-
Puisi Lebay
Kenapa laut memiliki ombak, tapi aku tak bisa memiliki dia? Aduhai, kenapa langit punya awan putih bergumpal-gumpal lembut tapi aku tak punya dia? Kenapa bunga disukai kumbang, tapi dia tidak suka aku? Wahai, kenapa kereta berjalan di atas rel, tapi dia tidak mau berjalan di atas kehidupanku? Kenapa cincin berjodoh dengan jari manis, tapi dia tidak mau menjadikanku jari manisnya? Kenapa mi suka bersama bakso dalam mangkuk, tapi dia tak suka bersamaku di mana pun–apalagi di mangkuk? Kenapa untuk menulis “lengkap” harus ada huruf “k”-nya, atau nanti jadi “lengap”, tapi dia tidak mau jadi huruf apa pun untuk melengkapiku? Padahal lalat saja selalu nempel di tumpukan sampah Dia tidak mau…
-
Sajak “Jangan Habiskan”
Kawan, jangan habiskan air mata untuk menangisi seseorang, yang jangan-jangan tidak pernah menangis untuk kita. Jangan habiskan waktu untuk memikirkan seseorang, yang boleh jadi tidak pernah memikirkan kita. Hidup ini memang kadang ganjil sekali. Ada miliaran orang, tapi kita menambatkan satu hati. Ada berjuta kesempatan, tapi kita memilih satu saja. Hidup ini memang kadang rumit sekali. Ada banyak hari esok, tapi kita tetap tidak beranjak. Terlalu banyak hari kemarin, tapi kita terus terbenam. Aduhai, hidup ini memang kadang menyebalkan sekali. Ada begitu banyak tempat, tapi kita masih di situ-situ saja. Ada begitu banyak pilihan kendaraan, tapi kita tidak segera naik. Masih saja di sana. Menatap kosong kesibukan sekitar. Sungguh, jangan…
-
Rahasia Kecil
Kalau kita ingin tahu bersih tidaknya sebuah gedung, lihatlah toiletnya. Kalau kita ingin tahu sehat-tidaknya sebuah kamar, lihatlah seprai ranjangnya. Kalau kita ingin tahu warung makanan yang lezat, lihatlah pengunjungnya. Kalau kita mau tahu rahasia satu kompleks perumahan, tanyakanlah ke mamang sayur. Kalau kita mau tahu lantai-lantai gedung, tanyakanlah ke kurir surat. Kalau kita mau tahu jalan-jalan pintas, tanyakanlah ke tukang ojek. Dan terakhir, tentu saja, kalau kita mau tahu rahasia orang-orang yang sedang jatuh cinta, kelakuan ajaibnya, semua galaunya, maka tanyakanlah ke teman dekatnya. Ke sanalah semua rahasianya tumpah. Sadar atau tidak sadar. Sssssst, tapi ini rahasia kecil. Jangan bilang-bilang. –Kumpulan Sajak, Tere Liye src
-
Sepotong Bulan Untuk Berdua
Malam ini, Saat dikau menatap bulan, yakinlah kita melihat bulan yang sama, mensyukuri banyak hal, berterima-kasih atas segalanya.. Terutama atas kesempatan untuk saling mengenal, esok-pagi semoga semuanya dimudahkan.. Malam ini, Saat dikau menatap bulan, yakinlah kita menatap bulan yang satu, percaya atas kekuatan janji-janji masa depan, keindahan hidup sederhana, berbagi dan bekerja keras, Mencintai sekitar dengan tulus dan apa adanya.. Malam ini, Saat dikau menatap bulan, yakinlah kita menatap bulan itu, Semoga yang Maha memiliki langit memberikan kesempatan, suatu saat nanti, dengan segenap pemahaman baik, menjaga kehormatan perasaan kita menatap bulan, dari satu bingkai jendela.. ~Kumpulan Sajak, Tere Liye src
-
Sajak “Embun dan Perasaan”
Kenapa embun itu indah? Karena butir airnya tidak menetes Sekali dia menetes, tidak ada lagi embun. Kenapa purnama itu elok? Karena bulan balas menatap di angkasa Sekali dia bergerak, tidak ada lagi purnama. Aduhai, mengapa sunset menakjubkan? Karena matahari menggelayut malas di kaki langit Sekali dia melaju, hanya tersisa gelap dan debur ombak. Mengapa pagi menentramkan dan dingin? Karena kabut mengambang di sekitar Sekali dia menguap, tidak ada lagi pagi. Di dunia ini, Duhai, ada banyak sekali momen-momen terbaik Meski singkat, sekejap Yang jika belum terjadi langkah berikutnya Maka dia akan selalu spesial. Sama dengan kehidupan kita, perasaan kita Menyimpan perasaan itu indah Karena penuh misteri dan menduga Sekali dia…
-
Sajak “Saat Hujan”
Berteriaklah di depan air terjun tinggi, berdebam suaranya memekakkan telinga agar tidak ada yang tahu kau sedang berteriak Berlarilah di tengah padang ilalang tinggi, Pucuk-pucuknya lebih tinggi dari kepala agar tidak ada yang tahu kau sedang berlari Termenunglah di tengah senyapnya pagi, yang kicau burung pun hilang entah kemana agar tidak ada yang tahu kau sedang termangu Dan, menangislah saat hujan, ketika air membasuh wajah agar tidak ada yang tahu kau sedang menangis, Kawan Perasaan adalah perasaan, Tidak kita bagikan dia tetap perasaan Tidak kita sampaikan, ceritakan, dia tetap perasaan Tidak berkurang satu helai pun nilainya Tidak hilang satu daun pun dari tangkainya Perasaan adalah perasaan, Hidup bersamanya bukan kemalangan,…
-
Dikatakan atau tidak Dikatakan, itu Tetap Cinta
Dalam beberapa episode kedepan akan ada sajak-sajak dari buku Tere-Liye yang berjudul “kumpulan sajak” yang akan saya re-post melalui blog ini. Secara buku tersebut yang tidak setebal buku-buku TL lainnya namun harganya tak mau kalah dengan para pendahulunya #fiuh. So, bagi yang ingin menikmati sajak-sajak Tere-Liye bisa cek label “sajak” melalui tautan sebalah kanan blog ini. “Dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap Cinta” Judul buku ini waktu pertama kali lihat di Jogja Book Fair beberapa waktu lalu yang kemudian memutuskan untuk memboyongnya ke rumah untuk disatukan bersama koleksi TL-ku yang lain. Buku ini sempat bikin heboh dunia persilatan, #eh maksudnya dunia pendidikan dalam skala kelas yang saya ampu, karena ada…
-
Kopi Yang Tergantung
Sebuah perjalanan membawa dua orang sahabat hingga ke tepian sungai Venesia di Italia. Setelah mengunjungi beberapa tempat wisata keduanya ingin melepaskan lelah dan kepenatan, mengunjungi sebuah kafe untuk minum secangkir kopi, suatu hal yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Italia. Setelah memilih salah satu sudut yang nyaman untuk melepas kepenatan hari itu, keduanya memesan secangkir kopi ekspresso sambil mengamati para pengunjung lokal yang datang ke tempat tersebut. Selang beberapa waktu seorang laki-laki masuk untuk memesan kopinya. “Uno café, uno suspeso satu kopi, satu digantung”, demikian ucapnya. Lalu bartender menyerahkan secangkir kopi padanya dan menggantung secarik kertas di dinding. Laki-laki itu menghabiskan secangkir kopi yang dipesannya namun membayar dua cangkir…
-
Kemalasan yang (akhirnya) Dibayar Mahal
Pernah merasa menyesal atas kemalasan yang dilakukan oleh diri sendiri? Saya sedang. Secara, gara-gara malas ngerampungin revisi selama satu minggu harus saya bayar dengan harga tujuh ratus ribu rupiah,, – buat bayar SPP red. Mulai semester sepuluh ini sudah ada perjanjian tidak tertulis bahwa tidak ada lagi yang akan menanggung biaya kuliah selain saya sendiri. Ketika sebelumnya selama bertahun-tahun sekolah difasilitasi oleh orang tua, baru kerasa bener akhir-akhir ini beratnya ngeluarin uang sepuluh ribuan dari tabungan karena tau ngumpulin receh itu butuh perjuangan yang enggak ringan. Tapi saya memantapkan hati mulai tahun ini, awal tahun ini, pengeluaran selama sisa masa studi akan ditanggung pribadi. Salah satu cara saya untuk bertanggung…
-
Ramma, Lembah di Kaki Bawakaraeng
Tulisan ini dimuat dalam harian kompas Edisi 29 Januari 2015. Selamat Menikmati. Oleh : Reny Sri Ayu SENJA itu, ratusan pengunjung, sebagian besar pendaki, melepas lelah di Tallung, sebuah tempat di ketinggian berkisar 1.700-1.800 meter di atas permukaan laut. Dari Tallung, sejauh mata memandang terhampar pemandangan lembah hijau, pepohonan di lereng gunung, sungai-sungai yang meliuk-liuk, dan kabut. Awan berbagai bentuk yang seputih kapas di antara birunya langit, seolah-olah dalam jangkauan. Tampak pula tenda warna-warni di tengah-tengah lembah yang tersebar di antara sungai, tanah lapang, dan pepohonan. Pesona keindahan itu membayar impas, perjalanan mendaki dan menurun selama sekitar empat jam. Lembah yang tampak sejauh mata memandang itu adalah Lembah Ramma, di…













