-
Dua belas hari #15
Dua belas hari. Bagian lima belas. Kinsia Eyusa Merry Hei, Jil. Sepertinya mulai besok aku tidak akan sering-sering mengadu merengek melapor berbalas email denganmu lagi. Ini memang kenyataan yang pahit, tapi kau harus belajar menerimanya. *sorakan lega Jil dari kejauhan* Setelah menerima surat yang mengejutkan tersebut, aku duduk diam di sofa. Alyo masih di luar untuk beberapa lama, lalu akhirnya masuk dan duduk di sebelahku. Demi memperjuangkan kejelasan nasib, aku harus bicara. “Masa saya tinggal sendirian disini? Kan creepy”. Alyo mengernyit. “Ahahaha, enggaklah Kaliiin. Barusan saya reserve tempat di rumah Bapak. Malam ini juga Sasti move out dan mulai besok kamar kamu sepenuhnya kembali jadi milik kamu”. Ia pura-pura tersenyum,…
-
Dua belas hari #14
Dua belas hari. bagian empat belas Kinsia Eyusa Merry Jal. Jil. Jul. Ah, Jil, namamu tidak enak dijadikan tiga syllable. Tidak seperti Kan Kin Kun, Al El Dul atau Ba Bi Bu. Oh ya, bagaimana flunya? Sudah mendingan? Kan sudah kubilang, obat terbaik untuk flu-mu adalah menghirup kepulan asap sup yang baru matang. Apalagi kalau sup itu aku yang buat. Pasti Manjur, rek! Hihihi. Jil, hari ini aku curcol panjang lagi ya, seperti biasa. Apakah kau sudah lelah mendengarkan? Yah jangan dong. Anggap saja semua ceritaku real-time lesson yang bisa kau praktekkan di kemudian hari. Kudengar dari mamamu, kau dan Dina, sudah sangat serius. Ayo, kapan diresmikan? Eheheheheheh. Ternyata emang…
-
Dua belas hari #13
Dua belas hari. bagian tiga belas. Kinsia Eyusa Merry Jilguerooo!! Hari ini aku kembali ke sekolah! 🙂 Bayangkan Jil, pada hari pertama kuliah setelah bolos berkepanjangan gara-gara sakit, aku langsung dihadiahkan kuis! Untung, untung, untuuung, malem-malem sambil nunggu kabar berita Alyo yang tak kunjung datang, aku sempat membaca-baca fotokopian mata kuliah itu. Oh iya! Aku sedih Jil, pinjam bahu, huhuhu. Salah seorang dosen yang paling kufavoritkan, namanya Prof. Rita, mulai minggu depan akan pindah ke kalimantan, ngajar di Universitas Negeri di sana, ngikut suaminya pindah kerja. Tadi beliau spesial memanggilku ke ruangannya untuk bantu mengosongkan barang karna hari senin depan ruangan itu sudah mau ditempati orang. Aku perhatikan, beliau menyimpan…
-
Dua belas hari #12
Dua belas hari. Bagian dua belas. Kinsia Eyusa Merry Jil, siapkan mental untuk satu pertanyaan yang akan membuatmu tercengang, ternganga, termanggu, terguncang, dan sebagainya. Enggak Jil, jangan lompat ke paragraf terakhir, pertanyaannya nggak disitu. Baca saja email ini pelan-pelan. Nanti ketemu sendiri. Oke? Dari tulisanku kau pasti sudah menebak bahwa aku ada dalam kondisi on the ground. zero level. melantai. rapuh serapuh-rapuhnya #ecie Jil, jawab yang jujur ya, aku ini cenderung polos atau bodoh, sih? (Warning: Ini bukan pertanyaan ultimate! Ini cuma pop-up. Teruskan membaca) Tadi sore, akhirnya, dengan mengesampingkan segala gengsi, aku masuk ke studio mini. Ternampaklah pemandangan Alyo yang sedang nyoret-nyoret kertas partitur, memangku sebuah gitar akustik warna…
-
Dua belas hari #11
Dua belas hari. bagian sebelas. Kinsia Eyusa Merry Selamat sore, mr. Jil. Bagaimana kakinya? Daridulu kau memang tidak pernah beruntung kalau berhadapan dengan bola. Terkilir, ter-tackle, tersikut, etc. Kasihan 😛 Oke, kembali ke laptop. Akhirnya malam itu aku ikut Alyo kembali ke rumahnya. Kami sampai pukul satu malam dan aku rebah saking capeknya. Dan pagi-pagi, aku menyadari sesuatu. Ada benda-benda baru yang sebelumnya tidak ada di kamarku. Sepasang sendal rumah, meja belajar garis miring meja rias (karena ada rak buku dan cermin diatasnya), dan lampu tidur ikan-ikan berputar seperti di film petualangan sherina! Waw! Itu belum apa-apa, Jil. Diatas benda-benda baru tersebut, ada tempelan kertas kecil bertuliskan: WELCOME HOME! ^^…
-
Dua belas hari #10
dua belas hari. bagian sepuluh. Kinsia Eyusa Merry Jiiiiiiiiillllllllllllllllllllll!!!!!!!! Kemarin adalah hari bersejarah, Jil. Kau tahu kenapa? Kau pasti tidak tahu. Kau kan bukan cenayang, hahaha #random #abaikan Timbul pertanyaan di benak Jil. “Sebersejarah apa sih?” Tenang, Jil. Kau tak perlu menunggu lama untuk tahu jawabannya. Kemarin, tepat seminggu Alyo “hidup” tanpa kabar. Tanpa mengabariku. Boro-boro main ke rumah, minta maaf, bawa kueh atau balon-balon, KABAR saja tidak ada, Jil. Keterlaluaaan. Seharusnya aku senang, kan? Akhirnya kuperoleh kebebasanku kembali. Teman-teman angkatan silih berganti datang, beberapa bahkan menginap dan memfotokopikan catatan. Bapak dan Ibu membolehkanku jalan-jalan, walaupun tidak boleh jauh-jauh amat. Sore-sore aku main sepeda ke taman, lalu duduk mendinginkan badan…
-
Dua belas hari #9
Dua belas hari. bagian sembilan. Kinsia Eyusa Merry Jil, i’m home! :D/ Home here means home, literally, karena sekarang aku bersama bapak dan ibu, di rumah yang sebenar-benarnya rumah. Bagaimana dengan Alyo? Tidak tahu. Mungkin dia sedang sendirian di studionya yang nyaman. Peduli amat. Oh iya. Jangan marah ya. Aku bolos kuliah minggu pertama. Dan demi pemulihan, sepertinya bolos ini akan berlanjut seminggu lagi, hihihi. Kemarin di rumah sakit terjadi huru-hara. Padahal kondisiku sudah jauh mendingan, badan sudah tidak lemas, demam yang naik turun sudah berlalu, sudah berkeringat dan sudah diizinkan makan es krim. Eh, dia muncul. Aku baru bangun tidur siang, dan taraaa, dia sudah di sofa, mengupas jeruk…
-
Dua belas hari #8
Dua belas hari. bagian delapan. Kinsia Eyusa Merry Jil, bosan Jil disini. I miss home already. Disini makanannya huek, sepanjang hari juga disetelin acara tivi yang huek. Kadang-kadang ada suster yang ekpresinya jutek huek. Kenapa kau tidak menjengukku hah? Berapa lah jauhnya Surabaya jika dibandingkan dengan kemenderitaan dan kebosanan sahabatmu ini? 🙁 *merayu* Ibu pasti sudah kasih kabar kan Jil. Tifus Jil, seperti waktu kelas tiga SMA. Aku mulai nakal, iya tau. Kau kebelet menjewerku, iya tau. Tapi sepatutnya kau menjewer Alyo, bukan aku. Malam sebelum keberangkatannya ke Bali (untuk tujuan liburan dan senang-senang), aku tidak tidur. Tidak bisa, tidak mau, tidak capek, entahlah, badanku kan memang suka sok kuat.…
-
Quote
“Tentunya perempuan yang sering terjaga di akhir malam adalah “impian”.”
-
Pesan dari Abi di hari pernikahan putrinya »
1. sejujurnya, berat hatiku memberikan restu | bukan karena kurang budi lelaki yang kau pilih, melainkan betapa sepi abi ditinggal olehmu 2. bila abi harus memilih, tentu agar engkau berada disamping abi selamanya | namun abi pahami kau miliki kehidupan, abi hanya belum biasa 3. abi kenang saat kita bertamasya berdua, bercanda dan tertawa kelakar | walau tak ada satupun gambar merekam, ingatan abi belumlah pudar 4. ribuan kali abi berbicara hadapi ramai hadirin | tak sekalipun bibir abi kelu kecuali saat ini, saat engkau berhias putih pengantin 5. mungkin kau takkan pernah pahami, tapi serahkan putri yang telah kaujaga tetap salihah | percayalah itu bukan hal yang mudah 6.…



















