihiks.<\/p>\n<p>\u201cItu bukannya sepupu kamu?\u201d, suara Alyo dibuat-buat tenang. Tapi aku menangkap nada lain. Semacam nada tinggi? Nada marah? Nada menyembunyikan emosi?<\/p>\n<p>\u201cSetelah putus kan saya tetep temenan. Dan dia udah dianggap kayak bagian keluarga. He\u2019s like an older brother for me\u201d.<\/p>\n<p>\u201cPutusnya kenapa?\u201d<\/p>\n<p>\u201cKarna enakan temenan\u201d.<\/p>\n<p>\u201cEmangnya Jil anaknya gimana?\u201d, Alyo bertanya tanpa melihat ke arahku. Dia sibuk mencabut-cabut rumput liar yang tumbuh merambat di sekitar keran.<\/p>\n<p>\u201cBaik paraaah. Ganteng paraaah. Jorok. Suka cabut kelas, cabut bimbel, cabut upacara seenak hati. Pinter paraaah. Mendekati jenius. Rela dicurhatin berjam-jam di ruang tamu tapi sampe pulang nggak dibikinin minum. Partner in crime pas ulangan kimia. Anak kesayangan kepala sekolah, dipanggil ke kantor kepsek udah nggak keitung berapa kali tapi nggak pernah kena poin. Suka bantuin Ibu nganterin kueh pesenan orang pas lebaran. Pernah dilempar bapak pake asbak. Pernah ngadoin bapak bibit taneman. Pernah nanem bibit bareng bapak. Gitu lah\u201d.<\/p>\n<p>\u201cOh\u201d.<\/p>\n<p>Dan setelah Oh itu Alyo tidak banyak berkata-kata. Kami ke pasar. Aku masak. Kami makan siang. Aku cuci piring. Dia mengelap piring basah. Aku naik ke kamar. Dan dia masuk studio.<\/p>\n<p>Asdfghjkl. Kali ini salahku apa lagi?? HAH?? HAH???? *tak sadar diri*<\/p>\n<p>ps: mohon jangan melambung karena deskripsi di atas dibuat semata-mata untuk membuat Alyo panas. Dan berhasil. Memulai perang dingin. *sigh* *toyor aku*<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dua belas hari. bagian sebelas. Kinsia Eyusa Merry Selamat sore, mr. Jil. Bagaimana kakinya? Daridulu kau memang tidak pernah beruntung kalau berhadapan dengan bola. Terkilir, ter-tackle, tersikut, etc. Kasihan \ud83d\ude1b Oke, kembali ke laptop. Akhirnya malam itu aku ikut Alyo kembali ke rumahnya. Kami sampai pukul satu malam dan aku rebah saking capeknya. Dan pagi-pagi, aku menyadari sesuatu. Ada benda-benda baru yang sebelumnya tidak ada di kamarku. Sepasang sendal rumah, meja belajar garis miring meja rias (karena ada rak buku dan cermin diatasnya), dan lampu tidur ikan-ikan berputar seperti di film petualangan sherina! Waw! Itu belum apa-apa, Jil. Diatas benda-benda baru tersebut, ada tempelan kertas kecil bertuliskan: WELCOME HOME! ^^ Aku speechless. Hahahaha. Aku lalu turun tangga pelan-pelan, berusaha membuat seminimal mungkin kebisingan, dan langsung menuju dapur. Yah mungkin saja ada sesuatu yang bisa kugarap untuk sarapan. Di atas meja dapur ada roti tawar dan selai. Hm, tidak. Ini terlalu biasa. Bosan. Selanjutnya aku memeriksa kulkas. Dan terkejut. Kulkas penuh. Beberapa kotak susu, sayur-sayuran, telur, dan bermacam-macam buah, tertata rapi dan tampak baru dibeli. Di dalam freezer ada tiga kotak es krim yang terdiri dari vanila, coklat, dan strawberi. Aku tertawa-tawa senang. Tapi sejenak kemudian, aku berhenti tertawa. Di tutup kotak es krim, kutemukan tempelan kertas kecil yang sama: WELCOME HOME! ^^ Dug, dug, dug. Aku menggedor kamar Alyo. PS: ayolaah kita sudah terlalu sering pakai sound effect tok tok tok. Mukanya sumringah. Sudah mandi, sudah wangi dan sudah sisiran. Huh, soal ini aku memang tak pernah menang. \u201cSaya punya dua pertanyaan\u201d, ujarku semena-mena. \u201cHmm\u201d, Alyo menutup pintu kamarnya dan bergerak menuju taman belakang. Aku mengekor di belakangnya. \u201cPertama, soal benda-benda welcome home itu. Darimana kamu tau kalau kemaren saya bakal nurut dibawa pulang? Kan saya bisa aja nolak?\u201d \u201cOhh itu. Sebenernya itu nyiapinnya udah dari seminggu yang lalu. Saya pikir setelah pulang dari rumah sakit kamu bakal langsung dianter kesini. Saya nunggu sampe sore, nggak ada berita. Terus saya telfon ke rumah kamu yang ngangkat bapak. Dan disitulah bapak bilang jangan kesini duluuu, kalinnya masih emosi, nanti kalau sudah reda bapak kabariin, dan sebagainya. Seminggu kemudian, krik krik\u201d. \u201cHahahahahhaa bapak pasti lupa laaah yang detail-detail gitu\u201d. \u201cHaha salah saya juga sih nggak ngingetin\u201d. Alyo mulai menyirami tanaman dengan rajin. Karena aku tidak tergerak untuk membantunya, aku duduk saja di ayunan. \u201cOke pertanyaan kedua. Sejak kapan kamu jadi romantish?\u201d \u201cSebenernya saya kan romantic by nature. Saya pikir kamu nggak suka hal yang kekeju-kejuan gitu jadi ya nggak saya praktekin\u201d. \u201cHmmm, romantic by nature\u201d, aku mengangguk-angguk. \u201cEh! Romantic by nature bukan berarti saya punya sepuluh mantan dan terbiasa ngasih-ngasih kejutan dan ngegombal ke mereka ya\u201d, ia memasang tampang serius. Lucu sekali. \u201cMhhahaha. Emang kamu punya berapa mantan?\u201d, naluri penyelidik datang. \u201cAre we doing THE TALK, now? Hahahaha\u201d. \u201cYes. Please answer truthfully\u201d. \u201cOke. Satu\u201d. \u201cBohong Belaka!\u201d \u201cJujur. Pas sma, kelas satu sampe kelas tiga\u201d. \u201cBohooong!\u201d. \u201cJujuuur. Namanya anggita jasmin\u201d. \u201cPutusnya kenapa?\u201d \u201cDitinggal\u201d. \u201cKenapa?\u201d \u201cNggak pernah tau kenapa\u201d. \u201cKenapa nggak nyari tau?\u201d \u201cNggak pengen tau\u201d. \u201cAnggita jasminnya sekarang dimana?\u201d \u201cDi Bandung\u201d. \u201cJadi itu alasan kenapa kamu seumur-umur belum dan nggak pengen ke bandung sebelum liburan yang kemaren itu?\u201d Alyo diam. Suasana menjadi tidak nyaman dan aku menyesal sudah bertanya. Selama beberapa menit yang terdengar hanya suara semburan air dari selang. Swusshh swuussshhh. (oke. stop playing with sound effect, kalin!) \u201cYours?\u201d, untungnya Alyo buka suara lagi. \u201cDua belas! Rocks! Wuahahahha\u201d. \u201cPaling lama sebulan ya? Ketebak banget!\u201d \u201cEnak aja setauuun wee\u201d. \u201cSama siapa?\u201d GULP. Aku menelan ludah. Berkeringat dingin. Bergelagat seperti pencuri ayam. \u201cJangan marah ya\u201d, bujukku (sok) imut. \u201cKenapa harus marah?\u201d \u201cKarna saya pernah ngenalin orang itu ke kamu\u201d. Alyo berpikir dan menggeleng. Tidak ingat rupanya. \u201cItu lho, yang Jil Jil itu\u201d. Maaf Jil, aku terpaksa mengakuinya se-kasual mungkin. Ihiks. \u201cItu bukannya sepupu kamu?\u201d, suara Alyo dibuat-buat tenang. Tapi aku menangkap nada lain. Semacam nada tinggi? Nada marah? Nada menyembunyikan emosi? \u201cSetelah putus kan saya tetep temenan. Dan dia udah dianggap kayak bagian keluarga. He\u2019s like an older brother for me\u201d. \u201cPutusnya kenapa?\u201d \u201cKarna enakan temenan\u201d. \u201cEmangnya Jil anaknya gimana?\u201d, Alyo bertanya tanpa melihat ke arahku. Dia sibuk mencabut-cabut rumput liar yang tumbuh merambat di sekitar keran. \u201cBaik paraaah. Ganteng paraaah. Jorok. Suka cabut kelas, cabut bimbel, cabut upacara seenak hati. Pinter paraaah. Mendekati jenius. Rela dicurhatin berjam-jam di ruang tamu tapi sampe pulang nggak dibikinin minum. Partner in crime pas ulangan kimia. Anak kesayangan kepala sekolah, dipanggil ke kantor kepsek udah nggak keitung berapa kali tapi nggak pernah kena poin. Suka bantuin Ibu nganterin kueh pesenan orang pas lebaran. Pernah dilempar bapak pake asbak. Pernah ngadoin bapak bibit taneman. Pernah nanem bibit bareng bapak. Gitu lah\u201d. \u201cOh\u201d. Dan setelah Oh itu Alyo tidak banyak berkata-kata. Kami ke pasar. Aku masak. Kami makan siang. Aku cuci piring. Dia mengelap piring basah. Aku naik ke kamar. Dan dia masuk studio. Asdfghjkl. Kali ini salahku apa lagi?? HAH?? HAH???? *tak sadar diri* ps: mohon jangan melambung karena deskripsi di atas dibuat semata-mata untuk membuat Alyo panas. Dan berhasil. Memulai perang dingin. *sigh* *toyor aku*<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"wprm-recipe-roundup-name":"","wprm-recipe-roundup-description":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[37],"tags":[],"aioseo_notices":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/454"}],"collection":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=454"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/454\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=454"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=454"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=454"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}