{"id":500,"date":"2012-06-04T16:47:00","date_gmt":"2012-06-04T15:47:00","guid":{"rendered":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=500"},"modified":"2012-06-04T16:47:00","modified_gmt":"2012-06-04T15:47:00","slug":"ikut-konferensi-ilmiah-di-luar-negeri-keren-pikirkan-kembali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arifyoga.id\/?p=500","title":{"rendered":"Ikut konferensi ilmiah di luar negeri, Keren?! : Pikirkan Kembali !"},"content":{"rendered":"<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/--TNCQcbh0so\/T8zSCTQdLXI\/AAAAAAAAAHY\/paeqwEWttmI\/s1600\/493667_vb.jpg\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" src=\"http:\/\/1.bp.blogspot.com\/--TNCQcbh0so\/T8zSCTQdLXI\/AAAAAAAAAHY\/paeqwEWttmI\/s1600\/493667_vb.jpg\" \/><\/a><\/div>\n<p>Posted: September 26, 2011 by <b>Danang Ambar Prabowo<\/b>in Motivation and Inspiration<\/p>\n<p>Beberapa waktu terakhir saya jadi cukup sering mendapatkan email dari  mahasiswa di tanah air yang intinya adalah meminta saran atau bantuan  kepada saya mengenai keinginannya untuk bisa ikut konferensi  internasional di luar negeri khususnya: Jepang. Kendala yang mereka  hadapi adalah sama: GAK ADA DANA untuk berangkat. Well\u2026 tulisan kali ini  saya akan sedikit membahas mengenai fenomena: Bisa ikut konferensi di  luar negeri itu keren\u2026 benarkah demikian?<br \/>\nMungkin nantinya akan ada pro atau kontra terhadap tulisan saya ini.  Bagaimanapun itu sekiranya menanggapinya dengan kepala dingin dan  bijaksana, karena tulisan ini juga hanyalah buah pemikiran saya pribadi  yang sejak dari dulu ingin saya sampaikan.<br \/>\nSo\u2026 mari kita mulai\u2026 Bissmillah\u2026<\/p>\n<p>Apa yang tercetus dalam benak Anda (khususnya mahasiswa S1 di tanah  air, apalagi yang aktif di organisasi keilmiahan di kampusnya), ketika  membaca sebuah poster atau informasi dengan judul: CALL FOR PAPER ? Atau  \u201cundangan\u201d untuk menghadiri dan mempresentasikan tulisan di konferensi  ilmiah di LUAR NEGERI?<br \/>\nBagaimana perasaan Anda ketika tulisan abstraksi yang Anda kirimkan  diterima sebagai salah satu peserta konferensi tersebut? Bahagia itu  sangatlah wajar tentunya. Tapi tahukah Anda, untuk bisa diterima sebagai  presenter di sebuah konferensi ilmiah itu sebenarnya cukup \u201cmudah\u201d.<br \/>\nSayangnya, banyak mahasiswa S1 di tanah air yang seringkali salah  kaprah dan selalu menanggapi sebuah \u201cundangan konferensi ilmiah\u201d  misalnya poster Call for Papers sebagai sebuah ajang kompetisi  perlombaan layaknya Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM), PIMNAS,  Mawapres, dan lainnya\u2026 padahal pada kenyataannya tidak selalu! Alhasil,  banyak yang ketika tulisannya \u201cditerima\u201d oleh panitia sebagai salah satu  presenternya, mereka berpikir bahwa mereka adalah orang-orang special  yang terpilih\u2026 para juara atau pemenang\u2026 padahal bisa saja tidak  demikian.<br \/>\nSecara garis besar, saya membagi jenis ajang konferensi ilmiah  menjadi dua. Yang pertama, konferensi ilmiah yang sifatnya memang untuk  kompetisi dan perlombaan. Yang nantinya akan jelas ada pemenang atau  juaranya. Misalnya PKM pada ajang PIMNAS, LKTM, atau ajang penulisan  ilmiahnya.<br \/>\nYang kedua, ajang konferensi ilmiah yang tujuannya adalah murni  sebuah seminar atau \u201ckuliah\u201d dari masing-masing pesertanya yang  bertujuan untuk saling berbagi informasi atau melaporkan kemajuan  tentang bidang yang tengah ia teliti dan tekuni. Tak ada pemenang atau  juara di sini, karena memang sifatnya bukanlah sebuah kompetisi. Jikapun  ada \u201ckompetisi\u201d maka sifatnya adalah kompetisi dalam hal kemajuan hasil  penilitian, bukan untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang  kalah. Nah, konferensi ilmiah jenis kedua inilah yang paling sering  diadakan di dalam dan luar negeri, dan sering salah kaprah dimengerti  oleh mahasiswa sebagai ajang perlombaan.<br \/>\nApa yang membedakan keduanya? Berdasarkan pengalaman saya, perbedaan  utama adalah mengenai proses seleksi tulisan yang nantinya bisa ikut  atau tidak dalam masing-masing ajang tersebut. Pada konferensi ilmiah  jenis kompetisi, tidak semua calon peserta yang mengirimkan tulisannya  akan diterima sebagai peserta konferensi. Ada mekanisme seleksi dari  panitia, karena memang tujuannya adalah untuk menentukan yang terbaik  sebagai pemenangnya. Biasanya konferensi yang sifatnya kompetisi seperti  inilah yang dulu sering saya cari\u2026 selain bisa untuk \u201cmenantang\u201d dan  mengukur kemampuan diri dan belajar dari para competitor lainnya \u2026 juga  karena transport dan akomodasinya akan ditanggung oleh panitia.<br \/>\nNah, untuk jenis konferensi ilmiah yang tujuannya adalah murni untuk  \u201cmelaporkan\u201d kemajuan hasil penelitiannya, hampir seluruh calon peserta  yang mengirimkan abstraksi tulisannya akan diterima sebagai pesertanya,  selama memang sesuai dengan tema konferensi yang diberikan panitia.  Karena tidak ada dan tidak perlu untuk menentukan siapa pemenang dalam  ajang tersebut. Anda tidak percaya? Silakan Anda mencoba mengirimkan  berbagai tulisan abstraksi Anda yang sesuai dengan tema konferensi  kepada panitia yang menyebarkan \u201cundangan\u201d: Call For Papers\u2026 insya  Allah\u2026 kemungkinan besar Anda akan diterima sebagai pesertanya\u2026 paling  tidak demikian yang pernah sering saya coba\u2026<br \/>\nMasing-masing peserta diberikan haknya untuk melaporkan kemajuan  hasil penelitiannya dan bertanggungjawab penuh terhadap hal tersebut  selama presentasinya. Atau dalam hal ini\u2026 baik atau kurang baiknya hasil  penelitiannya ditentukan oleh peserta lain yang hadir dalam  presentasinya. Dengan kata lain\u2026 jika tulisan Anda hanyalah tulisan yang  berbasis studi pustaka atau menggunakan data sekunder dan bukan murni  hasil penelitian Anda\u2026 hmm\u2026 siap-siap saja untuk \u201ctidak mendapat  tanggapan dari orang lain\u201d atau lebih parah\u2026 Anda akan \u201cdibantai\u201d  habis-habisan di sebuah forum ilmiah internasional tersebut\u2026<br \/>\nSo, penting sekali untuk bisa membedakan kedua jenis konferensi yang  saya maksud di atas\u2026 dan bukan sekedar ingin berpartisipasi di dalamnya  karena alasan klasik \u201csekedar mencoba dan cari pengalaman\u201d\u2026 semuanya  perlu disiapkan dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan pengalaman  terbaik pula.<br \/>\nPerbedaan yang kedua adalah mengenai \u201ctransportasi dan  akomodasi\u201d-nya. Untuk konferensi yang bersifat kompetisi, biasanya  panitia akan menyiapkan sebagian atau seluruh transportasi dan akomodasi  selama berlangsungnya acara. Jadi peserta yang lolos hanya perlu  menanggung sebagian biaya atau bahkan tidak perlu sama sekali membayar  apapun untuk ajang konferensi. Hal ini wajar karena pesertanya adalah  mereka yang terpilih dan biasanya jumlahnya tidak terlalu besar sehingga  panitia masih bisa menanggung transportasi dan akomodasinya.<br \/>\nSementara konferensi ilmiah yang sifatnya adalah seminar dan  pesertanya terbuka untuk semua orang tanpa seleksi yang seketat kegiatan  kompetisi, biasanya transportasi dan akomodasinya ditanggung oleh  peserta sendiri. Hanya kadang panitia membantu mencarikan info mengenai  transport dan akomodasi. Hal ini wajar, karena yang perlu untuk  \u201cmelaporkan\u201d hasil penelitiannya adalah peserta itu sendiri. Panitia  hanya memfasilitasi untuk keperluan pelaporan hasil kemajuan penelitian  tersebut. Bagi seorang ilmuwan, konferensi ilmiah seperti ini memang  diperlukan agar ia mendapatkan masukan dan info terbaru tentang berbagai  penelitian yang berkaitan dengan bidangnya. Sehingga mengeluarkan uang  dari sakunya sendiri bukanlah suatu kendala.<br \/>\nNamun, seringkali transportasi dan akomodasi inilah yang kemudian  menjadi \u201cmasalah\u201d bagi peserta yang sebelumnya sudah salah kaprah dalam  euphoria karena beranggapan bahwa dirinya sebentar lagi akan bisa ke  luar negeri untuk mewakili universitas atau Indonesia dan berpartisipasi  dalam ajang konferensi internasional. Gengsi\u2026 itulah awal dari  timbulnya masalah!<br \/>\nAkhirnya\u2026 ia sendiri kebingungan mau cari uang kemana? Ngajuin  proposal ke sana-kemari\u2026 atau bahkan sedikit ngotot \u201cminta atau nagih  bantuan\u201d padahal tak jarang justru waktu kuliahnya terabaikan untuk  mengatasi masalah ini. Untuk mereka yang bertanya kepada saya, bagaimana  mencari sponsor untuk ikut sebuah konferensi\u2026 jujur saya tidak tahu  caranya, karena saya sendiri belum pernah mengajukan proposal untuk  keperluan konferensi. Biasanya saya mengandalkan dana dari kampus atau  panitia\u2026 sekiranya tak ada dana untuk berangkat\u2026 saya tak akan  berangkat. Mungkin saya termasuk orang yang \u201cMALAS\u201d mencari dana melalui  proposal ke sana kemari\u2026 tapi ya begitulah saya&nbsp; <br \/>\nJika uang bukanlah masalah\u2026 tentu hal seperti ini tak akan jadi  masalah besar bagi Anda. Salahkah jika kemudian berusaha mencari DANA  untuk ikut dalam konferensi ilmiah? Well, saya tidak bisa menyalahkan  atau membenarkan karena\u2026 ada yang menganggapnya: \u201cNamanya juga usaha,  Mas\u2026\u201d semuanya dikembalikan pada masing-masing individu.<br \/>\nTahukah Anda, konferensi ilmiah yang diadakan di luar negeri itu bisa  saja sebenarnya levelnya sama dengan konferensi atau seminar ilmiah  yang banyak diadakan oleh BEM atau berbagai kelembagaan di kampus-kampus  di Indonesia\u2026 hanya kebetulan saja konferensi yang di luar negeri itu  menang di: \u201cLUAR NEGERI\u201d-nya\u2026 \u201cPUBLIKASI BAHASA INGGRIS\u201d-nya\u2026 atau  menang karena ada nama-nama \u201cASING\u201d sebagai undangan atau keynote  speakernya\u2026<br \/>\nWell\u2026 di akhir tulisan ini saya hanya ingin kembali menegaskan, bahwa  sifat tulisan ini hanyalah masukan alternatif yang saya ambil dari  sudut pandang lain, Anda boleh saja berbeda pikiran dengan saya, tak ada  salahnya. Yang jelas pikirkan kembali urgensi perlunya Anda ikut sebuah  konferensi ilmiah di \u201cluar negeri\u201d\u2026 Jika uang bukanlah kendala, misal  karena Anda punya tabungan yang cukup atau kampus Anda yang membiayai,  maka tentu tak terlalu perlu Anda merasa risau\u2026 namun sekiranya kemudian  Anda harus pontang-panting mencari dana untuk transport dan akomodasi\u2026  pikirkan kembali apakah usaha itu akan sesuai dengan hasil yang Anda  dapatkan nantinya atau tidak\u2026<br \/>\nPikirkan pula\u2026 apakah materi yang akan Anda presentasikan nantinya  memang layak dipresentasikan\u2026 dalam artian misalnya: Materi  presentasinya memang merupakan data asli (primer) dari hasil penelitian  yang Anda lakukan sendiri\u2026 Jangan sampai di sana nantinya justru  \u201cmalu-maluin\u201d karena materi presentasi kita yang tak sesuai dengan level  yang diharapkan panitia\u2026<br \/>\nJangan sampai Anda berangkat ke sebuah konferensi ilmiah di luar  negeri dari dana orang lain dan dengan ekspektasi yang terlampau  \u201ctinggi\u201d namun sekembalinya ke tanah air\u2026 Anda jadi semakin terbebani  dengan bagaimana bertanggung jawab terhadap dana yang Anda dapatkan itu\u2026  apalagi jika sampai bermasalah dengan administrasi kuliah Anda sendiri\u2026<br \/>\nPertimbangkan dan rencanakan dengan sebaik-baiknya, untuk mendapatkan hasil yang terbaik&nbsp; <br \/>\nSekiranya ada kata-kata yang kurang berkenang, saya mohon maaf sebelumnya\u2026 Semoga bermanfaat.<br \/>\nGanbarou!!!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Posted: September 26, 2011 by Danang Ambar Prabowoin Motivation and Inspiration Beberapa waktu terakhir saya jadi cukup sering mendapatkan email dari mahasiswa di tanah air yang intinya adalah meminta saran atau bantuan kepada saya mengenai keinginannya untuk bisa ikut konferensi internasional di luar negeri khususnya: Jepang. Kendala yang mereka hadapi adalah sama: GAK ADA DANA untuk berangkat. Well\u2026 tulisan kali ini saya akan sedikit membahas mengenai fenomena: Bisa ikut konferensi di luar negeri itu keren\u2026 benarkah demikian? Mungkin nantinya akan ada pro atau kontra terhadap tulisan saya ini. Bagaimanapun itu sekiranya menanggapinya dengan kepala dingin dan bijaksana, karena tulisan ini juga hanyalah buah pemikiran saya pribadi yang sejak dari dulu ingin saya sampaikan. So\u2026 mari kita mulai\u2026 Bissmillah\u2026 Apa yang tercetus dalam benak Anda (khususnya mahasiswa S1 di tanah air, apalagi yang aktif di organisasi keilmiahan di kampusnya), ketika membaca sebuah poster atau informasi dengan judul: CALL FOR PAPER ? Atau \u201cundangan\u201d untuk menghadiri dan mempresentasikan tulisan di konferensi ilmiah di LUAR NEGERI? Bagaimana perasaan Anda ketika tulisan abstraksi yang Anda kirimkan diterima sebagai salah satu peserta konferensi tersebut? Bahagia itu sangatlah wajar tentunya. Tapi tahukah Anda, untuk bisa diterima sebagai presenter di sebuah konferensi ilmiah itu sebenarnya cukup \u201cmudah\u201d. Sayangnya, banyak mahasiswa S1 di tanah air yang seringkali salah kaprah dan selalu menanggapi sebuah \u201cundangan konferensi ilmiah\u201d misalnya poster Call for Papers sebagai sebuah ajang kompetisi perlombaan layaknya Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM), PIMNAS, Mawapres, dan lainnya\u2026 padahal pada kenyataannya tidak selalu! Alhasil, banyak yang ketika tulisannya \u201cditerima\u201d oleh panitia sebagai salah satu presenternya, mereka berpikir bahwa mereka adalah orang-orang special yang terpilih\u2026 para juara atau pemenang\u2026 padahal bisa saja tidak demikian. Secara garis besar, saya membagi jenis ajang konferensi ilmiah menjadi dua. Yang pertama, konferensi ilmiah yang sifatnya memang untuk kompetisi dan perlombaan. Yang nantinya akan jelas ada pemenang atau juaranya. Misalnya PKM pada ajang PIMNAS, LKTM, atau ajang penulisan ilmiahnya. Yang kedua, ajang konferensi ilmiah yang tujuannya adalah murni sebuah seminar atau \u201ckuliah\u201d dari masing-masing pesertanya yang bertujuan untuk saling berbagi informasi atau melaporkan kemajuan tentang bidang yang tengah ia teliti dan tekuni. Tak ada pemenang atau juara di sini, karena memang sifatnya bukanlah sebuah kompetisi. Jikapun ada \u201ckompetisi\u201d maka sifatnya adalah kompetisi dalam hal kemajuan hasil penilitian, bukan untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Nah, konferensi ilmiah jenis kedua inilah yang paling sering diadakan di dalam dan luar negeri, dan sering salah kaprah dimengerti oleh mahasiswa sebagai ajang perlombaan. Apa yang membedakan keduanya? Berdasarkan pengalaman saya, perbedaan utama adalah mengenai proses seleksi tulisan yang nantinya bisa ikut atau tidak dalam masing-masing ajang tersebut. Pada konferensi ilmiah jenis kompetisi, tidak semua calon peserta yang mengirimkan tulisannya akan diterima sebagai peserta konferensi. Ada mekanisme seleksi dari panitia, karena memang tujuannya adalah untuk menentukan yang terbaik sebagai pemenangnya. Biasanya konferensi yang sifatnya kompetisi seperti inilah yang dulu sering saya cari\u2026 selain bisa untuk \u201cmenantang\u201d dan mengukur kemampuan diri dan belajar dari para competitor lainnya \u2026 juga karena transport dan akomodasinya akan ditanggung oleh panitia. Nah, untuk jenis konferensi ilmiah yang tujuannya adalah murni untuk \u201cmelaporkan\u201d kemajuan hasil penelitiannya, hampir seluruh calon peserta yang mengirimkan abstraksi tulisannya akan diterima sebagai pesertanya, selama memang sesuai dengan tema konferensi yang diberikan panitia. Karena tidak ada dan tidak perlu untuk menentukan siapa pemenang dalam ajang tersebut. Anda tidak percaya? Silakan Anda mencoba mengirimkan berbagai tulisan abstraksi Anda yang sesuai dengan tema konferensi kepada panitia yang menyebarkan \u201cundangan\u201d: Call For Papers\u2026 insya Allah\u2026 kemungkinan besar Anda akan diterima sebagai pesertanya\u2026 paling tidak demikian yang pernah sering saya coba\u2026 Masing-masing peserta diberikan haknya untuk melaporkan kemajuan hasil penelitiannya dan bertanggungjawab penuh terhadap hal tersebut selama presentasinya. Atau dalam hal ini\u2026 baik atau kurang baiknya hasil penelitiannya ditentukan oleh peserta lain yang hadir dalam presentasinya. Dengan kata lain\u2026 jika tulisan Anda hanyalah tulisan yang berbasis studi pustaka atau menggunakan data sekunder dan bukan murni hasil penelitian Anda\u2026 hmm\u2026 siap-siap saja untuk \u201ctidak mendapat tanggapan dari orang lain\u201d atau lebih parah\u2026 Anda akan \u201cdibantai\u201d habis-habisan di sebuah forum ilmiah internasional tersebut\u2026 So, penting sekali untuk bisa membedakan kedua jenis konferensi yang saya maksud di atas\u2026 dan bukan sekedar ingin berpartisipasi di dalamnya karena alasan klasik \u201csekedar mencoba dan cari pengalaman\u201d\u2026 semuanya perlu disiapkan dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan pengalaman terbaik pula. Perbedaan yang kedua adalah mengenai \u201ctransportasi dan akomodasi\u201d-nya. Untuk konferensi yang bersifat kompetisi, biasanya panitia akan menyiapkan sebagian atau seluruh transportasi dan akomodasi selama berlangsungnya acara. Jadi peserta yang lolos hanya perlu menanggung sebagian biaya atau bahkan tidak perlu sama sekali membayar apapun untuk ajang konferensi. Hal ini wajar karena pesertanya adalah mereka yang terpilih dan biasanya jumlahnya tidak terlalu besar sehingga panitia masih bisa menanggung transportasi dan akomodasinya. Sementara konferensi ilmiah yang sifatnya adalah seminar dan pesertanya terbuka untuk semua orang tanpa seleksi yang seketat kegiatan kompetisi, biasanya transportasi dan akomodasinya ditanggung oleh peserta sendiri. Hanya kadang panitia membantu mencarikan info mengenai transport dan akomodasi. Hal ini wajar, karena yang perlu untuk \u201cmelaporkan\u201d hasil penelitiannya adalah peserta itu sendiri. Panitia hanya memfasilitasi untuk keperluan pelaporan hasil kemajuan penelitian tersebut. Bagi seorang ilmuwan, konferensi ilmiah seperti ini memang diperlukan agar ia mendapatkan masukan dan info terbaru tentang berbagai penelitian yang berkaitan dengan bidangnya. Sehingga mengeluarkan uang dari sakunya sendiri bukanlah suatu kendala. Namun, seringkali transportasi dan akomodasi inilah yang kemudian menjadi \u201cmasalah\u201d bagi peserta yang sebelumnya sudah salah kaprah dalam euphoria karena beranggapan bahwa dirinya sebentar lagi akan bisa ke luar negeri untuk mewakili universitas atau Indonesia dan berpartisipasi dalam ajang konferensi internasional. Gengsi\u2026 itulah awal dari timbulnya masalah! Akhirnya\u2026 ia sendiri kebingungan mau cari uang kemana? Ngajuin proposal ke sana-kemari\u2026 atau bahkan sedikit ngotot \u201cminta atau nagih bantuan\u201d padahal tak jarang justru waktu kuliahnya terabaikan untuk mengatasi masalah ini. Untuk mereka yang bertanya kepada saya, bagaimana mencari sponsor untuk ikut sebuah konferensi\u2026 jujur saya tidak tahu caranya, karena saya sendiri belum pernah mengajukan proposal untuk keperluan konferensi. Biasanya saya mengandalkan dana dari kampus atau panitia\u2026 sekiranya tak ada dana untuk berangkat\u2026 saya tak akan berangkat. Mungkin saya termasuk orang yang \u201cMALAS\u201d mencari dana melalui proposal ke sana kemari\u2026 tapi ya begitulah saya&nbsp; Jika uang bukanlah masalah\u2026 tentu hal seperti ini tak akan jadi masalah besar bagi Anda. Salahkah jika kemudian berusaha mencari DANA untuk ikut dalam konferensi ilmiah? Well, saya tidak bisa menyalahkan atau membenarkan karena\u2026 ada yang menganggapnya: \u201cNamanya juga usaha, Mas\u2026\u201d semuanya dikembalikan pada masing-masing individu. Tahukah Anda, konferensi ilmiah yang diadakan di luar negeri itu bisa saja sebenarnya levelnya sama dengan konferensi atau seminar ilmiah yang banyak diadakan oleh BEM atau berbagai kelembagaan di kampus-kampus di Indonesia\u2026 hanya kebetulan saja konferensi yang di luar negeri itu menang di: \u201cLUAR NEGERI\u201d-nya\u2026 \u201cPUBLIKASI BAHASA INGGRIS\u201d-nya\u2026 atau menang karena ada nama-nama \u201cASING\u201d sebagai undangan atau keynote speakernya\u2026 Well\u2026 di akhir tulisan ini saya hanya ingin kembali menegaskan, bahwa sifat tulisan ini hanyalah masukan alternatif yang saya ambil dari sudut pandang lain, Anda boleh saja berbeda pikiran dengan saya, tak ada salahnya. Yang jelas pikirkan kembali urgensi perlunya Anda ikut sebuah konferensi ilmiah di \u201cluar negeri\u201d\u2026 Jika uang bukanlah kendala, misal karena Anda punya tabungan yang cukup atau kampus Anda yang membiayai, maka tentu tak terlalu perlu Anda merasa risau\u2026 namun sekiranya kemudian Anda harus pontang-panting mencari dana untuk transport dan akomodasi\u2026 pikirkan kembali apakah usaha itu akan sesuai dengan hasil yang Anda dapatkan nantinya atau tidak\u2026 Pikirkan pula\u2026 apakah materi yang akan Anda presentasikan nantinya memang layak dipresentasikan\u2026 dalam artian misalnya: Materi presentasinya memang merupakan data asli (primer) dari hasil penelitian yang Anda lakukan sendiri\u2026 Jangan sampai di sana nantinya justru \u201cmalu-maluin\u201d karena materi presentasi kita yang tak sesuai dengan level yang diharapkan panitia\u2026 Jangan sampai Anda berangkat ke sebuah konferensi ilmiah di luar negeri dari dana orang lain dan dengan ekspektasi yang terlampau \u201ctinggi\u201d namun sekembalinya ke tanah air\u2026 Anda jadi semakin terbebani dengan bagaimana bertanggung jawab terhadap dana yang Anda dapatkan itu\u2026 apalagi jika sampai bermasalah dengan administrasi kuliah Anda sendiri\u2026 Pertimbangkan dan rencanakan dengan sebaik-baiknya, untuk mendapatkan hasil yang terbaik&nbsp; Sekiranya ada kata-kata yang kurang berkenang, saya mohon maaf sebelumnya\u2026 Semoga bermanfaat. Ganbarou!!!<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"wprm-recipe-roundup-name":"","wprm-recipe-roundup-description":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[31],"tags":[],"aioseo_notices":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/500"}],"collection":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=500"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/500\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=500"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=500"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arifyoga.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=500"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}